Akademi Milenial Basmi Hoax: Upaya Mengikis Perpecahan dalam Persatuan Bangsa

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Jakarta, kabardamai.id – Yayasan Mulia Raya menggandeng Generasi Literat menggelar Program Akademi Milenial Basmi Hoax (MBH) yang diikuti oleh 170 milenial dari 34 Provinsi di Indonesia. Rangkaian Akademi MBH dimulai dengan workshop daring selama tiga hari yang dibagi dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama 9-11 Juli dan gelombang kedua 16-18 Juli 2021.

Workshop diisi oleh para mentor ahli dengan materi yang relevan. Diantaranya literasi agama dan budaya, penguatan common ground untuk perdamaian, literasi digital untuk counter hoax, berpikir kritis, team building dan manajemen organisasi, dan kemampuan praktis seperti creative writing dan storytelling untuk perdamaian.

Setelah mengikuti workshop, 170 milenial akan melakukan kampanye anti hoax melalui tulisan dan cerita yang mengangkat nilai-nilai persaudaraan, gotong-royong, toleransi, dan persatuan, yang tercermin dalam kearifan lokal di 34 Provinsi Indonesia.

Baca Juga: HMI dan GMKI Sumut Bersatu Bumikan Pancasila, Perkokoh NKRI

Menurut Pendeta Frangky Tampubolon, Direktur Eksekutif Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang menjadi mentor penguatan common ground untuk perdamaian, mengungkapkan bahwa banyak sekali hoaks dan hate speech yang mengatasnamakan isu agama. Karena itu millenial dituntut untuk bijak membaca dan mencegah hoaks atas nama agama.

“Sebenarnya agama-agama di Indonesia adalah agama yang penuh cinta saya tidak pernah menemukan satu agamapun yang mengajarkan kebencian,” ungkapnya  saat menjadi mentor Akademi Milenial Basmi Hoaks, Jumat (09/07/2021).

Inaya Wahid mentor storytelling untuk membasmi hoaks juga memberikan penguatan untuk memicu semangat milenial membasmi hoaks.

“Hanya karena milenial berbeda bukan berarti tidak punya kepedulian. Milenial harus punya kepedulian basmi hoax,” terang Inaya.

Mentor Literasi Agama dan Budaya yaitu Musdah Mulia juga menguatkan pandangan pendeta Frangky mengenai esensi kedamaian dalam beragama.

“Esensi agama adalah menciptakan kedamaian dan kebahagiaan. Keduanya daat diwujudkan menakala pemeluk agama memiliki literasi agama yang kuat, salah satu indikasinya adalah menjauh semua betuk hoax berbasis agama,” beber Musdah memaparkan esensi agama dan perdamaian.

Musdah lalu memaparkan bahwa agama seharusnya menjadi sumber kebaikan, namun terkadang berubah menjadi bencana ketika pemeluk agama membenarkan penggunaan semua cara dalam berdakwah termasuk didalamnya adalah menebarkan hoax.

Agama mengajarkan, menebarkan hoax adalah dosa besar karena hoax identik dengan fitnah. Keduanya diancam dengan azab yang amat pedih di hari kemudian. Sementara di dunia ini pelakunya merasakan kegelisahan akibat dosa yang diperbuatnya.

“Milenial harus berada di garda depan upaya basmi hoax. Sebab merekalah kelompok yang paling dirugikan secara fisik, mental dan spiritual akibat penyebaran hoax yang tak terkendali,” pungkasnya.

Terakhir, Yunianti Chuzaifah mentor materi berpikir kritis juga menerangkan lebih jauh tentang peranan milenial dalam membasmi hoaks.

“Millenials sebagai motor transisi peradaban digital, seharusnya memiliki ketajaman intelektual da kepekaan nurani sebagai scaner untuk menghentikan penyebaran hoax di media sosial,”tutupnya

Tujuan Akademi MBH adalah menjadikan milenial se-Indonesia sebagai agen perubahan yang terdepan meng-counter hoax dengan mengampanyekan nilai-nilai kearifan lokal. Mulai dari persaudaraan, toleransi, gotong royong, dan persatuan. program ini lahir dari banyaknya hoax yang beredar, khususnya sepanjang pandemi Covid-19.

Beberapa hoaks yang beredar seperti Covid adalah konspirasi, vaksin dapat membunuh, kluster Covid terbanyak disebarkan oleh pendeta, bahan makanan akan habis, serta Covid bisa menular lewat produk Cina.

Akibat paling besarnya adalah, hoax berpotensi memecah persatuan dan kesatuan bangsa. Program ini diharapkan mampu mengangkat cerita baik dalam kearifan lokal setiap daerah di Indonesia untuk meng-counter dan meminimalisir penyebaran hoax di masa pandemi.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu