International Women of Courage Award

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Musdah Mulia 

Suatu hari di awal Januari 2007 saya menerima telpon dari kedutaan Amerika. Telpon itu dari sahabat yang sudah lama bekerja di sana, saya biasa memanggilnya bu Toto. Dia bilang saya diharapkan datang ke kedutaan bertemu atasannya. Waktu itu saya sedang berada di Solo dalam sebuah pelatihan HAM untuk pengurus Fatayat NU. Dua hari kemudian baru saya memenuhi undangannya, datang ke Kedutaan Amerika, di sana telah menunggu seketaris Dubes Amerika.

Saya bertanya-tanya dalam hati, ada apa saya dipanggil, biasanya saya ke kedutaan hanya untuk urusan visa. Sejak tahun 2000, saya sudah mendapatkan visa lima tahunan dari Kementerian Luar Negeri Amerika. Hal itu mungkin karena saya adalah alumni Pendidikan Visitor Program Amerika. Tak lama saya masuk, seketaris Dubes berkata : ”Congratulation Musdah, anda termasuk salah satu penerima International Woman of Courage Award tahun 2007.”

Saya spontan merespon: terimakasih banyak, boleh tahu mengapa saya terpilih sebagai pemenang? Beliau menjawab diplomatis: “penghargaan ini khusus bagi perempuan di seluruh dunia yang telah menunjukkan kepemimpinan, keberanian, kecerdasan dan kesediaan berkorban dan perjuangan tiada henti bagi upaya mempromosikan demokrasi dan hak-hak asasi manusia, khususnya hak-hak asasi perempuan.” Dia menambahkan lagi, penghargaan ini akan diberikan pada tanggal 8 Maret sebagai momen peringatan Hari Perempuan se-dunia, dan diadakan di Gedung Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Washington D.C.
Dia kemudian menjelaskan, untuk memilih pemenang, panitia penghargaan telah menyeleksi kandidat sebanyak 120 perempuan dari 65 negara, selanjutnya para kandidat tersebut disaring lagi berdasarkan rekam jejak mereka untuk kemudian dipilih sebanyak sembilan orang yang akan mewakili seluruh dunia. Misi diplomatik Amerika di luar negeri bisa mencalonkan satu orang dari setiap negara. Para finalis itu diteliti rekam jejaknya sesuai katageri yang ditentukan untuk kemudian disetujui pihak kementrian luar negeri.


Kementerian luar negeri Amerika Serikat di Indonesia memilih saya untuk mewakili bukan hanya Indonesia, melainkan wilayah Asia Pasifik dalam International Women of Courage Award tahun ini. Para perempuan yang menerima penghargaan, urutannya sebagai berikut.
1. Ruth Halperin-Kaddari dari Israel
2. Jennifer Louise Williams dari Zimbabwe
3. Musdah Mulia dari Asia Pasifik
4. Ilze Jaunalksne dari Latvia
5. Samia al-Amoudi dari Arab Saudi
6. Mariya Ahmed Didi dari Maladewa
7. Susana Trimarco de Veron dari Argentina
8. Aziza Siddiqui dari Afghanistan
9. Sundus Abbas dari Iraq

Dari panitia saya mendapatkan informasi bahwa urutan itu berdasarkan ranking atau tingkat kesulitan dan beratnya perjuangan yang dihadapi para penerima award. Ohh… berarti kesulitan dan beratnya perjuangan yang saya lalui berada di urutan ketiga dari sembilan penerima award. Saya baru tahu ini, selama ini saya pikir perjuangan saya biasa saja, sungguh saya tak pernah berharap apalagi mendambakan akan menerima award atas berbagai aktivitas yang saya lakukan, khususnya terkait upaya perlindungan HAM, termasuk hak asasi perempuan, anak dan kelompok minoritas. Tiga golongan inilah yang sering disebut sebagai kelompok rentan yang hak asasinya paling banyak diabaikan. Selama ini saya melakukannya karena meyakini betul itulah yang harus saya lakukan sebagai seorang yang beriman (sebagai khalifah fil ardh) dan sekaligus bentuk tanggungjawab saya sebagai ilmuwan agar menjadi rahmatan lil alamin.

