Tanggapan Pdt. Dr. Septemmy Lakawa dalam Bedah Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis

Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis telah diseminarkan dan ditelaah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologia (STFT) di Jakarta (17/1), sebagai tuan rumah dan juga penanggap, Ibu Pdt. Dr. Septemmy Lakawa, memberikan tanggapan atas buku karya Prof. Dr. Siti Musdah Mulia.

Menjadi Muslimah Reformis, Menjadi Indonesia yang Otentik

Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis ditulis dan digagas oleh Ibu Siti Musdah Mulia, ini adalah sebuah karya muslimah Indonesia yang berisikan sebuah diskursus muslim modernis di Indonesia. Buku ini dituliskan untuk melawan proses hegemonisasi dari komunitas kolektif yang bernama Indonesia, yang biasanya melekat dengan agama. Lalu Ibu Musdah Mulia mengedepankan sebuah penegakkan yang didasarkan pada rasionalistas, dan ini memberikan sumbangan terbesar bagai proses wacana tentang agama di Indonesia.

Tahukah kita sebuah universitas tertua di dunia itu lahir di Timur Tengah dari sebuah masjid dan dipimpin oleh seorang perempuan. Lalu refleksi saya adalah betapa mirisnya apabila sebuah tradisi pendidikan di kalangan Islam itu, saat ini, sepertinya hilang di dalam wacana publik di Indonesia. Hal ini seakan-akan pendidikan menjadi antithesis dari Islam, dan implikasinya seakan-akan Indonesia adalah antithesis dari Islam.

Ini saya kotbahkan dalam gereja dan komunitas Kristen. Kenapa? Karena ignorance (pengabaian akan ilmu pengetahuan), adalah sebuah dosa terbesar yang akan menjerumuskan sebuah bangsa. Ketika komunitas muslim melekatkan percakapakan tentang Islam pada nilai-nilai kebangsaan di dalam gereja, diskusi-diskusi itu ketinggalan jaman, tetapi ketertinggalan itu tidak lalu menyeberang pada upaya menjelekkan pihak lain.  Ini adalah sebuah kesempatan untuk kembali mengafirmasi betapa pentingnya nilai-nilai pluralitas itu dikembangkan dalam komunitas agama.

Buku ini, meyakinkan pembaca bahwa menjadi muslimah itu juga berarti menjadi Indonesia yang otentik, ini adalah sumbangan Muslimah Reformis, ketika identitas Indonesia kolektif diafirmasi, dan yang kolektitaf itu diperlihatkan sebagai multidimensi, ketika setiap orang diberi hak untuk menafsirkan dan sejujurnya keberadaan buku Ensiklopedia ini membantu kita bahwa reinterpretasi itu penting, dan reinterpretasi itu mesti berakar pada aksi untuk perubahan.

Demokrasi dan Islam

Bicara Pancasila, demokrasi dan Islam, Ibu Musdah Mulia melalui buku ini dengan sabar menjelaskan tentang betapa beragamnya dalam Islam, dan memperlihatkan tentang apakah demokrasi dan Islam itu competible, sejalan atau tidak. Dalam buku ini Ibu Musdah Mulia mengusulkan: “… umat Islam tidak perlu meniru sepenuhnya sistem demokrasi Barat atau Eropa, melainkan perlu mengembangkan alternatif lain dengan lebih mengedepankan prinsip-prinsip demokratisnya. Hal penting dari sistem demokrasi adalah penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kemausiaan dan pengakuan akan akan kesetaraan  dan kesederajatan semua manusia tanpa kecuali” (Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis, hal. 212).

Ini adalah tulisan seorang yang beriman sekaligus perempuan nasionalis, dan tidak ada ambigu.  Ini adalah testimoni publik, sekaligus sebagai sebuah dirkursus resistensi yang mencoba menunjukkan penolakan secara eksplisit bahwa Indonesia adalah antithesis  dari Islam. Ini adalah sebuah misi besar dari Ibu Musdah Mulia yang harus terus dilanjutkan.

Siapakah Muslimah dan Perempuan Reformis?

Kalau kita berbicara tentang perempuan reformis sebagai perempuan perajut perdamaian di Indonesia, pertanyaannya adalah mereka itu siapa? Bila dibaca seluruh buku Ensiklopedia Muslimah Reformis menawarkan siapapun bisa menjadi Muslimah Reformis, namun karena seringkali model beragama di Indonesia mengidolakan tokoh. Maka sangat mungkin, diskusi berikutnya adalah cerita tentang tokoh-tokoh lokal Indonesia, bahwa seperti ini muslimah reformis, perempuan Indonesia reformis, sehingga mewujudlah diskursus yang tekstual ini pada laku hidup para perempuan tersebut. Bila kita membaca buku Muslimah Reformis, sebagai rujukan, sebuah panduan untuk kembali kepada narasi-narasi lokal, bahwa muslimah reformis itu dan perempuan reformis itu sungguh ada. Kita bisa menemukan di berbagai tempat  dan Ibu Musdah Mulia adalah salah satu contohnya.

Sebuah cerita dari Surabaya, yakni Pdt. Claudia melayani gereja yang menjadi sasaran pemboman, dan gereja membuat kegiatan dalam rangka upaya pemulihan korban. Komunitas ini awalnya terlihat hidup berjemaat yang tertutup, justru ketika menjadi korban kekerasan, melakukan upaya untuk mencari saudara-saudara muslim itu di Surabaya dan sekitarnya. Ini adalah sebuah model berkomunitas, ketika tidak mendiamkan diri untuk percaya bahwa sebuah agama adalah personifikasi dari kekerasan yang luar biasa keji. Apa yang dilakukan adalah cara sebuah gereja untuk mengatakan bahwa  kita harus mencari mencari saudara-saudara muslim yang dipersonifikasikan sebagai teroris.

