Oleh: Siti Indah Khanazahrah
Pengurus Masika ICMI Sulsel & Koordinator RKF Makassar

 

 

 

 

 

Buku berjudul “Ensiklopedia Muslimah Reformis” ini ditulis Prof. Musdah Mulia, terbitan Dian Rakyat Jakarta, edisi pertama tahun 2019, dalam jumlah halaman 786 keseluruhan.

Mengawali tulisannya, Musdah Mulia menulis pernyataan di halaman pengantar yang masih problematis di negeri ini, “Sungguh mulia Al-Qur’an yang memulai ayat-ayatnya dengan kata iqra’ (bacalah). Membaca adalah aktivitas akal yang sangat penting. Kita tidak bisa membicarakan agama hanya berdasarkan kitab suci atau wahyu, tetapi penting juga membahasnya berdasarkan pergumulan rasional manusia dalam kehidupan nyata”.

Di Indonesia, harus diakui membaca masih didominasi literalis, pun penggunaan akal mengalami pembatasan yang rancu sehingga melahirkan cara pandang tidak dinamis dan cenderung konservatif.

Ini dibuktikan sebagaimana dikutip Musdah Mulia, “Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk 2015 masih menduduki peringkat 113 dari 188 negara dan wilayah”.

Buku “Ensiklopedia Muslimah Reformis” ini, secara global menyoroti peminggiran perempuan dalam seluruh aspeknya yang mengindikasikan kemunduran bangsa secara bersamaan.

Logika yang berkembang dan menjadi acuan mutlak adalah pikiran laki-laki sehingga seluruh aspek kehidupan sosial memuat didalamnya patriarkisme.

Bahkan aspek paling dasar seperti pendidikan cenderung patriarkis yaitu masih berkembangnya tradisi pendidikan diutamakan bagi laki-laki dibanding perempuan.

Demikian juga kecenderungan rasional dianggap milik laki-laki sehingga lebih layak terdepan terutama di panggung publik.

Tidak sebatas teori, Musdah Mulia berusaha menghadirkan data dan argumentasi sistemik, cukup gamblang mengafirmasi peminggiran perempuan dan kemunduran yang ada.

Mulai dari persoalan pendidikan, ruang sosial, politik, ekonomi, budaya, bahkan ruang domestik perempuan dikonstruksi seolah berjarak dengan dirinya.

Sejumlah persoalan perempuan yang seharusnya mendapatkan keadilan sebagaimana lakilaki cenderung diabaikan, bahkan dianggap tidak penting dengan alasan-alasan kuasa dan politis.

Alasan paling sering dilontarkan untuk melegitimasi peminggiran perempuan adalah cara pandang tidak rasional, cenderung mengada-ada, khayalan dan sejenisnya, menjadi dalih suara perempuan tidak layak didengar.

Berbagai penyudutan membuat ruang perempuan kaku, serba salah dan sulit menemukan solusi dari kungkungan problematikanya.

Alih-alih mendapat dukungan dari laki-laki, perempuan justru semakin sulit bernafas dengan segala tuduhan kelemahan tidak berdasar atasnya.

Isu kesetaraan gender walaupun sudah lama menjadi perbincangan di Indonesia belum juga berdampak signifikan.

Statistik menunjukkan masih lebih banyak penolakan isu ini dengan berbagai alasan seperti tafsiran agama dan selainnya dibanding yang menerima.

Pun jajaran aktivis laki-laki maupun perempuan tidak jarang ditemukan sepakat secara verbal namun rancu dalam implementasi.

Ruang-ruang sosial, pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya masih saja bias, dirundung kepentingan, ketidakadilan, dan politisasi.

Tidak salah jika kemudian Musdah Mulia menyimpulkan perempuan secara umum di Indonesia masih sangat lemah dan terdiskriminasi.

Perlu kesadaran, upaya serius, dan kerja sama semua pihak (laki-laki dan perempuan) terdidik
menghidupkan keadilan gender untuk negeri yang adil berkeadaban.