Tidak sedikit yang mempertanyakan mengapa para pemenang umumnya berasal dari negara-negara Islam atau mayoritas penduduknya beragama Islam? Kalau bukan negara Islam, negara yang penuh konflik dan masih berjuang membangun demokrasi. Para pemenang penghargaan umumnya berasal dari negara Islam karena para perempuan di wilayah tersebut menghadapi tantangan berat dan kesulitan sangat besar dalam upaya penegakan nilai-nilai demokrasi dan HAM.

Berangkat ke Washington DC
Suami saya juga berkeinginan mendampingi ke Washington. Seminggu sebelum berangkat, kami diundang khusus ke Kedutaan A.S untuk urusan visa, dan kami berdua mendapatkan visa khusus untuk perjalanan mendadak ini. Setelah urusan visa rampung kami diajak ke ruangan Dubes Amerika. Suatu pertanyaan yang menohok dari Pak Dubes, “apa yang ingin Musdah sampaikan ke Presiden Amerika jika bertemu beliau nanti?”. Waktu itu Bush menjabat sebagai Presiden Amerika, dia dikenal sering menggunakan pendekatan kekerasan dalam kebijakan internasionalnya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menjawab: saya akan sampaikan ke Presiden Bush agar tidak menggunakan kekerasan sebagai solusi dalam menangani berbagai konflik internasional. Bagi saya, tindakan kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah lain. Dubes lalu merespon: “go ahead, Presiden Amerika sangat terbuka dengan siapa pun”. Ketika bertemu Presiden Bush saya katakan sesuai yang saya sampaikan saat bertemu Dubes AS di Jakarta. Presiden Bush hanya tersenyum mendengar apa yang saya katakan. Pernyataan saya itu dimuat di koran ternama Washington Post, tertulis di halaman pertama: Stop War, a Voice from Indonesia!

Saya dan suami berangkat ke Washington DC pada tanggal 05 Maret 2007, kami dijemput langsung oleh panitia penyelenggara di bandara dan selanjutnya dibawa ke hotel yang berlokasi dekat dengan Gedung Putih, kediaman Presiden A.S. Kami punya waktu dua hari sebelum acara penerimaan award berlangsung. Selama menunggu acara inti, panitia sudah membuatkan acara kunjungan ke berbagai tempat bersejarah seperti Gedung Kongres, Perpustakaan, Museum dan Monumen Nasinal serta tempat bersejarah lainnya. Dua hari itu sangat padat dengan kunjungan dan pertemuan.

Panitia menyediakan fasilitas dan kenyamanan saat kami di Washington, mulai dari hotel yang sangat nyaman untuk kami, kunjungan ke berbagai tempat bersejarah, pertemuan dengan sejumlah tokoh ternama di Amerika, serta para tokoh perempuan pejuang. Kami juga diwawancari oleh jurnalis terkemuka, baik secara online maupun offline. Terakhir, saya diundang untuk wawancara eksklusif oleh Voice of Amerika. Bagi VOA, apa yang saya lakukan sangat menginspirasi dunia, betapa seorang perempuan Muslim memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan HAM di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya mengerti demokrasi dan sebagiannya justru masih bersikap anti-HAM.

Keberanian Perempuan Penerima Award
Dari namanya, International Woman of Courage Award, kriteria utama penelitian adalah keberanian memperjuangkan hak asasi manusia meski tantangannya sangat berat. Para perempuan penerima award itu telah berjuang sepenuh hati, bahkan tanpa memikirkan keselamatan jiwanya. Mereka menghadapi tantangan, baik berupa budaya patriarkal yang sangat kuat, tantangan struktural yang masih feodalistik, serta resistensi tokoh agama dan kelompok Islamis yang masih anti terhadap nilai-nilai demokrasi dan HAM karena memandang keduanya adalah produk Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak mudah bagi para perempuan tersebut mengkampanyekan nilai-nilai demokrasi dan HAM, khususnya hak-hak perempuan. Namun, mereka juga bukan orang yang mudah menyerah dan faktanya kegigihan dan keuletan mereka berhasil, meski tidak seluruhnya. Mereka berhasil melepaskan sebagian perempuan dari kungkungan budaya patriarki sehingga secara pelan tapi pasti, perempuan mulai menyadari hak-hak asasinya sebagai manusia dan sebagai warga negara penuh yang harus dilindungi negara. Perempuan mulai berani tampil di ruang publik menyuarakan kepentingan mereka dan masyarakat luas.

