Gayatri Spivak: Subaltern dan Awal Perjuangan dalam Feminisme

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Gayatri Chakravorty Spivak, dilahirkan di Calcutta pada tanggal 24 Februari 1942. Dikutip dari buku Moore Gilbert chapter 3, ia dilahirkan dari orang tua yang  benar-benar seorang intelektual yang membesarkan anak-anak mereka dengan kehidupan yang penuh pemikiran. Ayahnya merupakan  proto-feminis dan  ibunya seorang feminis. Perempuan keturunan kelas menengah India ini lulus dari Universitas Calcutta pada tahun 1959 kemudian meraih gelar Master dan Doktor dari Fakultas Sastra Inggris di Universitas Cornell, Ithaca, New York. Saat ini Spivak mengajar di Universitas Iowa. Spivak dikenal luas atas kontribusinya yang sangat besar terhadap kajian Poskolonial. Ia juga  merupakan seorang terpelajar yang sangat terkenal sebagai seorang sarjana yang produktif dan salah satu pendiri Institute for Comparative Literature and Society di Universitas Kolombia.

Karya-karyanya meliputi pemikiran postrukturalis, kritik sastra, filsafat kontinental, psikoanalisis, teori feminis, gender, dekontruksi, Marxisme, Posmarxisme dan Poskolonilisme. Karya-karyanya tersebut dipegaruhi oleh pemikiran Derrida, Barthes dan Foucalt. Ciri khas dan kehebatan analisisnya adalah pada sudut pandang Kaum Subaltern yang tertindas oleh kolonialisme, ketidakadilan gender, kebijakan pembangunan internasional dan sebagainya. Bersama dengan Edward Said dan Homi Babha, Spivak menjadi juru bicara terakhir dan tokoh penting dalam ranah kajian Poskolonial dan Kaum Sulbatern. Dalam hal ini para ilmuwan sosial berhutang budi kepadanya.

Dikutip dari wawancara Steve Paulson yang dilansir dari https://lsfdiscourse.org/keintiman-kritis-wawancara-dengan-gayatri-chakravorty-spivak/ bahwa  Spivak mengukir karir yang tampak berbeda. Ia menjadi perintis sarjana Marxis-feminis dan kemudian membantu meluncurkan studi poskolonial melalui esai yang berjudul Can the Subaltern Speak. Ia tidak hanya seorang intelektual menara gading, ia juga mendirikan sekolah dasar untuk para siswa yang buta huruf di negara asalnya, India, tempat Spivak mengajar selama beberapa dekade. Entah bagaimana caranya, Spivak berhasil mengajarkan teori kritis kepada mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas elit di Amerika Serikat sekaligus mengajarkan pemberdayaan demokratis kepada anak-anak pedesaan di Bengal Barat. Ia juga berhasil menyatukan antara teori dan praksis yang terintegrasi di dalam satu orang.

Konsep Subaltern Spivak

Dikutip dari esai Spivak berjudul Can the Subaltern Speak yang terbit pada tahun 1985, istilah subaltern merujuk pada kelompok yang tidak dapat memberikan perintah namun mereka hanya dapat menerima perintah saja. Istilah ini ia dapatkan dari  Antonio Gramsci ketika mengamati masyarakat yang tidak termasuk dalam kelas pekerja dan juga sebagai korban kapitalisme. Ia menjumpai masyarakat yang berada di luar logika tersebut, itu karena ia sendiri berasal dari Sardinia, yang berada di luar wilayah High Italy sebelah Utara. Selain itu, “Subaltern” juga merujuk kepada mereka yang tidak memiliki akses kepada struktur kewarganegaraan. Ia mulai memahami subaltern ketika berbicara tentang kondisi India kala itu, sebagian besar sektor pemilih adalah daerah pedesaan yang rakyatnya masih buta huruf dan tidak memiliki akses atas kepemilikan tanah. Mereka mungkin dapat memilih dalam pemilu, tetapi tidak untuk akses pada struktur kewarganegaraan. Itulah subaltern menurut Spivak

Jauh sebelum itu, dalam perjalanan hidupnya  ia diceritakan ibunya  bahwa  bibinya  gantung diri pada tahun 1926 ketika ia berusia 17 tahun. Hal ini disebabkan karena bibinya merupakan bagian dari kelompok anti-imprealis. Dia sendiri tak mampu membuat mampus para imperialis, karena itulah bibinya merenggut nyawanya sendiri. Dia menunggu selama empat hari untuk memastikan bahwa dia benar-benar sudah menstruasi. Itu dilakukan agar orang tidak menuduh bahwa ia merenggut nyawanya sendiri karena mengandung anak haram. Alasan mengapa dia menunggu terlebih dahulu kedatangan menstruasi karena satu-satunya motif mengapa wanita remaja di kelas menengah gantung diri adalah hamil di luar nikah. Sebelum ia meninggal, dia sempat meninggalkan sepucuk surat kepada neneknya. Aksi yang dia lakukan bertujuan untuk menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berada di bawah ketiak laki-laki saja. Jika bayangkan betapa sulitnya untuk menunggu? Pada akhirnya, mayatnya tidak lain adalah bentuk protes yang dia lakukan. Begitulah kontruksi kepada perempuan kelas menengah di India.

Dalam esai tersebut juga dijelaskan Spivak pergi ke sebuah kelompok subaltern di India, yang merupakan tempat ia belajar. Mereka adalah rakyat yang menolak hak atas kerja intelektual di mana sifat ini telah diwariskan oleh leluhurnya  sendiri yakni kasta Hindu.  Setiap harinya, ia melihat bagaimana, bahkan jika mereka berbicara, mereka tidak diperbolehkan bersuara dengan cara yang mudah kita pahami. Beberapa orang feodal yang dermawan mencoba untuk berbaik hati terhadap mereka, tetapi kebaikan mereka tidak mengubah apa-apa. Ia  mengajar di sana selama 30 tahun.

Dari penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa Spivak merupakan feminis yang belajar dari apa yang ada dalam keseharian kasta India, ia mendobrak perjuangannya untuk kesetaraan.

 

Rivani, Muslimah Reformis