Penguatan Literasi Agama, Mewujudkan Indonesia Maju – Sutan Takdir Alisjahbana (STA) memorial Lecture 2021

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

 

 

Pentingkah agama itu? Pertanyaan inilah yang diangkat Pew Research Center, dan tahun 2020 menempatkan Indonesia sebagai negara yang amat religius karena mayoritas penduduknya menjawab agama sangatlah penting. Survei tersebut juga mengaitkan antara kemajuan suatu negara dengan nilai keagamaan. Hasilnya, penduduk negara berkembang cenderung menganggap penting agama dalam kehidupan, demikian sebaliknya. Tingkat religiusitas negara berbanding terbalik dengan kemajuan ekonomi dan juga tingkat kebahagiaan penduduknya.  Survei tersebut mengkonfirmasi riset Islamicity Indices yang memilih 10 negara paling islami, antara lain Selandia Baru, Netherland, Swedia, Irlandia, Switzerland, Denmark, Kanada, Australia. Sebaliknya, skor negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam cenderung rendah, seperti Indonesia.

Sungguh ironis! Mestinya, negara dengan penduduk religius bisa lebih maju karena masyarakatnya penuh rasa empati kemanusiaan, dermawan, baik hati dan penuh kedamaian sehingga terdorong untuk kreatif dan inovatif. Akan tetapi, kehidupan bangsa Indonesia, khususnya dilihat dari aspek keberagamaan memperlihatkan sebuah paradoks yang luar biasa. Paradoks antara kehebohan beragama dan kebangkrutan moralitas. Hal itu, antara lain karena agama hanya dijalankan sebagai ritual tanpa makna.

Indonesia jelas bukan negara Islam, meski mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, pemerintah amat memperhatikan pembangunan bidang agama, antara lain dengan hadirnya kementerian agama dan sejumlah lembaga keagamaan lain. Pertanyaan kritis muncul, bagaimana menjadikan religiusitas sebagai modal sosial memajukan Indonesia? Menurut saya, salah satu yang paling mungkin dilakukan adalah penguatan literasi agama! Agama seharusnya menjadi penggerak perubahan bagi manusia untuk melakukan kebaikan dan kemajuan dalam kehidupannya.

Kemampuan literasi agama setidaknya membuat penganut agama menghayati konsep agama dan martabat kemanusiaan, relasi agama dan negara, agama dan ekologi, serta agama dan mayantara untuk selanjutnya mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata demi mewujudkan Indonesia maju. Paling tidak, agama mampu melakukan tiga hal. Upaya humanisasi, yaitu memanusiakan manusia dan mengangkat harkat martabat manusia sehingga berkuranglah praktik diskriminasi, eksploitasi,  kekerasan dan ketidakadilan. Upaya liberasi, yaitu membebaskan manusia dari kemiskinan, kelaparan dan penindasan. Terakhir, upaya transendensi, menguatkan spiritualitas manusia agar hidup lebih bermakna bagi semua makhluk di alam semesta. Agama harus berfungsi menjadi pengetahuan untuk mewujudkan hidup yang berkualitas.