Masalahnya, kebanyakan umat Islam masih memandang HAM bertentangan dengan ajaran Islam, padahal penegakan HAM merupakan pilar utama dari penegakan demokrasi dan inti demokrasi telah diperkenalkan oleh Rasulullah SAW pada abad ke-7 Masehi dengan konsep Negara Madinah yang selanjutnya dikembangkan oleh para Khulafa Rasyidin.

Tidak mudah bagi para perempuan Islam untuk menegakkan nilai-nilai HAM karena para pemuka Islam cenderung mengabaikan penegakan HAM terutama hak asasi perempuan, bahkan tidak sedikit menganggap perempuan tidak memiliki hak apa pun. Masih ada masyarakat yang menganggap perempuan hanyalah objek belaka atau sekadar milik keluarga atau milik dari para lelaki. Tidak heran jika perempuan dianggap sekadar konco wingking, hanya pantas berada di area kasur, sumur dan dapur. Pandangan jahiliyah ini harus dihapuskan karena bukan hanya menggerus kemanusiaan perempuan, melainkan juga merugikan bangsa, merugikan negara, juga menodai kemuliaan Islam itu sendiri. Bahkan, mencabik bangunan peradaban manusia. Amat mengerikan!

Sebelum acara penerimaan award, kami semua dikumpulkan dalam sebuah forum round table discussion, di sinilah kami saling mengenal satu sama lain secara lebih intens. Kami semua diminta menjelaskan aktivitas terkait upaya penegakan demokrasi, penegakan HAM, terutama hak asasi perempuan, hambatan dan tantangan serta strategi yang kami tempuh, serta harapan dan saran kepada panitia penyelenggara, sekaligus juga masukan untuk pemerintah A.S. Di saat itulah panitia membagikan kepada kami sebuah file berisi identitas penerima award lengkap dengan aktivitas mereka selama ini. Bukan sekedar CV, tetapi lebih mirip kisah perjuangan yang ditulis secara obyektif tanpa melibatkan subyek yang ditulis. Rupanya panitia telah bekerja keras mengumpulkan semua jejak rekam kami selama ini sehingga pertemuan tersebut hanyalah mengkonfirmasi data yang sudah terkumpul. Kami saling berpandangan membaca file tersebut, sungguh patut diapresiasi kerja penyelenggara award ini.

Pertemuan ini berlangsung lebih lama dari waktu yang dijadualkan, lebih dari empat jam. Setiap penerima award punya cerita unik yang berbeda dari lainnya, kami menyimak pengalaman satu sama lain dengan penuh rasa empati, ada bagian yang mendebarkan, bahkan muncul ketegangan dan ketakutan luar biasa mendengar ancaman pembunuhan, tetapi juga ada bagian yang kocak dan lucu sehingga mengundang tawa kami semua, dan pada bagian cerita sedihnya tak ada komando, kami pun segera larut dalam kesedihan sampai menitikkan air mata.

Para perempuan yang mendapatkan penghargaan ini memiliki keberanian luar biasa, bahkan berani menerjang berbagai rintangan dan tantangan demi penegakan hak-hak asasi manusia, khususnya hak asasi perempuan dan anak semata demi kepentingan kemanusiaan. Namun, oleh masyarakatnya mereka dianggap sebagai para perempuan yang melanggar ajaran agama, dan tidak sedikit dari mereka dikafirkan dan dianggap murtad dari agamanya sehingga beberapa dari mereka dihalalkan darahnya atau diancam untuk dibunuh. Sundus Abbas asal Irak misalnya, sampai mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan oleh kelompok fundamentalis Islam karena dianggap mata-mata Barat yang akan merusak akidah umat Islam. Demikian juga dengan Aziza Siddiqui dari Afghanistan dan Susana Trimarco de Veron dari Argentina, keduanya dicurigai sebagai provokator, perempuan pemberontak yang berbahaya karena menentang pemerintah yang represif dan diktator.

