K. H. Sanusi Baco: Ulama Berwajah Teduh dan Berhati Emas

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Ulama berwajah teduh itu telah tiada. Meski sudah agak lama saya mendengar kondisinya kurang sehat, namun berita kepergian beliau pada Sabtu malam, 15 Mei 2021 tetap saja mengejutkan. Masyarakat Islam Indonesia kehilangan tokoh ulama kharismatik, K.H. Sanusi Baco, Lc. Beliau amat berjasa mengembangkan ajaran Islam yang damai, sejuk dan membahagiakan. Dakwahnya selalu berisi ajakan peningkatan kualitas iman dan amal shaleh, mengedepankan moralitas serta empati kemanusiaan. Ceramah beliau selalu menarik, dinanti banyak orang dari semua kalangan. Meski beliau bukanlah penceramah yang mampu membuat pendengarnya tertawa terbahak-bahak atau menangis sesenggukan, beliau tidak suka mendramatis suasana. Namun, kebanyakan orang yang pernah menyimak ceramahnya selalu rindu mendengarkannya berulangkali. Tiada lain karena ceramahnya penuh hikmah, menyentuh relung kalbu terdalam.

Kiai Sanusi, demikian saya selalu memanggilnya, adalah sosok ulama langka, ucapan dan tindakannya selalu sejalan. Tutur katanya santun dan sarat makna, tak pernah lelah memberikan pelayanan kepada umat, tanpa membeda-bedakan manusia, semua orang yang datang kepadanya diterima dengan hangat penuh kegembiraan. Kualitas keulamaan seorang terutama terletak pada aspek spiritualitas yang tercermin dalam perilaku nyata sehari-hari. Apakah dia memberikan pelayanan kemanusiaan kepada umat? atau sebaliknya? Malah menjadikan umat sebagai pelayan atau sekedar alat pemenuhan kepentingan. Itu sebabnya, predikat ulama sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris para nabi) penting selalu dijaga dan dihormati.

Pentingnya pendidikan dalam keluarga

Beliau lahir tahun 3 April 1937 di sebuah dusun kecil di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ayahnya seorang petani bernama Baco Daeng Naba dan Besse Daeng Ratu nama ibunya. Almarhum sering menceritakan kehidupan keluarganya yang sederhana tapi penuh kehangatan dan cinta kasih. Menurut beliau, pendidikan masa kecil dalam keluarga amatlah berkesan dan hal itu membentuk karakter beliau sekarang. Orang tuanya menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, solidaritas kepada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama dan apa pun.

Menamatkan pendidikan dasar di Pesantren DDI Mangkoso dengan didikan lagsung dari K.H. Abdurahman Ambo Dalle dan K.H. Amberi Said, keduanya dikenal sebagai tokoh pendidik yang berjasa melahirkan kader-kader ulama yang kini tersebar di nusantara. Usai menamatkan pendidikan pesantren, beliau melanjutkan studi ke Fakultas Syariah Univ. Muslim Indonesia, Makassar sambil aktif di organisasi PMII. Tahun 1963 beliau mendapat beasiswa dari Kementerian Agama melanjutkan pendidikan ke Fakultas Syariah, Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Beliau berangkat ke Mesir bersama 25 pemuda lainnya dari berbagai wilayah Nusantara, di antaranya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan K.H. Mustafa Bisri (Gus Mus). Empat tahun di Mesir, beliau berhasil menyandang gelar Lc.

Kembali ke Makassar mengabdi di berbagai perguruan tinggi, antara lain sebagai dosen di Univ. Muslim Indonesia dan IAIN Alauddin. Tidak butuh waktu lama beliau dikenal sebagai dosen favorit. Semua mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahnya pasti senang dengan metode penyajian beliau yang tenang, tidak membosankan, ada selingan humor, tapi tidak menyinggung perasaan orang lain. Selain sebagai dosen, beliau pun tumbuh menjadi ulama yang sangat disegani karena jiwanya yang lapang, terbuka menerima semua kalangan tanpa diskriminasi sedikit pun.

Perkembangan karir beliau melaju cepat, berturut-turut menduduki sejumlah jabatan penting, antara lain sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Rais Syuriah NU Sulsel, Pengurus PBNU, Rektor Universitas Al-Ghazali (UIM) dan seterusnya. Bagi beliau, semua jabatan hanyalah amanah, tak membuat dirinya pongah dan berjarak dengan siapa pun.

Guru kemanusiaan sejati

Bagi saya, Kiai Sanusi adalah guru kemanusiaan sejati yang selalu dinantikan kehadirannya pada setiap forum dakwah, hidupnya sangat bersahaja, tak silau kemewahan dan popularitas, teguh memegang prisip serta selalu ramah kepada semua orang. Berada dekat dengannya, jiwa kita merasa damai melihat wajahnya yang teduh, memancarkan aura kasih sayang serta penuh perhatian.

Ibarat cahaya matahari, tanpa kehadiran beliau, suasana terasa mendung, tiada terang menyelimuti. Satu hal yang saya pelajari dari beliau adalah ketulusannya untuk selalu memenuhi setiap undangan. Beliau selalu dinantikan kehadirannya di setiap kegiatan, seperti peringatan maulid dan mikraj Nabi, Tahun Baru Hijriah dan acara keislaman lainnya, bahkan juga pada acara kebangsaan: peringatan kemerdekaan dan sebagainya. Demikian pula di berbagai acara keluarga seperti perkawinan, syukuran kelahiran, takziyah kematian, dan seterusnya.

