Perempuan yang Dimusnahkan

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Nawal el- Saadawi yang seorang dokter berhasil menarasikan kehidupan seorang perempuan dibawah patriarki sejak perempuan itu dilahirkan. Novel yang ia tulis merupakan hasil dari wawancaranya dengan seorang perempuan dari balik penjara. Novel ini menceritakan gambaran kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat Mesir pada masanya yang mengembangkan patriarki. Perspektif gender dan ketidakadilan gender menjadi masalah menarik yang diungkapkan pengarang melalui tokoh Firdaus. Novel Perempuan di Titik Nol adalah novel terjemahan dari novel berbahasa Inggris dengan judul Women at Point Zero yang diterjemahkan oleh Amir Sutarga. Adapun novel aslinya berbahasa Arab dengan judul al-mar’ah ‘inda Nuqthah as-Shifr.

Mengapa Firdaus dibilang Pelacur? “Saya tahu bahwa profesiku ini telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh sang istri. Sang perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur bebas daripada seorang istri yang diperbudak.” (Nawal El Saadawi, hal. xii).

Kutipan diatas menggambarkan bahwa sisi gelap perempuan-perempuan Mesir di Arab Timur Tengah yang didominasi oleh patriarki. Bagaimana tidak stigma bahkan kontruksi pelacur di cap oleh laki-laki. Menjadikan perempuan objek seksual sekaligus kaum dimarginalkan. Ketika perempuan masih mengalami ketimpangan hak dan tidak pernah mendapatkan hak yang sama seperti yang didapatkan laki-laki. Seperti halnya bangsa Arab, budaya patriarki menjadi salah satu dasar perdebatan akan kedudukan perempuan dalam masyarakat dan masih menuai konflik. Mengenai hak-hak perempuan yang kurang terjamin, kebebasan dalam dunia politik, serta kungkungan hierarkis suami membuat perempuan terbelakang dalam segala kesempatan, mengalami diskriminasi, kekerasan, serta kemiskinan.

Hegemoni dalam tradisi

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya muka dan badan serta menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah lalu pergi ke rumah paman. Tetapi paman mengatakan kepada saya, bahwa semua suami memukul isterinya. Isterinya menambahkan bahwa paman adalah seorang Syekh yang terhormat, terpelajar dalam ajaran agama, dan dia karena itu tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab bahwa justru laki-laki yang memahami itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu” (h. 64).

Dominasi laki-laki terhadap perempuan tidakhanya terjaadi dalam ranah pendidikan, tradisi, hukum, sosial. Naun dalam novel ini agama menjadi legitimasi dalam trasisi patriarki sekaligus legitimasi perlakuan kekaerasan terhadap perempuan.

Firdaus, Perempuan yang dinomorduakan

“Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.” (Nawal El Saadawi 2010, h. 26).

Kehidupaan seorang Firdaus yang sangat patriarki sudah dirasakan oleh Firdaus sejak kecil. Hidup di tengah keluarga miskin, tak jarang Firdaus merasakan dan melihat seorang ayah diperlakukan seperti seorang raja oleh istri dan anak-anaknya. Seorang laki-laki (ayah) diperlakukan sebagai individu nomor satu di antara individu-individu lainnya. Relasi ini menunjukkan ketidaksetaraan di dalam sebuah keluarga, bahwa di posisi inipun perempuan mengalami dampak budaya patriarki.

Ketertindasan perempuan dalam pendidikan

“Apa yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”

Lalu saya menjawab: “saya ingin ke El Azhar dan belajar seperti paman.”

Kemudian paman tertawa dan menjelaskan bahwa El Azhar hanya untuk kaum pria saja.

El Azhar merupakan suatu dunia yang mengagumkan dan hanya dihuni oleh laki-laki saja, dan paman merupakan salah seorang dari mereka. Dan dia adalah seorang laki-laki. (Nawal El Saadawi 2010, h. 22 dan 30)

Konstruksi masyarakat yang menganggap bahwa wilayah perempuan adalah pada arena domestik menciptakan suatu hubungan yang terdominasi dan tersubordinasi, hubungan antara perempuan dan laki-laki bersifat hierarkis, yakni laki-laki berada pada kedudukan yang dominan sedangkan perempuan subordinat (laki-laki menentukan, perempuan ditentukan).

Akibat adanya ketimpangan relasi ini tak jarang perempuan dibatasi ruang geraknya antara privat dan publik. Privat bermuara pada wilayah rumah tangga yang stereotipnya diperuntukan bagi perempuan, kemudian wilayah publik seperti lapangan pekerjaan dan negara diperuntukkan bagi laki-laki. Budaya patriarki juga yang membuat perempuan inferior lantaran tubuhnya. Keadaan inilah yang membuat perempuan mengalami diskriminasi dalam segala hal baik ekonomi, politik maupun sosial.

Bagi saya novel ini sangat membuka wawasan bahwa perempuan memang tak sama dengan laki-laki tapi kita setara kita manusia. Semua yang diceritakan dalam novel ini sangat related keadaan di Indonesia. Perempuan yang disubornasikan, perempuan yang berada di standar ganda bahkan perempuan yang dilecehkan dalam makna relasa kuasa. Novel menguak kebobrokan dalam kontruksi masyarakat yang berujung patriarki dan sangat merugikan perempuan.

Rivani, Muslimah Reformis

 

Deatil Buku:

Judul Buku : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal el- Saadawi
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : ke 10
Jumlah Halaman : 156
Tahu Terbit : 2010