Lain lagi cerita Ruth Halperin-Kaddari dari Israel. Dia berwarganegara Israel tapi sangat peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak. Dia lalu bekerja menghimpun bantuan kemanusiaan serta membela secara massif para perempuan di Palestina yang dianggap musuh bebuyutan Israel. Dia dicurigai membela kepentingan musuh, padahal sejatinya dia membela kemanusiaan. Ruth lantang berbicara bahwa meskipun Palestina itu musuh bebuyutan Israel, namun hak asasi manusia penduduknya jangan dirampas, terutama kaum perempuan dan anak-anak. Baginya, siapa pun, termasuk mereka yang dipandang sebagai musuh, tidak boleh dirampas hak asasinya, mereka tidak boleh mengalami kekerasan dan penderitaan untuk alasan apa pun, termasuk alasan perang dan konflik. Saya pribadi amat mengagumi sosok Ruth ini. Tidak semua orang mampu bersikap empati dan solidaritas kepada mereka yang dianggap musuh.

Hal serupa dilakukan oleh Jennifer Louise Williams dari Zimbabwe dan Ilze Jaunalksne dari Latvia, mereka adalah dua perempuan yang sangat gigih menegakkan prinsip demokrasi melalui upaya penegakan hak asasi perempuan. Mereka terang-terangan melawan pemerintahnya yang korup dan tiranik. Begitu juga yang dilakukan penerima award dari Maladewa bernama Mariya Ahmed Didi. Dia adalah perempuan yang sangat berani melawan rezim otoriter di negaranya, dia tidak pernah merasa gentar di bawah todongan senjata. Menurutnya, rakyat Maladewa, khususnya para perempuan berhak mendapatkan kebebasan dari kungkungan pemuka agama dan pemerintah yang otoritarian. Perempuan jangan disuruh diam, tetapi pemerintahlah yang harus memenuhi hak-hak asasi warganya, terutama kaum perempuan. Dengan ungkapan lain, pemerintah harus berubah menjadi demokratis.

Cerita dari penerima award asal Arab lebih mengenaskan lagi. Dia adalah Samia al-Amoudi, seorang ilmuwan berprofesi sebagai dokter ahli kanker sekaligus juga Wakil Rektor Universitas King Abdul Aziz di Saudi Arabia. Samia bekerja mengedukasi perempuan Arab sehingga terhindar dari penyakit kanker payudara yang merupakan pembunuh nomor satu bagi perempuan muda di Arab Saudi. Untuk itulah dia sangat aktif memberikan penyuluhan dan mengedukasi masyarakat, terutama perempuan tentang bagaimana mencegah dan mengatasi penyakit kanker, khususnya kanker payudara. Dalam berbagai penyuluhan dan pembelajaran yang dia sampaikan di masyarakat, baik melalui televisi, radio dan media elektronik lainnya, dia terpaksa harus menunjukkan gambar payudara dan organ perempuan lainnya yang terkait dan beresiko terkena kanker.

Namun, aktivitasnya itu disalahpahami oleh ulama konservatif dan kelompok fundamentalis Islam. Dia dituduh melegalkan aksi pencabulan dan pornografi sehingga ditangkap polisi. Parahnya lagi, suaminya pun marah kepadanya lalu menceraikannya. Akan tetapi, anak-anak Samia memihak dia, termasuk anak tirinya gigih membelanya. Menurut Samia, kurangnya literasi kesehatan terkait organ-organ payudara menyebabkan penyakit ini mengganas di masyarakat, padahal penyakit itu bisa dicegah dengan perawatan organ-organ tubuh secara benar. Meski ditangkap polisi dan diceraikan suami serta dikucilkan dari masyarakatnya, Samia tidak bergeming dan terus melanjutkan perjuangannya meski mendapatkan tantangan yang betubi-tubi baik dari keluarga maupun masyarakatnya.

Saya sangat terpukau mendengar penjelasan yang sangat menyentuh dari para penerima award. Mereka bukan perempuan bisa, melainkan perempuan luar biasa, perempuan yang berani keluar dari kotaknya, bahkan keluar dari zona nyaman demi bertarung dan berjihad membela kelompok tertindas yang dalam Qur’an disebut sebagai kelompok mustadh’afin. Itulah jihad yang hakiki. Saya sungguh mengapresiasi mereka karena kehadiran mereka menguatkan konsen dan tekadku selama ini untuk membela nilai-nilai kemanusiaan. Saya merasa mereka adalah potret dan cermin hidup dari aktivitas dan perjuanganku selama ini.