Hidupnya tak pernah sepi dari tugas kemanusiaan, memberikan ceramah dan taushiyah dari kantor ke kantor, dari rumah ke rumah bahkan beliau tak segan menempuh jarak yang sangat jauh demi memenuhi hajat orang-orang yang mengundangnya. Saya yakin,  ketulusan dan keikhlasan hatinya itulah membuat beliau selalu sehat dan dakwahnya selalu berkesan. Jangan bertanya soal tarif, sebab itu tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Ini teladan penting bagi generasi berikut.

Pertama kali jumpa beliau tahun 1975 ketika saya menjadi mahasiswanya di Fakultas Ushuludin Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar. Beliau mengampu mata kuliah Ushul Fiqh, kuliahnya terasa renyah dan segar karena diselingi banyak humor dan contoh-contoh kasus berupa realitas sosial yang aneh tapi nyata. Beliau hebat memilih diksi yang tepat sehingga penjelasannya dapat dimengerti dengan mudah, bahkan oleh mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi sekalipun.

Sebetulnya, saya sudah sering mendengar tentang beliau jauh sebelum bertemu langsung dengannya. Sebab, ibu saya, Buwaidah Achmad adalah kakak kelas beliau di Pesantren DDI Mangkoso. Mereka berdua adalah murid kesayangan Kiai Amberi Said, sosok pendidik teladan di pesanren tersebut. Ibu merupakan perempuan pertama di desanya yang berhasil menyelesaikan pendidikan pada pesantren tersebut. Ibu sering menuturkan, “sebagai santri, Sanusi dikenal rajin, mudah bergaul, dan selalu siap membantu. Sejak santri sudah terlihat kebaikan hati dan kebesaran jiwa beliau untuk melayani sesama.” Sikap tulus melayani inilah yang paling menonjol dalam keseharian hidupnya sebagai ulama kharismatik yang dihormati semua kalangan.

Tokoh NU yang ramah dan rendah hati

Jika organisasi NU berkembang pesat di Indonesia Timur, salah satunya berkat jihad dan dakwah beliau. Kiai Sanusi sangat berjasa membesarkan sekaligus mengawal NU menjadi organisasi Islam yang netral dari berbagai political interest. Sikap beliau yang tulus, santun dan ramah disenangi banyak orang merupakan bekal utama dalam mengelola organisasi NU dan memajukannya seperti sekarang.

Saya memiliki banyak kenangan bersama beliau dalam aktivitas organisasi. Di masa beliau menjadi Ketua Tanfiziyah NU Wilayah Sulsel, saya menjadi Ketua Fatayat NU, disamping juga sebagai pengurus PMII. Saya tak pernah lupa akan sebuah kejadian ajaib bersama beliau. Sebagai Ketua NU beliau sering mengajak saya menghadiri kegiatan organisasi di berbagai kabupaten. Jaman itu kondisi NU masih sangat bersahaja, belum memiliki perangkat organisasi dan administrasi modern seperti sekarang. Beliau jalan ke berbagai daerah dengan menyetir sendiri, mobilnya kijang tua yang sungguh tidak nyaman dipakai bepergian jauh, apalagi kondisi jalan belum semulus sekarang.

Masih segar dalam ingatan saya, di suatu siang beliau menjemput saya di rumah untuk menghadiri Konferensi Cabang dan Maulid Nabi di Kabupaten Pangkep. Pulang dari sana, saya merasa sangat letih dan tertidur pulas, dan saat terbangun saya amat terkejut melihat beliau pun tertidur sambil menyetir mobil. Entah sudah berapa lama beliau tertidur, herannya mobil kami tetap melaju normal dan terkendali. Secara refleks saya membangunkan beliau, Pak Kiai tidur ya? dan anehnya beliau pun spontan menjawab:  “enaknya saya tidur tadi.” Subhanallah, sejak itu saya percaya adanya karamah dari Allah swt, Dia menganugerahkannya kepada hamba terpilih. Peristiwa ini menorehkan hikmah pentingnya pengabdian pada umat. Itulah hakikat kerja kenabian, kerja-kerja kemanusiaan tanpa pamrih apa pun.

Saya juga akrab degan isteri beliau satu-satunya, umi Aminah, kami berdua pengurus Muslimat NU. Umi Aminah sering menuturkan kebaikan suami tercinta: “bapak orangnya sabar sekali, begitu perhatian pada anak-anak dan tidak risih membantu berbagai pekerjaan di rumah. Bapak juga selalu mendorong saya aktif di Muslimat agar lebih mengerti agama dan juga persoalan kemasyarakatan.” Sungguh beruntung Umi Aminah karena tidak banyak suami memberikan dukungan penuh terhadap isteri berkiprah di organisasi dan berbagai aktivitas public seperti Kiai Sanusi.

Saya beruntung dapat menjenguk Umi Aminah pada hari-hari terakhirnya di rumah sakit Islam Faisal. Hampir sebulan beliau dirawat dan secara bersamaan ibu saya juga dirawat di sana sehingga saya bisa mampir setiap hari. Saya menyaksikan langsung betapa besar hormat dan cinta Kiai Sanusi pada isterinya. Hampir di setiap saat beliau ada di samping isterinya, mendoakan dan memberi penghiburan. Sebuah contoh keluarga ideal yang berlimpah sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun, takdir berkata lain, isteri tercinta lebih dahulu berpulang ke hadirat-Nya.  Setelah 18 tahun ditinggal sang isteri beliau tetap memilih hidup sendiri, menikmati hari tua dalam kedamaian bersama anak dan cucu.

Selamat jalan guruku terkasih, engkau telah menunaikan tugas kemanusiaan dengan sebaik-baiknya. Kiprah dan teladanmu akan selalu dikenang sepanjang masa. Wajahmu abadi memancarkan kedamaian dan ketulusan tiada tara. Sang Maha Pengasih telah menyiapkan tempat terindah untukmu di alam sana. Amin.

 

Musdah Mulia – Jakarta, 15 Mei 2021