Merajut Pandangan Keagamaan Humanis, Mengikis Homofobia

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Pew Research Centre tahun 2013 meneliti hubungan antara religiusitas penduduk suatu negara dan sikap homofobia. Hasilnya, semakin religius penduduk suatu negara, maka sikap homofobia pun semakin menguat, demikian sebaliknya. Negara-negara yang penduduknya kurang religius biasanya lebih terbuka menerima keberagaman, termasuk keberagaman dalam identitas gender dan orientasi seksual.

Religiusitas dalam penelitian tersebut diukur dengan tiga item pertanyaan: Apakah mereka percaya bahwa iman kepada Tuhan diperlukan untuk moralitas; Apakah menurut mereka, agama sangat penting dalam kehidupan manusia; dan apakah mereka berdoa setidaknya sekali sehari. Bagi saya ketiga pertanyaan tersebut terlalu sederhana untuk menyimpulkan tingkat religiusitas seseorang.

Tetapi bukan pada tempatnya di sini membahas metodologi dari lembaga penelitian tersebut. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara sikap homofobia dan pemahaman keagamaan seseorang.

Homofobia dapat diartikan sebagai kebencian atau ketidaksukaan atau prasangka terhadap orang-orang yang bukan heteroseksual, seperti lesbian, gay, biseksual, transgender dan queer. Kebencian dan sebagainya itu dapat menjelma dalam bentuk berbagai perilaku maupun perasaan negatif yang tidak rasional terhadap kelompok homoseksual atau queer. Penyebab paling dominan adalah ketakutan yang tidak masuk akal sehingga pantaslah disebut fobia.

 

Selengkapnya baca versi pdf.