Berdasarkan temuan panitia, saya menerima berbagai ancaman, terutama berupa intimidasi dan teror, termasuk ancaman pembunuhan. Menurut penyelenggara, saya terpilih antara lain karena berani mengajukan usulan pembaruan hukum keluarga Islam dalam bentuk Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD KHI). Dalam dunia Islam, semua hukum dapat berubah tanpa menghadapi resistensi berarti dari kelompok mana pun. Lihat saja bagaimana perubahan hukum Islam terkait perdagangan, politik, hubungan internasional dan seterusnya terjadi tanpa penolakan. Tidak demikian halnya dengan hukum keluarga Islam, termasuk di dalamnya hukum perkawinan. Hampir semua umat Islam meyakini, hukum keluarga adalah bersifat sakral, tak boleh diutak-atik, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya sebagai hukum yang mutlak karena sepenuhnya dianggap datang dari Tuhan. Hukum keluarga dipandang sebagai esensi Islam yang tak boleh berubah. Upaya mengubahnya dimaknai sebagai mengubah teks suci. Ini sangat aneh! Tidak heran jika saya mendapatkan resistensi yang luar biasa dari semua pihak, bahkan juga dari pihak yang mengaku kelompok Islam moderat.

Prestasi kedua yang saya lakukan menurut panitia adalah mengedukasi masyarakat dengan tawaran konsep Muslimah Reformis. Gagasan Muslimah Reformis yang saya hadirkan pada tahun 2004 berisi pemikiran pembaruan interpretasi Islam ke arah pandangan yang lebih humanis dan egalitarian, kompatibel dengan nilai-nilai kemanusiaan universal serta akomodatif terhadap nilai-nilai luhur Pancasila dan prinsip HAM. Semua yang hadir di forum itu memberikan apresiasi kepada saya dan sungguh itu menjadi pendorong dan penyemangat bagi saya untuk lebih intens lagi dalam mengedukasi masyarakat.

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari cerita perjuangan perempuan para penerima award tersebut. Salah satunya, jangan pernah takut menghadapi rintangan dan tantangan sekeras apa pun itu, termasuk ancaman pembunuhan. Hambatan bukan hanya datang dari masyarakat luas, tapi bisa datang dari dalam keluarga sendiri, seperti suami, anak-anak dan anggota keluarga lain. Rintangan pun sangat beragam: berupa ideologi, budaya patriarkal, sistem politik dan kebijakan publik, sistem pendidikan, norma-norma adat, struktur hukum yang bias gender dan interpretasi keagamaan yang sangat misoginis dan merendahkan perempuan.

Dalam forum yang amat mengesankan ini, beberapa kali kami tanpa sengaja menitikkan air mata, ada juga yang tak mampu menahan diri dan meledaklah tangis yang melukiskan betapa berat hambatan yang dihadapinya. Kami semua mengakui mengalami berbagai kekerasan, memang tidak semua mendapatkan kekerasan fisik tapi ancaman pembunuhan merupakan hal biasa bagi kami. Kekerasan terbanyak yang kami hadapi berwujud kekerasan psikis (teror mental), antara lain berupa intimidasi, teror, pelabelan negatif, stigma dan bullying. Kami yang berasal dari masyarakat Islam selalu dituduh keji sebagai agen asing dan mata-mata Barat, intel Amerika, intel Yahudi, musuh Islam yang bertujuan menghancurkan akidah, dicap kafir, murtad dan dajjal. Sebaliknya, penerima award yang non-Muslim dan berasal dari negara negara bukan Islam juga mendapatkan stigma dan anacaman yang tak kalah kejinya. Ruth dari Israel dicap sebagai mata-mata Islam yang akan menghancurkan kemegahan Israel, lainnya dituduh agen Amerika, bahkan ada yang divonis sebagai agen teroris. Jadi, menurut saya, setiap perjuangan itu pasti ada hambatannya. Bukan perjuangan namanya jika tidak menghadapi rintangan dan hambatan. Inilah jihad yang sebenarnya dalam Islam, jihad melawan ketidakadilan, membasmi kebiadaban, jihad menegakkan perdamaian dan peradaban untuk kemaslahatan semua manusia, bahkan semua mahkluk di alam semesta.

