Perspektif Islam Tentang Pikir Dulu Sebelum Berkata Tidak

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Anak adalah amanah terindah dalam hidup karena itu perlakukan anak sebaik mungkin. Sebagai amanah, kita harus berbuat adil terhadap mereka sebagaimana terhadap amanah Tuhan lainnya. Perhatikan firman Allah swt:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar dan Maha melihat.

Amanah merupakan sesuatu yang harus dijaga untuk diberikan kembali kepada pemiliknya. Orang yang dapat menjaga amanah itu disebut amin (terpercaya), dan yang tidak dapat menjaganya disebut kha’in (yang berkhianat). Allah mewajibkan kepada manusia untuk menunaikan semua amanah yang diberikan kepadanya, baik amanah terhadap Allah, amant terhadap sesama, maupun terhadap diri sendiri. Juga Allah mewajibkan untuk melakukan semua perbuatan secara adil. Semua itu dalam rangka kebaikan manusia di dunia dan akhirat.

Manusia menerima amanah dari Allah swt. Amanah adalah perintah yang diwajibkan kepada seseorang untuk dilaksanakan sesuai kehendak pemberi amanah. Setiap manusia yang telah menunaikan perintah-Nya disebut sebagai amin, artinya mampu menjaga amanah, sedangkan yang tidak dapat menunaikan perintah dan larangan-Nya disebut kha’in, artinya berkhianat kepada Allah swt.

Amanah terhadap sesama begitu banyak cakupannya, termasuk amanah orang tua terhadap anak-anaknya, amanah seseorang pemimpin terhadap rakyatnya, amanah seorang ulama terhadap masyarakat, amanah guru terhadap muridnya, dan amanah penjual terhadap pembelinya. Setiap orang mempunyai amanah terhadap sesamanya.

Selain itu, setiap orang memiliki amanah untuk dirinya sendiri. Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna. Kesempurnaan penciptaan manusia dapat dilihat dari kelengkapan organ yang dimliki manusia, mulai dari mata, telinga, tangan, kaki, akal, hati, dan segala yang dimilikinya yang menyebabkan ia hidup dengan layak dan sempurna. Semua kelengkapan yang ada pada diri manusia itu adalah amanah bagi manusia yang diberikan Allah untuk dijaga dan dipelihara serta dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.

Dalam kaitan amanah, manusia harus mampu memilih dan melakukan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi dirinya, baik untuk dunia maupun akhirat. Orang yang mampu melakukan hal demikian disebut amin (terpercaya). Setiap  orang tidak diperkenankan untuk memilih dan melakukan perbuatan yang merusak dan membahayakan dirinya, baik bagi dunianya maupun akhiratnya. Menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan diri, seperti penyakit, hal-hal yang merusak diri seperti meminum minuman keras, mengkonsumsi makanan dan minuman yang membahayakan badan adalah juga menjaga amanah.

Allah mewajibkan setiap orang untuk berbuat adil, dan Allah melarang sebaliknya, yaitu berbuat zhalim. Bahkan Allah, dalam berbagai ayat yang lain memerintahkan manusia untuk berbuat baik yang lebih, yang dikenal dengan istilah “ihsan”.

Yang disebut adil, adalah apabila seseorang mampu melaksanakan sesuatu sesuai dengan ketentuan yang ada tidak kurang dan tidak lebih. Yang disebut zhalim, adalah apabila seseorang melakukan sesuatu yang kebaikannya kurang dari yang telah ditentukan, atau melakukan sesuatu yang keburukannya lebih dari kebaikan yang telah ditentukan. Sedangkan yang disebut “ihsan” adalah apabila seseorang melakukan sesuatu yang kebaikannya melebihi kebaikan yang telah ditentukan, atau apabila seseorang melakukan sesuatu, yang keburukannya dibalas dengan kebaikan.

Berbuat adil, bagi sebahagian orang, merupakan perbuatan yang berat. Karena adil mempunyai banyak dimensi, yaitu dimensi terhadap Allah, terhadap sesama manusia, dan terhadap diri sendiri.

Untuk melakukan perbuatan secara adil sangat tidak mudah, seseorang membutuhkan beberapa hal berikut:

  1. Seseorang harus memiliki pengetahuan yang luas dan dalam mengenai perbuatan yang akan dilakukannya.
  2. Seseorang tidak memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan dan  ketentuan, dan melakukan pembenaran yang salah, serta memberikan hak kepada yang bukan berhak. Ia harus bertindak secara proporsional.
  3. Seseorang harus mengenal dengan baik hukum-hukum yang ada, baik yang telah ditetapkan Allah maupun yang ditetapkan oleh manusia.
  4. Seseorang harus memiliki kemampuan untuk menegakkan hukum-hukum yang ada secara baik.

 

Adil adalah keseimbangan, proporsional. Adil adalah upaya untuk melakukan sesuatu secara seimbang dan proporsional antara hak dan kewajiban, antara yang menuntut dan yang dituntut, atara yang memerintah dan diperintah, antara yang berkuasa dan rakyat. Harus diingat bahwa keadilan senantiasa dituntut. Orang-orang yang sanggup berbuat adillah yang mendapat bahagian yang menyenangkan di dunia dan di akhirat.

Nilai-nilai keadilan juga harus menjadi esensi dalam pola pengasuhan anak. Nilai-nilai keadilan harus diajarkan sejak dini sehingga anak-anak dapat menumbuhkan sikap adil sejak dini dan membiasakan berperilaku adil di mana pun mereka berada.Rasa keadilan mendorong kita untuk mengatakan ya pada anak jika hal itu sudah kita pikirkan secara masak. Namun, jika kita harus mengatakan tidak kepada mereka, harus diungkapkan secara jelas. Dan jangan lupa menjelaskan mengapa kita mengatakan tidak, dan apa implikasi dari statemen tersebut. Jangan pernah terburu-buru mengatakan ya atau tidak kepada anak sebelum kita memikirkan secara seksama terlebih dahulu tentang dampak perbuatan tersebut kepada anak-anak. Kesimpulannya, bersikap bijak dan hati-hati jauh lebih manfaat bagi kehidupan anak.

 

Musdah Mulia