Perspektif Islam tentang Mendengar dengan Aktif

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Mari kita renungkan sejenak!  Allah swt menciptakan setiap organ tubuh manusia dengan fungsinya masing-masing yang luar biasa. Menarik dicermati, Allah membekali manusia dengan dua telinga dan hanya satu mulut. Hal ini tentu punya maksud tertentu. Dengan begitu manusia sebaiknya lebih banyak mendengar ketimbang banyak bicara. Lagi pula, semakin banyak kita bicara, semakin sedikit kita berpikir.

Kemampuan mendengar ini harus kita bangun. Mengapa kemampuan mendengar ini begitu penting? Dalam lingkungan keluarga maupun relasi sosial pada umumnya, gangguan hubungan biasanya banyak disebabkan karena komunikasi yang kurang baik. Pembicaraan yang tidak menyenangkan akan menimbulkan ketidaknyamanan, ketersinggungan, amarah, bahkan konflik. Itu semua muara dari pembicaraan yang tidak ramah dan tak menyenangkan. Fatalnya, kebanyakan kita kurang sabar dalam mendengar, tidak tahan mendengar lama. Akibatnya, baru mendengar sepotong sudah berani mengambil kesimpulan.

Kita hendaknya terus berupaya untuk bisa menjalin komunikasi yang sungguh-sungguh agar dapat menimbulkan kenyamanan, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun orang lain. Ada baiknya kita membiasakan diri hanya mengkomunikasikan ucapan-ucapan yang indah, bermanfaat, dan punya efek kemaslahatan. Kemampuan berkomunikasi yang baik ini hendaknya terus kita latih.

Al-Quran dalam beberapa ayatnya menyatakan bahwa ucapan yang indah itu jauh lebih bermanfaat daripada bantuan lainnya. Hal ini dikuatkan dengan hadis Nabi. Rasulullah menganjurkan kita, umatnya, untuk berhati-hati terhadap ucapan dan kalimat-kalimat yang kita sampaikan. Karena ucapan atau kalimat yang keluar dari mulut kita itu ada efeknya terhadap orang lain. Dalam konteks inilah Islam mengajarkan kita agar membiasakan diri untuk mengucapkan kata-kata yang indah seperti kalimat basmalah (Bismi ‘Llahi ‘l-Rahmani ‘l-Rahim).

Dengan mengucap kalimat basmalah itu sebenarnya kita menanamkan suatu komitmen pada diri kita. Memancangkan niat bahwa kita hanya akan berbicara hal-hal yang mengandung unsur-unsur kasih sayang. Al-Rahman itu menyimbolkan perasaan kasih sayang.  Sedangakan  al-Rahim itu menyiratkan cinta kasih yang dalam.

Dengan mengucapkan basmalah, kita berharap semua ucapan dan perilaku kita itu selalu mengedepankan unsur cinta dan kasih sayang. Meskipun kita sedang marah atau benci, tapi kemarahan dan kebencian itu tidak membuat kita kehilangan akal sehat dan niat baik serta cinta dan kasih sayang. Kemarahan itu tidak menimbulkan hal-hal yang membuat orang lain merasa tidak nyaman dengan kita.

Agama adalah pedoman utama kita dalam menjaga lisan agar tidak mudah mengucapkan sesuatu atau berkomunikasi yang menyakitkan dan membuat orang lain tak nyaman. Agama juga mengajarkan pada kita untuk lebih banyak mendengar. Mendengar apa saja. Dan dari mendengar itu kita lalu menganalisis dan memilah-milah mana yang manfaat dan mana yang tidak manfaat. Yang tidak manfaat segera kita buang, bukan disebarkan apalagi dibesar-besarkan sehingga menjadi fitnah.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, pernah mengatakan: “Perhatikan apa yang orang katakan. Jangan perhatikan siapa yang mengucapkannya.” Ucapan yang baik itu bisa jadi datang dari anak-anak kecil atau dari orang-orang yang tidak kita duga. Kalimat-kalimat yang mereka sampaikan itu bisa jadi justru mengandung hal-hal yang bermanfaat bagi kemanusiaan kita. Ucapan Ali tersebut mengajak kita untuk banyak mendengar. Bukankah salah satu sifat terpuji Allah swt adalah Maha Mendengar? Tuhan saja mau mendengar apalagi kita hamba-Nya. Mari menjadi pendengar yang bijak.

Belajar mendengar itu sama dengan belajar memahami kualitas kemanusiaan itu sendiri. Agama adalah pedoman yang mengajarkan kita bagaimana mendengarkan suara-suara di alam semesta. Darimana pun datangnya. Islam adalah agama garda depan yang bicara tentang bagaimana kita wajib mendengarkan berbagai macam suara. Bukan hanya suara yang datang dari dalam diri kita, tapi juga yang datang dari diri orang lain, bahkan dari alam semesta ini.

Dalam pengasuhan anak, mendengar pendapat anak, mendengar keluhan mereka, mendengar aspirasi mereka adalah sangat penting. Penting bagi pertumbuhan mereka menjadi manusia dewasa yang bijak, dan juga penting buat kita sendiri sebagai orang tua agar mengambil keputusan yang bijak terkait kepentingan mereka. Sebab, seringkali keputusan kita sebagai orang tua hanya berdasarkan emosi dan luapan rasa sesaat, bukan dibuat berdasarkan kepentingan dan kebutuhan asasi anat tersebut. Akibatnya keputusan dan kebijakan yang kita ambil itu justru menjerumuskan mereka ke jurang kehancuran tanpa kita sadari.

Karena itulah, mari dengarkan dan simak dengan sabar serta penuh empati apa yang anak-anak inginkan, apa yang mereka cita-citakan dan apa yang mereka impikan dalam hidupnya. Waspadalah terhadap firman Allah swt berikut:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar (al-Nisa, 4:9).

 Islam mengajarkan kita agar lebih memperhatikan kualitas kemanusiaan dari anak-anak yang kita lahirkan, bukan kuantitasnya.

 

-Musdah Mulia-