Pertemuan tersebut menyimpulkan, inti perjuangan kami para penerima award itu hakikinya sama, yakni membangun peradaban melalui upaya penegakan nilai-nilai kemanusiaan universal, penguatan demokrasi, perlindungan HAM, utamanya hak asasi perempuan dan anak serta pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan. Hambatan dan tantangan yang kami hadapi pun tidak berbeda satu sama lain, kami menghadapi kondisi masyarakat yang miskin dan tak berpendidikan, rezim pemerintahan yang abai terhadap HAM dan demokrasi, masyarakat yang diliputi konflik dan pertikaian antar suku, resistensi dari tokoh agama konservatif, kelompok fundamentalis agama, tokoh politik yang korup dan kelompok masyarakat yang tak mau berubah karena tak mau keluar dari zona nyaman serta kelompok masyarakat yang apatis sehingga tak punya gairah lagi untuk berubah.

Pengalaman diskriminatif perempuan kulit hitam
Tibalah hari penerimaan award yang berlangsung di Gedung Kementerian Luar Negeri Amerika, pukul 09.00-13.00 waktu Amerika. Kami sudah berada di sana sejak pukul 08.00 pagi. Acara formal tersebut dihadiri oleh para pejabat tinggi negara Amerika Serikat dan para duta besar dari berbagai negara sahabat A.S, khususnya negara-negara asal dari penerima award. Acara ini juga dicover oleh sejumlah media internasional sehingga bergema ke seluruh dunia. Setelah berakhir acara resmi berisi sambutan-sambutan, kami semua penerima award diminta naik ke panggung untuk menerima plakat penghargaan yang diserahkan langsung oleh Menteri Luar Negeri A.S, Condoleezza Rice, dia merupakan perempuan kulit hitam pertama yang berhasil menjadi Menteri Luar Negeri di Amerika Serikat.

Setelah acara formal usai, kami para penerima award diundang ke ruangan khusus untuk makan siang bersama Condoleezza Rice. Makan siang ini terasa penuh aura kebahagiaan, tidak ada rasa kikuk karena kami semua sudah saling mengenal dan Rice, demikian panggilan akrab ibu Menlu A.S juga tampil hangat dan terbuka. Pada saat itulah beliau bercerita tentang masa kecilnya, bagaimana perempuan, khususnya kulit hitam mendapatkan perlakuan disktiminatif dan rasis. Seperti diketahui, bahwa tahun 1970-an ke bawah, bahkan masih terjadi sekarang, masyarakat kulit hitam mendapatkan diskriminasi yang sangat menyakitkan di Amerika Serikat. Suatu hari Rice kecil diajak oleh ibunya pergi ke toko topi, pemilik toko menghalangi ibunya dan dia untuk memasuki toko tersebut hanya karena mereka berkulit hitam. Pengalaman pahit tersebut amat berbekas di hati Rice. Dia merasakan betul, betapa menyakitkannya menjadi kelompok minoritas yang diperlakukan diskriminatif.

Pengalaman lain, Rice bersama ibunya masuk ke sebuah toko yang menjual peralatan dan pernak-pernik untuk perayaan Natal, ketika Rice memegang salah satu mainan, tiba-tiba penjaga toko memukul tangan Rice sambil menghardik: “kamu tidak boleh memegang mainan ini”. Ibunya lalu menghibur Rice dengan mengatakan: ”Rice, kamu harus sekolah sampai sarjana sehingga kamu mendapatkan pekerjaan bagus dan kelak kembali ke toko ini. Kita akan beli semua barang yang ada di toko ini, bahkan juga sekalian dengan pemiliknya.” Ucapan sang ibu amat membekas di hati Rice. Sejak itu dia berusaha menjadi siswa teladan di sekolah dan kemudian bertekad sangat kuat menyelesaikan pendidikan tinggi sehingga menjadi doktor dalam bidang politik internasional dan selanjutnya berkarir dalam dunia diplomat.

