Mengapa Pendidikan Finlandia Unggul?

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

24 April 2018

Oleh: Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A.

Finlandia adalah negara kecil di Eropa utara, resmi menjadi bagian Uni Eropa pada 1992. Luasnya, 338.145 km dengan jumlah penduduk 5.223.442 jiwa. Sebelum tahun 1990 Finlandia hanya dikenal sebagai negara agraris. Kini, Finlandia menjadi salah satu pusat teknologi dunia. Sebut saja Nokia dan semua orang langsung mengenalinya sebagai produk dari Finlandia. Tingkat pendidikan penduduk rata-rata S-2, sementara di Indonesia, rata-rata SMP atau sederajat.

Berdasarkan evaluasi Pisa (Programme for International Student Assessment), sistem pendidikan Finlandia berada di urutan terbaik di dunia. Survey dilakukan setiap 3 tahun oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebuah organisasi untuk kerja sama dan perkembangan ekonomi, dengan membandingkan pelajar usia 15 tahun dari berbagai negara pada bidang kemampuan memahami bacaan, matematika, dan sains. Tidak heran jika seluruh dunia gempar dengan keunggulan tersebut. Bahkan, tahun 2010 Newsweek menasbihkan Finlandia sebagai negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia.

Setidaknya, dua faktor utama penyebab keunggulan pendidikan Finlandia.

Faktor Politik

Berawal dari kebijakan politik untuk menjadikan Finlandia sebagai negara maju dalam bidang sains dan teknologi melalui reformasi pendidikan yang dimulai 40 tahun lalu. Lalu, pada 1990 Finlandia melakukan desentralisasi pendidikan, merumuskan beberapa kebijakan utama seperti: kurikulum nasional yang ketat, gelar master (S2) bagi semua guru, dalam satu kelas terdapat tiga guru (dua guru fokus pada penyampaian materi, satu guru khusus menemani mereka yang masih tertinggal). Sekolah tingkat dasar dan menengah digabung sehingga murid tidak perlu berganti sekolah pada usia 13 tahun. Dengan cara ini, mereka terhindar dari masa peralihan yang bisa menganggu dari satu sekolah ke sekolah lain.

Pemerintah memiliki political will sangat kuat terhadap pendidikan. Seluruh biaya pendidikan sejak TK sampai Perguruan Tinggi gratis. Hampir semua sekolah dibiayai pemerintah, hanya ada beberapa yang betul-betul independen (swasta). Tidak ada sekolah yang boleh membebankan biaya sekolah. Sekolah swasta (sedikit sekali) mendapatkan dana sama besar dengan dana sekolah negeri.  Tidak ada universitas swasta. Dengan kata lain, pelajar-pelajar di Finlandia bersekolah di sekolah negeri, dari preschool hingga Ph.D.

Bukan hanya itu, sekolah juga memberikan fasilitas gratis berupa buku-buku pelajaran dan biaya lain terkait kenyamanan dalam mengikuti pendidikan. Sekolah harus sehat dan menjadi lingkungan yang menyenangkan dan aman untuk anak-anak. Sekolah menawarkan semua murid makanan sekolah gratis, akses mudah ke perawatan kesehatan, konseling psikologis, dan bimbingan individual siswa. Siswa miskin mendapatkan santunan dana yang dikirimkan kepada orang tua mereka.

Kurikulum pendidikannya menganut prinsip ”Less is More“. Sekolah berfungsi sebagai tempat belajar dan eksplorasi potensi dimana sekolah menjadi lingkungan yang rileks dan tidak terlalu mengikat siswa dengan jam belajar dan kapasitas tugas yang tidak terlalu membebani siswa. Di samping itu, tidak ada sistem peringkat untuk prestasi akademik dan ujian standarisasi.

Frekuensi tes benar-benar dikurangi. Ujian nasional hanyalah Matriculation Examination  untuk masuk universitas. Para siswa juga baru diuji dengan ujian standarisasi pada sekolah menengah tingkat akhir. Ujian ini pun bersifat optional, hanya bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Bagi yang tidak mengikuti ujian, tetap bisa melanjutkan ke institusi pendidikan yang berorientasi lapangan kerja.

Sejak kelas III siswa wajib belajar bahasa Inggeris untuk memperluas wawasan. Bahkan, stasiun TV menyiarkan program berbahasa Inggeris dengan teks terjemahan dalam bahasa Finish sehingga anak-anak bahkan membaca waktu nonton TV.

Konsep pendidikan Finlandia sangat jelas,“Tess less, Learn more”. Bagi mereka, terlalu banyak testing atau ujian  justru membuat guru dan terlebih lagi murid hanya fokus pada ujian. Jadi sekolah hanya mengajarkan bagaimana lolos dari ujian. Bukan bagaimana menjadi manusia yang kritis dan kreatif serta berguna bagi sesama. Untuk itu, siswa diajar mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka. Selain tidak banyak tes, guru juga tidak memberikan pekerjaan rumah, tidak ada kegiatan belajar tambahan di luar jam sekolah,  tidak ada ranking, dan tidak ada ujian nasional.

Karena kolaborasi lebih penting dari pada kompetisi, tidak ada kompetisi antar siswa, apalagi antar sekolah. Kompetisi dalam dunia pendidikan merupakan konsep yang destruktif. Mental anak-anak dapat dihancurkan oleh evaluasi terus-menerus dan membuat anak-anak ini sendiri percaya bahwa mereka tidak cukup baik. Anak-anak dapat unggul pada apa yang mereka dapat lakukan dengan baik, bukan diukur untuk memenuhi standar, mereka dapat menghasilkan performa yang terbaik.

Anak-anak harus diberikan pendidikan sehingga mereka dapat berkembang seoptimal mungkin. Siswa dididik lebih mengedepankan bagaimana membentuk “community“, yaitu menggabungkan guru sebagai pendidik, siswa sebagai anak didik, dan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan. Kolaborasi ini membuat pendidikan lebih unggul karena semua merasa bertanggung jawab akan proses pendidikan.

Perlu dicatat, perubahan politik di Finlandia tidak sampai mengubah kebijakan pendidikan yang sudah dibuat sebelumnya. Kebijakan pendidikannya konsisten selama lebih dari 40 tahun walau partai yang memerintah berganti-ganti. Akibatnya, Finlandia menjadi negara dengan pendidikan nomor satu di dunia dengan tingkat drop out murid hanya 2%. Sebesar 25% kenaikan pendapatan nasional Finlandia disumbang oleh meningkatnya mutu pendidikan.

 

Faktor Guru

Filsafat pendidikan Finlandia berakar pada prinsip non-diskriminasi dan kesetaraan semua manusia. Prinsipnya adalah setiap orang memiliki sesuatu untuk disumbangkan dan mereka yang mengalami kesulitan di mata pelajaran tertentu semestinya tidak ditinggalkan. Untuk itu, dalam hampir setiap mata pelajaran disediakan guru bantu yang ditugasi untuk membantu murid yang mengalami kesulitan. Meski demikian, siswa ditempatkan dalam ruang kelas yang sama, tanpa memandang kemampuan mereka dalam pelajaran tersebut. Bahkan, siswa difabel tidak diasingkan, melainkan duduk bersama dengan siswa lain di dalam kelas.

Pendidikan di sekolah berlangsung rileks dan demi menjaga kebersihan kelas, siswa harus melepas sepatu dan hanya berkaus kaki ketika masuk kelas. Keberhasilan sistem ini ditopang gagasan bahwa ‘less can be more’ atau sedikit bisa jadi lebih banyak. Jadi, tidak terlalu banyak mata pelajaran yang diajarkan, juga tidak perlu menggunakan waktu seharian untuk belajar di sekolah. Yang penting semua siswa mendapatkan bimbingan dan perhatian penuh dari guru. Guru diberi kebebasan melaksanakan kurikulum pemerintah, bebas memilih metode dan buku teks sesuai kondisi kelas.

Guru adalah modal utama untuk menghasilkan siswa unggul. Guru sangat dihargai dan memperoleh gaji tinggi. Mengajar adalah karier prestisius di Finlandia. Orang merasa lebih terhormat jadi guru daripada dokter atau insinyur. Rekruitmen guru sangat ketat sehingga guru menjadi profesi yang didambakan. Calon guru berasal dari mahasiswa terbaik di kampus dan itu pun harus melalui seleksi ketat sehingga menghasilkan guru yang berkualitas. Para calon yang lulus seleksi dengan sangat ketat itu pun masih harus menjalani masa training. Dalam masa training calon guru ditemani satu guru senior yang akan memberikan umpan balik atas materi yang diajarkan dan cara mengajar di kelas. Dengan demikian calon guru akan memiliki lebih banyak manfaat dari pengalaman guru senior.

Guru tidak hanya mengajar dan mendidik, tetapi juga memiliki ruang gerak yang luas untuk mengeksplorasi semua keahliannya dengan menciptakan kurikulum pendidikan sesuai kondisi murid yang dihadapi. Guru mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pola pikir serta kepribadian murid, apalagi terhadap murid yang mempunyai kekurangan dalam memahami suatu mata pelajaran.  Guru tidak hanya sebatas pengajar tapi mereka pakar kurikulum, kurikulum bisa berbeda di setiap sekolah namun tetap berjalan dibawah panduan resmi pemerintah.

Penilaian (assessment) murid pun lebih banyak dilakukan bukan dengan sistem ujian. Hal ini sengaja dibuat agar kaum muda tertantang untuk mengajar dan memanfaatkan apa yang telah mereka dapatkan dengan gelas masternya. Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan “kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu, dan itu akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Setiap siswa diharapkan bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya, dan itu tidak baik bagi murid yang lain.

Salah satu faktor keajaiban pendidikan Finlandia karena sekolah menerapkan sistem belajar aktif. Dan, belajar aktif ini bisa berjalan mulus, bermutu, dan relevan karena didukung inservice training guru yang bagus. Setiap guru diberi waktu setengah hari (one afternoon) setiap minggu untuk berkunjung ke sekolah lain, ke guru lain untuk melakukan observasi proses belajar-mengajar di sekolah lain dan waktu ini juga digunakan untuk merancang kegiatan belajar bersama.

Keberhasilan sistem pendidikan Finlandia  juga ditunjang budaya. Masyarakat Finlandia sangat menghargai pendidikan, mereka menghargai profesi guru.  Masyarakatnya sangat gemar membaca, bahkan sejak dini anak-anak dibiasakan membaca. Suasana kekeluargaan yang akrab sangat terasa di dalam rumah-rumah warga Finlandia. Bahkan, di sekolah siswa belajar dalam suasana  santai dan informal. Tidak terlihat suasana formal yang tegang dan penuh ketakutan.

Kesimpulannya, kemajuan pendidikan Finlandia yang demikian pesat disebabkan oleh adanya otonomi pendidikan yang luas sehingga memungkinkan guru dan murid untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki dengan sebaik-baiknya. Pemerintah turut menjaga agar pendidikan tidak menjadi ajang permainan politik. Sebab, tujuan akhir pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia.