Pentingnya Aqidah Tauhid

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Tauhid secara bahasa memiliki mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa sesuatu itu satu. Secara istilah, tauhid berarti meyakini hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yaitu Allah swt. Dia lah pencipta manusia dan alam semesta. Semua makhluk, termasuk manusia berasal dari Allah swt dan akan kembali kepada-Nya. Itulah sebabnya, syahadat (testimoni Islam) berbunyi: asyhadu an la ilaha illa allah, wa asyhadu anna Muhammad rasulullah (tidak ada tuhan selain Allah swt, dan Muhammad adalah rasul-Nya).

Dengan syahadat tersebut umat Islam berkomitmen hanya menuhankan Allah swt dan meyakini Muhammad saw sebagai rasul-Nya. Umat Islam berkomitmen tidak menuhankan tuhan-tuhan lain berupa manusia (penguasa, pengusaha, pemimpin agama dan seterusnya), atau berupa kekuasaan, harta, ideologi, kemampuan akal, partai politik, organisasi, suku, dan sebagainya. Dengan ungkapan lain, tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah swt dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa pasrah, cinta, harap dan takut hanya kepada-Nya.

Aqidah tauhid adalah inti ajaran Islam yang mengajarkan kepada manusia bagaimana berketuhanan yang benar dan selanjutnya menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan yang benar. Dalam kehidupan sehari-hari, tauhid menjadi pedoman utama yang membimbing dan mengarahkan manusia untuk bertindak benar, baik dalam hubungannya dengan Allah swt, dengan sesama manusia, maupun dengan alam semesta. Bertauhid yang benar akan mengantarkan manusia kepada kehidupan damai dan bahagia, di dunia dan di akhirat.

Tauhid bukan sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan memosisikan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, dan kezaliman. Itulah tauhid yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah Muhammad saw..

Setiap Muslimah dan Muslim wajib mengamalkan nilai-nilai tauhid sebagai konsekuensi logis dari keislaman mereka. Dengan mengamalkan nilai-nilai tauhid, maka manusia terdorong untuk menegakkan nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kebebasan. Jadi, kalau kita mengaku beragama Islam, kewajiban kita adalah mengamalkan dan mendakwahkan secara bijak ketiga nilai tersebut yang merupakan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Nilai-nilai keadilan mendorong kita untuk menegakkan kejujuran, kebenaran dan keikhlasan terhadap sesama manusia. Selanjutnya, nilai-nilai kesetaraan menggugah kita untuk menegakkan rasa persaudaraan, cinta-kasih, gotong royong, solidaritas dan sikap saling memberi dan melindungi. Adapun nilai-nilai kebebasan mendorong kita menegakkan toleransi, sikap menghargai dan menghormati sesama sebagai makhluk ciptaan Allah swt dan meyakini hanya Allah swt berhak menghakimi hamba-Nya.

Tauhid adalah sumber prinsip keadilan. Salah satu sifat utama Allah swt adalah Maha Adil. Sebagai hamba, kita yakin Tuhan akan selalu berlaku adil kepada semua hamba-Nya, tanpa kecuali sediki pun. Karena Tuhan Maha Adil, manusia diwajibkan mengikuti sipat-sipat Tuhan yang baik (asma’ul husna). Manusia wajib memperjuangkan keadilan, keadilan untuk semua manusia, khususnya mereka yang berada dalam kondisi lemah, teraniaya dan  marjinal.

Jika manusia melanggar hukum, dia tidak boleh dianiaya dengan cara semena-mena, tetapi diserahkan kepada yang berwenang untuk diadili sesuai hukum yang berlaku. Itulah pentingnya membangun institusi peradilan yang adil agar semua manusia mendapatkan rasa keadilan.

Memahami tauhid dengan benar akan mengantarkan kita kepada prinsip kesetaraan manusia. Tauhid dengan tegas mengajarkan, hanya ada satu Tuhan, yakni Allah swt, selain Dia semuanya hanyalah makhluk. Berarti semua manusia adalah setara, yaitu setara sebagai makhluk Tuhan. Prinsip kesetaraan manusia tidak menghendaki adanya pembedaan dan diskriminasi terhadap manusia apa pun alasannya. Semua manusia harus dihormati karena martabat kemanusiaannya.

Keyakinan tauhid meniscayakan kesetaraan semua manusia di hadapan Allah swt, baik sebagai hamba (abdu) maupun sebagai pemimpin (khalîfah). Manusia, apa pun identitasnya, mengemban tugas ketauhidan yang sama, yakni menyembah hanya kepada Allah swt sebagaimana firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Al-Dzâriyât [51]: 56)

Memahami tauhid dengan benar akan mengantarkan kita kepada prinsip kebebasan. Kebebasan yang disertai kesadaran untuk bertanggungjawab. Semua manusia diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimilikinya. Manusia bebas memilih untuk beragama dan tidak beragama, menjadi beriman atau tidak beriman, manusia bebas memilih untuk melaksanakan amal saleh atau tidak. Namun, manusia yang bijak pasti memilih untuk beragama, sebab dengan beragama manusia mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Pengasih. Karena itu, tidak boleh ada pemaksaan dalam bentuk apa pun terhadap sesama manusia terkait agama dan kepercayaannya. Sebagai manusia, tugas kita hanyalah berdakwah, menyampaikan dan mengingatkan ajaran agama dengan cara-cara damai dan santun, bukan memaksa.

Kebebasan manusia untuk memilih mendapatkan apresiasi dari Allah swt Sang Pencipta. Jika manusia secara bebas memilih untuk mengerjakan kebaikan dan amal shaleh akan mendapatkan pahala, bahkan pahala berlipat ganda. Sebaliknya, jika manusia dengan kebebasannya memilih berbuat dosa, mengerjakan keburukan dan kejahatan akan dibalas dengan siksaan, bahkan azab yang sangat pedih.  Jadi, setiap manusia memiliki kebebasan, namun kebebasan tersebut bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dipertanggungjawabkan. Setiap pilihan bebas manusia akan dimintai pertanggungan-jawab di akhirat kelak.

-Musdah Mulia-