Gender dan Seks, Apakah berbeda?

Pada dasarnya semua orang sepakat bahwa perempuan dan laki-laki berbeda. Apalagi masyarakat mengamininya dalam  sebuah kontruksi. Namun apakah kontruksi itu benar-benar murni lahir begitu saja? Dalam perkembangannya,  istilah gender pertama kali di perkenalkan oleh Robert Stoller (1968). Secara etimologi (bahasa), kata “jender” berasal dari bahasa Inggris, gender berarti “jenis kelamin”, sedangkan menurut bahasa Arab gender dimaknai dengan  kata al-Jindar.  Sedangkan secara terminologi (istilah), gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Istilah gender belum masuk dalam perbendaharaan kata Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tetapi dalam pemakaian berikutnya istilah ini selalu dikaitkan dengan budaya. Istilah gender lebih banyak menunjuk kepada perbedaan status dan peranan laki-laki dan perempuan yang terbentuk dalam proses sosial dan budaya yang panjang.

Di dalam buku yang berjudul Sex and Gender yang ditulis oleh Hilary M. Lips, mengartikan bahwa gender adalah harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini dapat dilihat, misalnya bahwa perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki sebaliknya, yaitu dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain.

Dalam implementasinya, terjadi kerancuan dalam memahami gender dan seks. Pengertian gender itu berbeda dengan pengertian jenis kelamin (sex). Tabel berikut ini menyajikan perbedaan konsep gender dan jenis kelamin:

Gender dan jenis kelamin (sex) merupakan hal yang berbeda, tetapi mempunyai suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Gender yang terkait dengan tingkah laku dan pembagian fungsi ke dalam bentuk feminin dan maskulin berbeda dengan jenis kelamin (sex) yang lebih mengklasifikasikan manusia berdasarkan struktur dan ciri biologis. Gender sebagai proses ‘konstruksi sosial’ di dalam masyarakat. Konstruksi sosial merupakan pembentukan dari sistem konseptual kebudayaan dan linguistik. Gender juga merupakan alat analisis yang baik untuk memahami persoalana diskriminasi terhadap kaum perempuan secara umum. Ditegaskan bahwa gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya Dan ternyata, perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang panjang, melalui proses sosialisasi, penguatan, konstruksi, sosial budaya bahkan melalui kekuasaan negara.

 

Rivani, Muslimah Reformis