Mengedepankan Kasih Sayang: Dialog Agama di Oakland

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Perjalanan saya ke Oakland, California, Amerika Serikat, kali ini berawal dari surel Bishop of Oakland. Isinya mengundang saya berbicara pada kegiatan dialog agama pada 6 September 2016. Saya sudah berkali-kali ke Amerika Serikat, juga ke California, tetapi belum pernah ke Oakland. Wah, pikir saya ini kesempatan emas untuk sekaligus menjelajahi daerah baru.

Tiba di bandara San Fransisco sekitar pukul 11.00 waktu setempat, saya dijemput panitia yang ternyata pengurus organisasi Sant’ Edigio. Kami sering bertemu pada acara-acara organisasi ini di Roma, Italia. Saya segera merasakan keakraban dan tak lagi merasa asing bersama mereka.

Perjalanan dari bandara ke kota Oakland ditempuh sekitar satu jam, tidak semacet lalu lintas Jakarta. Dari teman-teman panitia inilah saya segera mengetahui bahwa kegiatan ini terwujud atas prakarsa dan kolaborasi sejumlah organisasi. Sebuah ide yang patut ditiru. Kegiatan keagamaan seperti ini sebaiknya diselenggarakan dengan berjejaring. Mengerjakannya sendirian terlalu mahal dan juga biasanya kurang bergema.

Mercy, the Heart of Peace inilah tema sentral kegiatan dialog agama kali ini. Saya sangat setuju dengan pilihan kata mercy. Sebab, kasih sayang atau juga bisa diartikan cinta kasih adalah inti perdamaian. Semua upaya membangun damai di mana pun harus dimulai dari mewujudkan kasih sayang. Cinta kasih harus dimulai dari diri sendiri. Betapa kita perlu mencintai diri kita sebagai anugerah Tuhan terbesar dalam hidup ini. Cintailah diri kita apa adanya. Tak perlu membandingkan diri kita dengan diri orang lain karena setiap diri itu unik adanya dan ia diciptakan Tuhan bukan untuk diperbandingkan dengan apa pun. Dengan mencintai diri sendiri, kita sudah membangun damai dalam diri dan itu adalah modal terbesar untuk membangun perdamaian dalam masyarakat.

Dalam rundown acara yang dikirimkan panitia seminggu sebelum saya meninggalkan Jakarta, acara ini selain menghadirkan saya sebagai pembicara mewakili
agama Islam, diundang juga tokoh agama Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha. Agama Yahudi diwakili oleh Rabbi Profesor Daniel Sperber, mantan Menteri Pendidikan Agama Zionis dalam kabinet Israel. Kristen Ortodoks diwakili Uskup Ioan Casian of Vicinal, Uskup Katolik Roma Ortodoks Amerika. Acara berlangsung di The Cathedral of Christ, Oakland.

Kedatangan saya ke Oakland atas undangan dan biaya sepenuhnya dari Keuskupan Oakland. Uskupnya bernama Dr. Michael C. Barber, SJ, dikenal sangat bijaksana, peduli pada upaya-upaya perdamaian dunia, dan senang membangun hubungan dan dialog dengan pemuka agama lain.
Uskup Barber turun-temurun berasal dari daerah ini. Tidak heran jika beliau sangat dibanggakan masyarakat California. Ayahnya, Adlai Barber, lahir di Oakland dan ibunya, Dolores, kelahiran San Francisco. Uskup Barber sendiri dilahirkan pada 1954 di Salt Lake City ketika ayahnya bertugas di situ. Ayahnya juga seorang uskup yang pernah bertugas di San Francisco, Novato, dan Sacramento. Uskup Barber merupakan alumni Sekolah Teologi St. Pius X di Galt dan pernah mengenyam pendidikan di Seminari St. Patrick di Menlo Park.

Uskup Barber memasuki seminari Serikat Yesus (Jesuit) pada 1973. Dia menerima gelar sarjana dari Universitas Gonzaga di Washington dan gelar sarjana dalam bidang teologi dari Regis College di Universitas Toronto dan Universitas Gregorian di Roma. Setelah ditahbiskan sebagai imam di San Francisco pada 1985, Uskup Barber melanjutkan studinya di Roma dan Universitas Oxford. Pada 1991 ia menjadi perwira yang ditugaskan di Angkatan Laut Amerika Serikat dan mencapai pangkat kapten pada 2012.

Dia pernah menjadi Direktur Sekolah Kepemimpinan Pastoral di Keuskupan Agung San Francisco. Sebelum pengangkatannya sebagai Uskup Oakland, dia bertugas sebagai Direktur Formasi Rohani di Seminari Tinggi St. Yohanes di Keuskupan Agung Boston. Selain menguasai bahasa Inggris, uskup juga menguasai sejumlah bahasa lainnya, seperti bahasa Italia, Perancis, Samoa, dan liturgi Spanyol.

Sehari sebelum acara berlangsung, Uskup Barber menyambut kami para narasumber dengan sebuah gala dinner hangat di kediaman beliau yang menyatu dengan gedung keuskupan California. Tradisi makan malam yang hangat seperti ini jarang sekali saya nikmati. Tidak semua acara makan malam yang saya hadiri berakhir dengan rasa damai dan bahagia. Biasanya bukan soal menu makanan yang enak, melainkan bagaimana suasana kegembiraan terbangun sehingga semua hadirin terhubung satu sama lain dengan percakapan yang membahagiakan. Suasana ini biasanya terbangun jika tidak ada orang yang mendominasi percakapan sehingga yang lain terkesan hanya pasif mendengarkan. Uskup Barber begitu hangat menyapa satu per satu semua hadirin dalam ruangan. Semua disapanya dengan hangat dan akrab dan diberikan kesempatan untuk menyatakan perasaan, pandangan, dan pikirannya sehingga suasana malam itu terasa hidup dan penuh rasa kekeluargaan. Pembicaraan kebanyakan tertuju pada hal-hal yang membuat kami tertawa dan saling mengapresiasi. Uskup Barber patut mendapatkan acungan jempol atas keramahan dan kemampuan berkomunikasinya yang membuat kami yang baru saja bertemu ini merasa seperti keluarga.

Selengkapnya unduh di sini