Tradisi Menutup Kepala Dalam Berbagai Agama

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

24 Apr 2018

Oleh: Prof. Dr. Musdah Mulia, M.A.
Sangat menyenangkan hadir dalam Internasional Congress on Listening to Asia di Universitas Urbaniana, Roma. Presentasi saya berjudul Questioning The Book in the World of to Day, Faith and Hermeunetics: the Contemporary Islamic Thought. Pertemuan berlangsung di Universitas Urbaniana, Roma, Italia yang dikenal sebagai sekolah para suster dan pastor.Kesimpulan dari presentasi tersebut adalah penting bagi semua umat beragama untuk mengkaji kembali pesan-pesan moral dalam kitab suci sehingga mereka dapat hidup bersama dalam keberagaman dengan penuh damai dan harmoni.Pertemuan akbar ini dihadiri peserta dari berbagai bangsa, agama dan kepercayaan, warna kulit dan model pakaian. Pluralitas manusia sungguh suatu fakta yang tidak dapat disangkal. Pluralitas itulah yang abadi. Semua upaya untuk menyeragamkan manusia, termasuk menyeragamkan busana, pasti berakhir sia-sia.

Saya duduk di tengah-tengah biarawati yang menggunakan tutup kepala. Warnanya ada yang putih, coklat, krem, hitam, abu-abu, dan lain-lain. Bentuk tutup kepala pun beragam beberapa di antaranya sedikit terbuka sehingga rambut di kepala bagian depan kelihatan. Namun, tidak sedikit pula yang tutup kepalanya menutup rapat seluruh kepala sampai ke pundak. Ada tutup kepala yang hanya satu lapis, lalu ada juga yang berlapis-lapis sehingga terkesan berat di kepala.

Para biarawati itu berasal dari berbagai belahan dunia. Dari Eropa, Afrika, Australia, Amerika, dan tidak sedikit dari bangsa-bangsa di Asia, seperti China, India, Melayu, bahkan beberapa dari Indonesia. Saya memerhatikan mereka dapat hidup bersama dalam damai, melampaui perbedaan etnik, bangsa, warna kulit, dan tradisi.

Gereja ternyata mampu menjadikan perbedaan dan keanekaragaman tersebut menjadi landasan untuk hidup bersama dalam pelayanan manusia. Mestinya, hal serupa dapat pula diciptakan di luar gereja. Hanya dengan cara itu, masa depan kemanusiaan yang penuh damai dapat terwujud.

Realitas sosial di seluruh dunia mengungkapkan, perempuan yang menutup kepala dijumpai dalam berbagai komunitas agama: Islam, Khatolik, Kristen Orthodox, Kristen Koptik, Jana, Jahudi Orthodox. Karena itu, mengklaim tradisi tutup kepala sebagai monopoli suatu komunitas adalah keliru besar.

Karena itu, dalam urusan tutup kepala, berilah kebebasan seseorang memilih secara kritis dan cerdas apakah akan memakai tutup kepala atau tidak. Faktanya, tidak sedikit yang memakai tutup kepala hanya sebagai fashion belaka. Bahkan, ada trend di Indonesia jika sudah berurusan dengan hukum barulah pakai tutup kepala untuk membangun image bahwa dirinya tidak bersalah.

Yang jelas, keimanan dan kesalehan seseorang tidak bisa hanya diukur dari tutup kepala yang dikenakannya, melainkan sejauh mana dia sebagai manusia berguna dan memberikan manfaat bagi sesama serta peduli pada lingkungan sekitarnya.

Sudah waktunya mengajak masyarakat beragama secara esensial, tidak terpaku pada hal-hal yang artifisial dan simbolik. Mari saling memahami satu sama lain sehingga terwujud kehidupan masyarakat yang harmoni dan saling menghargai. Agama harus dapat membimbing manusia menjadi lebih manusiawi. Wallahu a’lam bi al-shawab.