Atas kompleksitas persoalan yang ada, kehadiran buku ini menjadi sangat penting dengan seluruh kritiknya dan arahan yang transformatif untuk bangsa lebih beradab.

Juga buku yang serupa sangat jarang ditemukan sebelumnya dengan konten menyeluruh lagi sistematis.

Musdah Mulia melalui buku ini mengukuhkan gagasan kemanusiaan dari 16 poin penting bahasan yang diulas secara kritis konstruktif.

Secara garis besar, bahasan yang ada menyangkut pendidikan dan keluarga dalam berbagai aspek pentingnya, sistem demokrasi dan HAM, serta ketidakadilan gender dan solusi yang ditawarkan atas problematika dalam arti luas.

Istilah muslimah reformis dalam buku ini adalah perempuan cerdas secara pikiran, afeksi, moral dan spiritual yang mengaktual dalam relasi dan kehidupan nyata.

Mampu berkontribusi mengambil peran pembebasan, memperjuangkan kesetaraan, dan mengkritik segala bentuk ketidakadilan di masyarakat.

Musdah Mulia, penulis buku ini adalah intelektual perempuan yang memiliki reputasi keilmuan meyakinkan.

Ia mendalami khazanah keislaman klasik dan melahirkan sejumlah karya kritis terutama menyangkut nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, kemerdekaan, pluralisme dan keadilan gender.

Ia dikenal dalam keberaniannya tampil menyuarakan secara kritis isu-isu demikian tanpa mengenal putus asa meski tantangan silih berganti menghampirinya.

Atas sejumlah karyanya tidak hanya dikenal dalam negeri namun beberapa kali disajikan dalam forum ilmiah luar negeri dan mendapatkan sejumlah penghargaan nasional maupun internasional.

Dengan latar belakang demikian, tidak salah ketika ia menganalisis secara kritis berbagai pandangan mayoritas yang tidak rasional dan tidak manusiawi namun dianggap mapan di negeri ini.

Tulisan-tulisan Musdah Mulia dalam buku ini secara umum cukup sistemik, kritis, konstruktif dan transformatif

Setiap tema diulas begitu mendalam dilengkapi data, dalil dan argumentasi sehingga sulit untuk dibantah.

Menelusuri lembaran demi lembaran buku ini, pembaca hendak digiring pada penghayatan mendalam tentang situasi bangsa atas berbagai fenomena sosial perempuan dan kemanusiaan yang tak kunjung selesai.

Persoalan paling dasar misalnya tentang tafsiran keagamaan yang dibangun cenderung bias yang nantinya mempengaruhi implementasi keagamaan.

Selain itu, pembaca diajak kembali merenungkan visi penciptaan manusia sebagai khalifah fil ardh, dengan mengamalkan perintah membaca (iqra’) secara saksama dan menempuh berbagai bentuk pendidikan untuk menjadi pemimpin atau pengelola yang bertanggung jawab mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan di bumi.

Setiap manusia seharusnya menyadari misi yang diemban yaitu amar makruf nahi munkar, dengan senantiasa memikirkan upaya-upaya transformasi dan humanisasi, menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab (baldah thayyibah wa rabbun ghafur).

Akhirnya, dengan penyajian ringan dan apik di setiap tema dalam buku ini membuat pembaca mudah memahami setiap konten yang disampaikan penulis.

Termasuk pesan inti yang diinginkan Musdah Mulia dalam buku “Ensiklopedia Muslimah Reformis” ini, dengan kritiknya yang tajam tidak lain adalah bagaimana Indonesia mampu mewujudkan keadilan dan kemaslahatan secara menyeluruh di negeri ini.

Juga demi mewujudkan Islam yang rahmatan lil alamin sekaligus membangun masyarakat sipil yang beradab.(*)

Catatan: tulisan ini telah terbit di Tribun Timur edisi cetak, Selasa (13/08/2019)