Menolak Legalisasi Miras

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Menolak rencana legalisasi miras itu bukan semata-mata lewat argumen teologis. Hanya soal pahala dan dosa. Bukan cuma itu. Saya tak tertarik dengan cara seperti ini. Sama dengan tak tertariknya saya dengan cara memerintah seorang preman untuk menunaikan salat, lantas menakuti si preman akan masuk neraka kalau menolak mengerjakan salat. Preman sudah kebal ancaman, jangan terus-terusan diancam.

Saya ingat cerita Almarhum Kiai Mursyahid yang melewati acara dangdutan sepulang mengejar ngaji di Pedongkelan, Cengkareng. Alih-alih melarang, Kiai lewat saja, tanpa berkata apa-apa. Yang bikin saya terenyuh, Kiai bilang, “Dia lagi nyari makan. Kalau gua berhentiin itu dangdutan, dia mau makan apa?” Mungkin dalam pikiran Kiai, orang itu ada batasnya, enggak mungkin selamanya..

Lalu, tanpa diminta Kiai, acara dangdutan itu bubar. Demi menghormati Kiai, sepertinya. Tak ada paksaan sama sekali, tetapi acara itu bubar atas kesadaran sendiri.

Dalam menghadapi banyak soal di masyarakat, kaum agamawan perlu banyak kreasi, berpikir kreatif. Kasarnya, kudu lebih pintar dalam menyusun argumen supaya diterima lebih baik, dan yang menolak lebih banyak.

Alkohol itu merusak. Legalisasi itu bakal menimbulkan mudharat lebih besar ketimbang manfaatnya. Tetapi, jangan langsung menggunakan argumen neraka untuk soal ini. Alkohol merusak karena memabukkan, menjadi candu. Ketika orang mabuk, ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang diinginkan, termasuk mencari segala cara untuk mendapatkan uang. Kalau mentok, ia akan menjual harta-bendanya untuk membeli alkohol lagi. Pas benar-benar mepet, tanahnya akan dijual supaya bisa nge-fly lagi.

Kalau saat ini dia punya pekerjaan bagus, ada potensi urusan dan kerjaan berantakan, sebab yang dia pikirkan hanya soal “bagaimana sepulang kerja nongkrong, minum alkohol lagi.” Atau “bagaimana berfoya-foya.” Kalau sudah begitu, bukan cuma dia yang rugi, keluarga besarnya juga dirugikan. Begitulah efek sosial dan individual dari alkohol. Urusan surga dan neraka biar jadi keputusan Allah. Tugas kita menyiarkan kebaikan sajalah. Tapi, masa iya, kalau sudah merusak model begini masih bisa mulus ke surga?

Nha, ujung-ujungnya, dia tertindas karena tak punya apa-apa lagi: harta, pekerjaan, keluarga, teman.

Di sinilah alkohol benar-benar merusak. Percayalah, kita bakalan ditindas karena kecanduan alkohol. Sudah banyak contoh orang-orang besar yang mencari penyelesaian masalah mereka lewat alkohol. Bukannya selesai, malah melahirkan masalah baru.

Banyak juga negara atau daerah yang menolak legalisasi alkohol (politisasi alkohol) lantaran dampak kerusakannya yang nyata. Kekhawatirannya jelas: kalau masyarakat kecanduan, mereka bakal menjual tanah mereka dengan harga murah, lalu mereka tak punya aset apa pun. Mereka tak berdaya.

So, masih mau beli alkohol? Kita yang memilih dan mengendalikan: mau beli atau jauhkan. Mendingan juga nyeruput kopi gula aren

ArenAku

Soalnya dapet dua sekaligus: ridho istri dan dagangan saya cepet habis.

Fachrurozi Majid

Ia merupakan Direktur Eksekutif Nurcholish Madjid Society. Ia menempuh pendidikan Fisafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Beliau merupakan seorang aktivis, intelektual dan penulis yang berfokus dibidang toleransi, humaniora, dan kebangsaan.

6 Maret 2021