Covid-19: Pentingnya Agama yang Humanis

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Seluruh fenomena alam di sekitar manusia, termasuk pandemi Covid-19 perlu dihadapi dengan bijak, tetap mengedepankan nalar kritis sambil menggali aspek positifnya agar manusia memetik hikmah dari setiap fenomena yang ada. Disebut pandemi karena penyebaran Covid-19 ini melewati batas negara dan benua, serta dampak mematikannya sudah membahayakan manusia dalam jumlah tak terhingga. Sampai Agustus 2020 tercatat sebanyak 210 negara di dunia melaporkan konfirmasi penduduknya positif terpapar Covid-19.[1] Data WHO ini merupakan salah satu pijakan sementara dalam mengamati perubahan dinamika global terkait Covid-19 yang membawa implikasi luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia, tak terkecuali aspek keagamaan.[2]

Sulit menemukan data pasti dari jumlah orang terpapar virus di seluruh dunia karena data yang terlihat hanyalah fenomena gunung es, jumlah sesungguhnya jauh lebih besar dari itu. Untuk Indonesia, data 3 Agustus 2020 menunjukkan, positif terpapar virus corona sebanyak 113.134 orang, meninggal 5.302 orang, dan yang sembuh sebanyak 70. 237 orang. Sejumlah riset memperkirakan, jika tanpa intervensi pemerintah, data jumlah orang yang meninggal dunia di negeri ini bisa mencapai 2,6 juta orang. Namun, bila setengah dari masyarakat tidak mengisolasi diri, angka kematian tetap berpotensi tembus 1 juta jiwa. Besarnya dampak yang diakibatkan penyebaran virus ini mestinya jadi referensi untuk sistem siaga dini (early warning system) bagi seluruh manusia, khususnya umat beragama.

Pandemi bukan hal baru dalam sejarah umat manusia, sudah berulang kali terjadi. Pandemi terbesar terjadi pada abad ke-6 M, sejak itu berbagai gelombang pandemi terjadi silih berganti, di antaranya membawa kematian yang sangat besar jumlanya, bahkan tercatat ada pandemi yang mematikan sampai 70 hingga 100 persen. Michael W. Dols (1974) dalam artikelnya Plague in Early Islamic History, mengulas tiga pandemi besar yang menimpa umat manusia, yakni Wabah Yustinianus (Plague of Justinian), terjadi pada 541-542 M, Maut Hitam (Black Death) pada 1347-1351 M, dan Wabah Bombay (Bombay Plague) pada 1896-1897. Meski tidak diharapkan berulang di masa yang akan datang, namun sebaiknya masyarakat selalu siap dan waspada menghadapi pandemi atau epidemi lainnya.

Pada abad ke-20, status pandemi sering dihubungkan dengan wabah penyakit flu, seperti flu Spanyol tahun 1918 menewaskan sekira 50 juta penduduk dunia, flu Asia tahun 1957-1958 mengakibatkan 1,1 juta kematian, serta flu Hongkong tahun 1968 dengan korban tidak kurang dari satu juta jiwa. Fenomena pandemi ini diduga kuat akan selalu berulang seiring dengan pola hidup manusia yang semakin eksploitatif terhadap alam. Semakin manusia mengabaikan aspek kesehatan dan merusak kelestarian lingkungan, maka semesta akan mengatur dan memulihkan diri dengan caranya sendiri.

Para dokter sepakat bahwa pola penularan Covid-19 adalah melalui kontak antarorang (person-to-person spread), serta melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut ketika seseorang yang terinfeksi virus ini bersin atau batuk. Karenanya, cara efektif untuk mencegah penyebarannya adalah dengan memutus mata rantai penularan virus dari orang ke orang dari jarak dekat. Karena itu, memakai masker, [3] jaga jarak (social distancing) dan rajin cuci tangan sangat dianjurkan. Covid-19 bukan hanya merenggut ribuan nyawa, melainkan juga mengubah tatacara hidup manusia di seluruh dunia, mulai dari interaksi terhadap sesama manusia maupun hubungan dengan Tuhan.  Tata cara hidup manusia sekarang sangat berbeda dengan sebelumnya sehingga kondisi ini disebut “the new normal.” Manusia dalam berinteraksi dengan sesamanya tidak lagi bersentuhan fisik seperti berjabat tangan, berciuman, berpelukan dan berbagai ekspresi keakraban lainnya seperti sedia kala.

Ketika pemerintah resmi menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), semua orang harus bekerja dari rumah, beribadah di rumah dan anak-anak belajar dari rumah. Kehidupan masyarakat praktis berubah. Selain masalah kesehatan, muncul juga masalah sosial, ekonomi dan psikologis yang dihadapi banyak orang. Perempuan adalah salah satu kelompok yang rentan di masa pandemi. Ada beberapa bentuk kerentanan pada perempuan, di antaranya, beban kerja yang meningkat dan berlipat ganda mengakibatkan stres dan kelelahan yang pada gilirannya membawa ketegangan dalam relasi keluarga sehingga potensial melahirkan kekerasan fisik, psikis dan seksual.

WHO, Basic protective measures against the coronavirus, http://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice for public.

WHO Tetapkan Wabah Virus Corona Sebagai Pandemi Global, https://www.kompastv, accessed April 30, 2020.

Di dalam bahasa Arab, kata yang menunjukkan makna masker adalah qinā’ (قناع). Kata ini di dalam beberapa kamus bahasa Arab diartikan dengan “kudung kepala wanita, cadar, atau topeng.” Kata-kata ini menunjukkan makna bahwa qina’digunakan sebagai penutup kepala atau penutup muka sebagai kebiasaan (budaya) bagi orang-orang Arab. Perlu dicatat bahwa qina’ tidak ditujukan sebagai penutup muka untuk menjaga diri dalam kaitannya dengan penyebaran virus, seperti terjadi pada masa sekarang. Sedangkan masker yang digunakan sekarang adalah dirancang khusus oleh para ahli di bidang kesehatan untuk menutup hidung dan mulut sebagai pelindung agar terhindar dari penyebaran atau penularan virus. Dengan demikian, kelompok agama yang biasa memakai qina atau semacam cadar perlu mempertimbangkan apakah dengan pakaian tersebut sudah mampu menangkal masuknya virus ke dalam tubuh mengingat pakaian tersebut awalnya bukanlah dirancang untuk mencegah masuknya virus ke dalam tubuh.

Selengkapnya, unduh materi di sini

Oleh: Musdah Mulia