Oleh: Musdah Mulia

Pernikahan lintas agama yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah pernikahan antara seseorang yang beragama Islam (Muslim) dan orang yang bukan Islam (non-Muslim).

Al-Qur’an membagi kelompok non-Muslim dalam perbincangan ini ke dalam tiga kategori, yakni kelompok musyrik, kafir, dan kelompok ahlul kitab. Menariknya, tidak ada kesepakatan ulama mengenai kelompok mana saja yang dapat dikategorikan sebagai musyrik, kafir dan ahlul kitab. Pada umumnya, pengertian musyrik dilekatkan pada kelompok yang menyekutukan Tuhan atau mengakui ada Tuhan lain selain Allah swt., seperti para penyembah berhala, penyembah api dan sebagainya. Lalu kafir pada umumnya dimaknai semua orang yang bukan Muslim. Sementara ahlul kitab adalah kelompok penganut agama yang memiliki kitab suci atau penganut agama-agama samawi, seperti Yahudi dan Kristen.

 

Selengkapnya unduh artikel