Puasa sebagai Mekanisme Refleksi Kemanusiaan

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Saya teringat pada satu kisah dalam cerita sufi yang amat mengesankan, cerita tentang orang alim dan pelacur. Dikisahkan, seorang  alim bertetangga dengan seorang pelacur. Setiap kali si orang alim  memandang ke rumah sang pelacur, dia lalu membayangkan pelacur itu sedang berbuat mesum. Dia selalu mengira pelacur itu pasti sedang bermesuman. Prasangka buruk ini merasuki dirinya sedemikian rupa dan membuatnya sangat benci terhadap pelacur. Ingin rasanya dia mengusir pelacur itu, tapi dia takut dituduh tidak bijak, padahal masyarakat terlanjur mengenalnya sebagai orang alim yang bijak.

Sebaliknya, setiap kali si pelacur memandang ke rumah orang alim itu, batinnya meratap sambil berdoa: “betapa mulia-Nya Engkau Tuhan,  Engkau memiliki hamba mulia seperti tetanggaku yang alim ini, dia dihormati dan disegani dalam masyarakat. Orang-orang dari berbagai pelosok berkunjung kepadanya menimba ilmu dan memohon doa restu. Ya Tuhan! Aku sangat ingin seperti dia, hidup terhormat, jauh dari dosa dan maksiat. Tunjukkan aku jalan-Mu, dan jangan Engkau biarkan aku tersesat seperti ini!”.  Demikianlah terjadi setiap hari, orang alim melihat pelacur itu dengan kegeraman dan kebencian. Sebaliknya, si pelacur melihat orang alim dengan penuh takjub dan rasa bangga.

Pendek cerita, tibalah hari pembalasan. Orang alim itu diseret malaikat ke pintu neraka. Dia protes, ”kalian pasti salah orang, tidak mungkin aku masuk neraka, coba periksa kembali buku amalku. Malaikat pun membuka buku amal dan berkata: betul sekali anda tercatat sebagai orang saleh dan sangat alim. Buku ini penuh rekaman amal-kebajikan. Tapi, satu hal  membuat Tuhan murka dan tidak ridha kepadamu, engkau selalu melihat orang lain dengan kacamata hitam dan prasangka buruk”. Contoh konkretnya, engkau selalu melihat pelacur, tetanggamu itu dengan penuh kebencian, tiada belas kasih sedikit pun. Lupakah engkau, bahwa surga dan neraka ciptaan Tuhan untuk hambanya. Hanya Dia yang berhak memilih siapa di antara hamba-Nya akan menghuni surga atau neraka.

Sementara, si pelacur diantar malaikat menuju gerbang Surga, dia pun protes:  ”Kalian tidak salah orang? Rasanya aku tidak pantas masuk surga, buku amalku penuh torehan dosa. Walaupun demikian, kata malaikat,  ada satu hal, tampaknya sepele dan sering diabaikan manusia, justru itu yang membuat Tuhan ridha, engkau selalu menaruh harapan baik kepada Tuhan, dan selalu positif thinking atau husn al-dzan terhadap manusia. Ketahuilah, surga dan neraka, sepenuhnya milik Tuhan. Hanya Dia yang Maha Tahu siapa yang bakal masuk ke dalamnya”.

Kisah sufi ini menginspirasikan kita sebagai hamba yang hina tentang perlunya memiliki harapan baik kepada Tuhan. Begitu sering Qur’an dan hadis Nabi berpesan: ”Jangan pernah putus asa dari rahmat Tuhan.” Ana inda daznni abdi bi (Aku mengikuti perkiraan hambaku). Maksudnya, kalau manusia punya pengharapan baik terhadap-Ku, Aku pun demikian terhadapnya, demikian sebaliknya.

Al-Qur’an juga mengingatkan perlunya selalu positif thinking, berpikir positif dan berprasangka baik kepada sesama manusia. Tidak mudah memang, sebab selalu saja datang godaan membelokkan kita berperilaku seperti perilaku Tuhan, yaitu menghakimi manusia. Sejatinya, hanya Tuhan punya hak prerogatif untuk menghakimi, bukan manusia. Sebagai manusia, kita cukup berfastabiqul khairat, berkompetisi secara sehat melakukan sebanyak mungkin amal kebajikan. Kita tidak tahu pasti, siapa di antara kita diterima amalnya, atau paling banyak amalnya, hanya Dia yang Maha tahu.

Pesan moral paling penting dari kisah sufi tersebut adalah jangan beribadah karena pamrih, termasuk pamrih untuk mendapatkan surga. Apalagi melakukan ibadah untuk pamer dan riya supaya dianggap suci dan saleh. Ini sangat tidak terpuji. Hal yang lebih penting lagi, jangan beribadah untuk mendapatkan simpati dan pujian manusia. Jangan juga menghakimi sesama manusia karena kita bukan Tuhan.

Tuhan tidak pernah memberi mandat kepada manusia untuk menilai dan menghakimi perbuatan sesamanya. Sekali lagi, jangan pernah menghakimi manusia. Mari kita saling mengingatkan saja dengan penuh rasa kasih sayang dengan cara-cara yang bijaksana tanpa ada penghakiman sedikit pun.

Rabi’atul Adawiyah, seorang sufi perempuan ternama, setiap selesai beribadah yang dilakukan sepanjang malam, diakhir sujudnya selalu berdoa: ’’Ya Rabb, andai akau menyembah-Mu hanya karena takut neraka, maka benamkanlah tubuhku ke dalamnya. Andai aku beribadah lantaran menginginkan surga-Mu, jauhkanlah aku darinya. Sebab, aku memuja-Mu demi mengharapkan ridha-Mu semata Ya Rabb”.

Dalam konteks bulan Ramadhan kali ini, puasa hendaknya sungguh-sungguh dilakukan tanpa pamrih apa pun, kecuali mengharap ridha Ilahi semata. Puasa demikian itulah yang mampu mengantarkan kita ke tujuan akhir puasa, yakni menjadi manusia bertakwa (al-Baqarah, 2:183).

Puasa sebagaimana ibadah lainnya memiliki dua dimensi, hablun minallah (hubungan vertikal dengan Tuhan.) dan hablun minannas (hubungan horizontal antar-manusia). Sejatinya, mereka yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan (imanan wa ihtisaban) pasti diampuni segala dosanya dan ditingkatkan kualitas kemanusiaannya menjadi manusia bertakwa.

Seperti apa persisnya manusia bertakwa itu? Sejumlah ayat memberikan indikasi kuat bahwa yang dimaksud adalah manusia yang memiliki integritas keimanan dan moralitas sempurna (akhlaq karimah). Manusia yang sudah sampai pada penghayatan esensi agama, yakni memanusiakan manusia.

Sekali lagi, puasa pada hakikatnya adalah sebuah mekanisme refleksi kemanusiaan. Puasa punya efek memupuk budaya cinta dan damai, bukan kemarahan, kebencian, apalagi kekerasan. Puasa mengajarkan budaya kesetaraan, tidak satu pun manusia boleh diperlakukan semena-mena, baik dalam bentuk diskriminasi, eksploitasi maupun kekerasan, untuk alasan apa pun. Seharusnya, dengan berpuasa kita menjadi lebih berempati kepada sesama, santun, rendah hati, serta lebih bijak sehingga tercipta damai dan harmoni dalam kehidupan bersama. Wallahu a’lam bi as-shawab.

Musdah Mulia