Pelatihan Milenial Reformis Bandung: Mereformasi Makna Muslimah Sholilah

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Peserta pelatihan Milenial Reformis Bandung mempresentasikan hasil diskusi di De Batara Hotel, Cihampelas, Kota Bandung pada Jumat (2/7/2021). (Diyanah Nisa/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Yayasan Mulia Raya mengadakan pelatihan Muslimah Milenial Reformis Bandung yang diadakan pada Kamis-Minggu (1-4/7/2021) di Hotel De Batara, Cihampelas, Kota Bandung. Selain diadakan di Bandung, acara tersebut juga diadakan di lima kota lainnya, yaitu Solo, Jakarta, Tasikmalaya, Yogyakarta, dan Tangerang. Peserta merupakan perempuan milenial dengan pengikut minimal 500 di media sosial dan merupakan pengurus di komunitas atau organisasinya.

Pelatihan yang diikuti oleh 33 muslimah milenial ini akan menghasilkan 42 produk kampanye daring. Dengan rincian 1 buah buku antologi tulisan dan 6 projek sosial yang diharapkan dapat menginspirasi masyarakat menjadi manusia reformis. “Kami berharap ada output lain yang berupa bonus di luar dari apa yang bisa kita ukur. Kami punya mekanisme namanya monitoring, mentoring yang dilakukan secara online. Kita juga punya timeline, kapan temen-temen posting, nulis, dan launching bukunya,” ujar Koordinator program Milastri Muzakkar, Minggu (4/7/2021).

Meski diikuti oleh peserta dari berbagai daerah, acara tersebut dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan dan pendekatan mengenai kelestarian lingkungan. Sebelumnya, baik peserta, panitia, dan pemateri harus melampirkan surat bukti negatif Covid-19. Kelestarian lingkungan diwujudkan dengan dibagikannya botol minum dan totebagagar tidak lagi menggunakan alat berbahan plastik.

Kata reformis dipilih untuk membangun kesadaran komunal agar perempuan tidak mau lagi dikonstruk untuk menjadi hamba laki-laki. “Kok itu mah seperti ciri-ciri orang tertindas. Reformis berasal dari kata Bahasa Arab ashlaha-yushlihu, ushlihuu bayna akhawaykum, berarti selalu membenarkan diri. Kedamaian hanya bisa dibangun jika semua orang merdeka,” ucap founder Yayasan, Musdah Mulia.

Bekerja sama dengan Peace Generationacara ini bertujuan untuk membentuk masyarakat Indonesia yang damai dalam konteks ramah gender. Acara ini juga didesain untuk memperkuat perempuan milenial yang memiliki pengaruh untuk menyebarkan nilai-nilai non kekerasan. Melalui pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis keadilan gender.

Turut hadir sebagai pemateri founder Yayasan Mulia Raya, Musdah Mulia; Pengurus Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia, Iklillah MD Fajriyah; Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Riri Kharirah; dosen Universitas Indonesia, Rocky Gerung; dosen Antropologi Universitas Padjajaran, Ira Indrawardana, founder Peace Generation, Irfan Amalee dan coordinator acara, Milastri Muzakkar.

Materi yang disampaikan diantaranya mengenai pemahaman konsep muslimah reformis dan milenial reformis, pentingnya kesetaraan gender dalam keluarga dan masyarakat, literasi agama, manajemen konflik, dan counter violence extremism. Selain itu ada penguatan wawasan kebangsaan, demokrasi dan politik, berpikir kritis, volunterisme, strategi membangun gerakan sosial, dan strategi kampanye media sosial.

Reporter : Diyanah Nisa dan Putri Saiba

Redaktur : Fuad Mutashim