Dalam sejarah  konflik di Ambon, yang menjadi pelaku perdamaian, adalah perempuan muslim kristen. Salah satu pelopornya adalah Ibu Pdt. Ririmase, yang menjadikan pasar, tempat publik para ibu berjumpa, mesti menjadi tempat yang secara sengaja menjadi ruang perjumpaan dan ruang damai. Juga ada Pdt. Jacky Manuputti yang menggerakkan kaum muda muslim dan Kristen di Ambon dengan prinsip profokator damai.

Ada sebuah gagasan menarik, tentang “Desa Damai” yang digagas oleh Yenny Wahid dari Wahid Institut. Kemudian kami mengajukan usulan mahasiswa dari STFT Jakarta agar bisa berpraktek di kampung yang dibentuk menjadi model bibit berkembangnya sebuah kehidupan akar rumput yang berbasis pada nilai-nilai kultur dan agama yang berorientasi pada perdamaian, usul ini disambut positif.

Lembaga pendidikan harus berkembang ditempat-tempat terjadinya perubahan, Ini adalah keyakinan bahwa lembaga pendidikan itu adalah sebuah platform yang mesti diefektifkan, mesti disengajakan untuk membangun kultur damai, dan lembaga pendidikan akan menjadi bagian habitus damai tersebut. Hal ini berarti sebuah proses yang tidak singkat, sebuah proses keterlibatan yang berjalan tidak secara instan.

Reintepretasi Pembaruan Berhermenetika Lintas Agama

Ibu Musdah berbicara tentang reinterpretasi, ini adalah tugas teologi sebagai ilmu. Ada istilah yang sejajar dengan kata reformis di dalam kekristenan, khususnya gereja protestan, yakni “Ecclesia reformata semper reformanda est secundum Verbum Dei,” bahwa gereja yang diperbarui mesti selalu memperbarui dirinya, seturut dengan Firman Allah. Ibu Musdah berargumen, bahwa menjadi Muslimah Reformis tidak mungkin tidak berakar pada Tauhid, Tauhid dalam Islam berakar pada Firman Tuhan. Prinsip protestanisme, perubahan yang harus selaras dengan Firman Allah, salah satunya pada prinsip Sola Scriptura, yang menyatakan bahwa teks itu penting. Maka pendidikan tidak bisa diabaikan, tidak mungkin perubahan diabaikan, pendidikan yang mengubah worldview, mindset. Mainset itu ternyata berakar dari salah sumber utama beragama yakni teks, di dalam kekristenan adalah Alkitab.

Karena itu saya menawarkan sebuah hermenetika pascakolonial tentang sang liyan.  Pendekatan ini bersifat feminis inter-religius yang dilakukan lintas agama. Ibu Musdah bicara dari Islam, saya bicara dari sisi Kristen, level berikutnya mestinya tafsir ini mestinya lintas agama. Sebuah upaya yang mulai dari tekstual, tetapi tidak lari dari pemberlakuannya praxis hidup. Upaya ini belum banyak dilakukan di Indonesia.

Reformis bisa juga diarahkan pada sebuah kata yunani metanomia, berarti kita berputa 180 derajat. Prisnsip pendidikan, kita perlu berubah total ke arah yang lebih baik. Metanoia adalah sebuah  permohonan kepada Tuhan untuk mengampuni kita. Pertobatan itu gerakan berputar total kembali menghadap kepada Tuhan. Cara kita menghadap Tuhan itu dengan cara tertunduk. Ada ekspresi tentang tafsir Kristen, bukan kita akan segera menyibak misteri, tidak. Di dalam pendekatan ini, ada pendekatan seperti kita melihat cahaya, semakin dekat kita silau dan kita menutup mata, tetapi kita tahu cahaya ada di sana. Ini adalah prinsip metanonia, perubahan itu, bahwa kita tidak menjadi yang “paling baik”, tetapi kita mengakarkan perubahan itu pada sesuatu  yang jauh lebih besar dari kita. Proses kita belajar untuk peubahan, adalah proses kita menundukkan diri di hadapan sang Hadirat. Di dalam kekristenan, sang Hadirat itu Maha Suci yang mengijinkan diri  untuk hadir di antara manusia sebagai Imanuel yang berarti Tuhan beserta kita.

Pada akhirnya, buku Ensiklopedia Muslimah Reformis ini mengingatkan kita semua, bahwa kita tidak mungkin bicara agama tanpa bicara Indonesia, oleh karena itu buku ini menjadi penting sebagai petunjuk bagi kita. Untuk kalangan muslim bagaimana menjadi Muslim yang reformis, dan menginspirasi para perempuan di Indonesia. Dari refleksi persahabatan lintas agama, kita tiba pada pentingnya sebuah hermenetika feminis lintas agama itu mesti ada dan mesti mengakar. Karena salah satu kekuatan dari perempuan adalah kekuatan resistensinya, untuk melawan setiap upaya yang mengeliminasi kehidupan. Buku Ensiklopedia ini semacam personifikasi dan diskursus resistensi, yang membuat kita tidak boleh berhenti melawan setiap upaya yang antithesis dari sebuah perubahan.

 

Sumber: ICRP-Online