Rice dengan wajah serius menjelaskan: “apa yang saya dapatkan hari ini adalah hasil perjuangan panjang tanpa lelah. Saya telah berjanji pada diri saya untuk berjuang menghapuskan intolerasi dan ketidaksetaraan atas nama apa pun terhadap manusia.” Rupanya pengalaman pahit sebagai perempuan kulit hitam yang mendapatkan perlakuan diskriminatif memicu semangat Rice untuk membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk diskriminasi yang menyakitkan. Pasti perjuangan Rice tidak mudah karena sebagian masyarakat sangat menikmati perilaku diskriminatif tersebut. Selanjutnya, dengan penuh empati, Rice mengatakan: “Saya dapat merasakan dari hati yang paling dalam, bagaimana sulitnya perjuangan kalian semua. Saya tahu kalian semua menghadapi berbagai macam stigma dan tuduhan keji, bahkan di antara kalian mengalami percobaan pembunuhan dari kelompok yang tidak suka pada upaya penegakan demokrasi dan HAM karena upaya kalian pasti mengganggu kenyamanan rezim diktator dan kelompok-kelompok yang diuntungkan oleh situasi itu.” Rice
menutup pembicaraannya dengan mengatakan: “Orang-orang seperti anda semuanya patut diapresiasi karena kalian telah memberi landasan kuat bagi upaya penguatan demokrasi dan HAM serta tegaknya peradaban manusia.”

Setelah acara lunch dan ramah tamah tersebut kami semua lalu diajak berkunjung ke Gedung Putih dengan protokol sangat ketat. Namun kami berbahagia karena menikmati pertemuan singkat dengan presiden Amerika Serikat. Kami mendapatkan kesempatan mengelilingi gedung oval dan beberapa bagian dari Gedung Putih yang sangat fenomenal itu.

Bertemu Anggota DPR di Wisma Duta
Kesokan harinya saya dan suami menerima undangan dari Duta Besar Indonesia di Washington untuk makan malam. Semula kami menolak karena sudah ada agenda lain, tetapi beliau bersikukuh untuk menjemput kami. Akhirnya kami pun memenuhi undangan tersebut. Saat kami sampai di Wisma Duta, kediaman Pak Dubes ternyata yang diundang makan malam bukan hanya kami berdua, melainkan juga sejumlah anggota DPR yang sedang melakukan kunjungan ke Amerika Serikat. Belakangan saya tahu bahwa anggota DPR hanya 10 orang, selebihnya itu adalah anggota keluarga mereka. Rupanya ketika kunjungan resmi atas biaya negara, mereka sering membawa serta isteri dan anak. Hebat juga ya mereka, pikir saya.

Rupanya Pak Dubes punya niatan khusus mengundang kami berdua malam itu. Pak Dubes ingin menyentil para anggota DPR yang jumlahnya banyak beserta keluarganya dan menurut info yang saya dengar malam itu, tujuan mereka pun tak terlalu konkret. Pihak-pihak yang akan mereka temui ternyata belum dikonfirmasi sehingga pertemuan batal. Tibalah saat Pak Dubes memperkenalkan kami berdua di hadapan anggota DPR dan keluarganya yang banyak tersebut. Pak Dubes mengatakan: “kedua suami-isteri ini datang ke Amerika Serikat sepenuhnya atas biaya pemerintah Amerika Serikat dan tidak sedikit pun mereka mengambil uang negara. Pemerintah Amerika bangga dengan kehadiran mereka sebagai penerima award.”

Sebetulnya Pak Dubes menyindir anggota DPR yang jumlahnya banyak itu. Tujuan mereka pun tidak tercapai karena ada mis-komunikasi dengan pihak Amerika, aduhhh.. bayangkan berapa kerugian negara dengan model kunjungan pejabat tersebut, dan itu terjadi berulang, bukan hanya di Amerika. Sebagai rakyat, kita hanya bisa menghimbau, bisakah para pejabat kita memikirkan penggunaan uang rakyat seefisien mungkin? Uang rakyat seharusnya dihabiskan lebih banyak bagi kepentingan rakyat, seperti pendidikan dan pengobatan gratis bagi kelompok miskin serta pelayanan transportasi publik yang nyaman bagi mereka yang berlokasi di wilayah terpencil. Berharap ke depan ada perubahan signifikan dari sikap pejabat. Semoga berubah!

Unduh versi PDF