Kisah Rumaysha Nahrasiyah Wicaksono: Perempuan High Curiosity dalam Novel DUR

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter

Rum, sebutan atas nama Rumaysha Nahrasiyah Wicaksono dalam novel DUR yang ditulis oleh Nisaul Kamilah ini, ditulis sebagai sosok yang sangat unik. Dikisahkan, ia adalah anak bungsu dari bersaudara, ayahnya adalah seorang dalang yang dipercaya memiliki tingkat kewalian, .bernama ki Wicaksono. Setelah SD dia hidup sebagai yatim saat umur 11 tahun dan tinggal bersama ibunya yang panggil dengan sebutan “bune”.

Sedangkan kakaknya, Salma. Ia belajar di pesantren Darul Qur’an sejak kecil, keduanya berbanding terbalik. Salma yang lahir dengan kulit putih, hidung mancung, kalem, pemalu bahkan sangat sopan dengan pemahaman agama yang utuh, serta seorang hafidzah. Sedangkan Rum, seluruh hidupnya dihabiskan untuk bersama bapak dan bune. Apalagi setelah bapaknya tiada, ia memutuskan untuk tidak belajar di pesantren lantaran keuangan dan membantu Bune mengembangkan usaha jahitnya.

Seluruh hidupnya, Rum habiskan untuk membantu Bune, mengemas pakaian, hingga mempromosikan di instagram, lambat laun ia menjelma sebagai sosok selebgram yang memiliki banyak sekali endorse barang serta berpenghasilan lumayan.

Kisah hidupnya dimulai sejak SMA. Ia lalu bertemu dengan laki-laki keturunan Tionghoa yang taat pada agama, namanya Alfaraby Wirabadja (Al). Sebagai perempuan yang cukup terkenal di sekolah dengan kemampuan dan prestasi gemilangnya, Rum berteman baik dengan Al. Sosok Rum adalah perempuan yang aktif, rasa ingin tahunya besar, cara belajarnya sangat semangat, pertemanan keduanya berlangsung sangat produktif dalam belajar.

Setiap minggu dalam pertemanan mereka, selalu ada buku yang dibahas setelah selesai dibaca. Alfaraby selaku remaja yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Jombang, tentu pengetahuan agamanya sangat luas, mulai dari pemahaman agama, tentang angkasa, hingga persoalan biologi. Rum belajar banyak pada Al. Keduanya menjadi satu-kesatuan yang melebur dalam ketakjuban yang luar biasa.

Meski demikian, pertemanan keduanya tidak terjadi begitu saja, mengawali dengan sebuah pertengkaran, bersaing begitu ketat pada saat pelajaran, bermain ke rumah Rum, menghadiahi anggrek, buku, hingga akhirnya setelah masa-masa SMA hampir berakhir, keduanya terlibat perasaan yang sama, yakni sama-sama mencintai.

Sayangnya, Bune tidak menyukai Al lantaran berasal dari lingkungan yang heterogen, nenek Al adalah seorang muallaf, dan bagi Bune itu adalah hal yang tidak bisa disatukan dalam ikatan yang serius. Akhirnya, perpisahanpun dijalani, Al dan Rum sama-sama menempuh pendidikan tinggi. Rum kuliah di Malang, dengan prestasi yang gemilang. Aktif di berbagai LSM menolak pernikahan dini, bidang jurnalistik, sering menjuarai berbagai lomba. Ia juga memiliki sahabat yang dinamakan “the Queens”. uniknya di peraturan persahabatan tersebut tidak boleh punya pacar sebelum lulus, dan itu yang selalu menjadi prinsip.

Menginjak umur ke-18, Salma akan menikah dengan Gus Syalim Abdullah Asy Syatiri (Gus Asy). Tentu ini menjadi kabar baik untuk seluruh keluarga, apalagi Gus Asy berasal dari pondok Darul Qur’an, lulusan Kairo, Mesir sangat cocok bersaning dengan Salma seorang hafidzoh, serta memiliki adab dan akhlak yang mulia. Singkat cerita, keduanyapun sudah merencanakan pernikahan.

Dalam proses perjalanan menuju pernikahan, sebuah kisah na’as terjadi. Salma kecelakaan saat mengendarai motor dan akhirnya meninggal. Sebelum meninggal, Salma berpesan kepada Rum, adiknya untuk menggantikan di hari pernikahan. Ini sangat berat, namun adiknya Rum menyanggupi permintaan kakaknya tersebut untuk terakhir kalinya.

Duka yang amat berat bagi keuarga Bune dan keluarga Gus Asy. Permintaan terakhir Salma didengar oleh keluarga besar Gus Asy, akhirnyapun diputuskan bahwa pernikahan Gus Asy akan tetap berlangsung dengan mempelai perempuan yakni Rum, adiknya Salma. Sebuah kisah percintaan yang cukup rumit, dengan posisi berduka, namun Rum mau tidak mau tetap tegar menjalani.

Gus Asy akhirnya menikah dengan Rum. Seluruh persiapan, mulai dari cincin pernikahan atas nama Salma. Bagi Rum, pernikahan itu adalah momen mengecewakan dalam hidupnya. Ia tidak kenal dengan suaminya, apalagi ia akan menjadi neng, masalah demi masalah pasti akan ia alami di keluarga besar pondok.

Berbagai penolakan dialami oleh Rum sejak menjadi istri dari seorang gus. Iapun berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan pondok, apalagi pengalaman  hidupnya tidak pernah mondok serta kemampuan agamanya yang pas-pasan. Beruntungnya Rum keluarga Gus Asy begitu baik dan menerimanya. Pas menikah dan keduanya terlibat rasa cinta yang besar, Rum masih memutuskan untuk kuliah dan tinggal di kos. Sedang suaminya, seorang dosen di salah satu kampus Islam di Malang.

Ia merahasiakan pernikahannya dengan Gus Asy. Dan membuat kerumitan perjalanan terus berlanjut. Saat pengumuman juara 1 di kampusnya, Alfaraby datang untuk mengatakan cinta dan berniat serius kepadanya. Momen itulah yang kemudian ia manfaatkan untuk berkata jujur kepada sahabatnya. Perjalanan pernikahanpun terus berlanjut.

Sosok Rum menjelma sebagai perempuan tangguh. Ia menghadapi sekelumit persoalan dalam hidupnya. Perpisahan, pertemuan, dan segala hal tak terduga ia lalui dengan penuh semangat. Falsafah jawa yang selalu dipegang dari Bune dan bapaknya membuat dirinya memiliki fase dewasa yang amat mengagumkan, rasa keingintahuan yang besar (High Curiosity) membuat ia tidak patah semangat, belajar apapun dan terus mengasah kemampuan yang ada pada dirinya.

Judul buku    : DUR (Diary Ungu Rumaysha)

Jenis tulisan   : Novel

Penulis            : Nisaul Kamilah

Tahun terbit   : Juni, 2020

Penerbit          : Telaga Aksara

Juml. Halaman  : 504 hlm.

ISBN               : 978-6237982029

 

Rivani, Muslimah Reformis