Oleh: Musdah Mulia

 

 

1.Alqur’an Menyebut Cinta dan Kasih-Sayang sebagai Tujuan Islam

 

Alqur’an secara tegas menyebutkan وما ارسلناك الا رحمة للعالمين  “Aku tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai penebar kasih sayang bagi semesta alam” (al-Anbiyâ, 21:107). Dari ayat tersebut terbaca jelas bahwa tujuan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah untuk “rahmatan li al-‘âlamîn” yakni menebarkan kasih-sayang dan kebaikan kepada semua makhluk di alam semesta.

Makna esensial ayat tersebut adalah Islam harus dirasakan manfaatnya, bukan hanya oleh mereka yang mengaku Muslim, melainkan juga semua manusia dimana pun mereka berada. Bahkan, bukan hanya manusia yang harus merasakan manfaat Islam, tetapi seluruh makhluk di alam semesta, termasuk hewan dan tumbuhan serta makhluk gaib. Islam datang untuk kebaikan, kedamaian dan kemashlahatan semua makhluk di jagat raya.

Fungsi kerahmatan ini kemudian dielaborasi oleh Nabi Muhammad saw dengan pernyataan sabda beliau:”Innama bu’itstu li utammima makârim al-akhlâq.” Artinya, aku diutus Allah dengan satu tujuan yaitu membentuk moralitas kemanusiaan yang luhur. Jadi, tujuan utama kedatangan Nabi Muhammad saw adalah melakukan upaya-upaya perbaikan moral manusia.

Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad saw sangat mengedepankan nilai-nilai moral, beliau selalu menjaga untuk menepati janji, berlaku jujur dan adil serta sersikap baik dan ramah kepada semua manusia. Itulah sebabnya, jauh sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, beliau telah dikenal luar di masyarakatnya dengan pangilan Al-Amin, artinya seseorang yang berperangai sangat jujur. Sifat jujur itu pula yang memikat Khadijah, ketika beliau dijadikan sebagai partner dagangnya.

Pesan kerahmatan dalam Islam benar-benar tersebar dalam teks-teks Islam, baik dalam Qur’an maupun Hadits. Kata rahmah, rahmân, rahîm, dan derivasinya disebut berulang-ulang dalam jumlah yang begitu besar. Dalam Alqur’an dijumpai lebih dari 90 ayat yang berbicara tentang pesan kerahmatan ini. Makna hakiki kata itu adalah kasih-sayang atau cinta-kasih. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah menyatakan: “Anâ ar-rahmân. Anâ ar-rahîm” (Aku Sang Mahapenyayang. Aku Sang Mahapengasih).

Alqur’an mengajarkan kita untuk selalu memulai segala sesuatu (berbicara, berperilaku     dan bekerja) dengan membaca بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  (dengan nama Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

Kalimat بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ  menjadi pembuka bagi semua surah dalam Alqur’an kecuali surah at-Taubah. Dengan memulai ucapan dan tindakan dengan bacaan bismillah diharapkan akan membawa kasih-sayang dan kedamaian bagi sesama manusia, bahkan juga bagi sesama makhluk di alam semesta ini. Itulah intisari akhlak mulia.

Atas dasar inilah, dalam hal apa pun, termasuk dalam situasi perang sekali pun, Nabi selalu menganjurkan agar kita mengedepankan akhlak mulia, sikap-sikap yang manusiawi atau berprikemanusiaan, santun dan beradab.  Dan kita semua selaku umat Islam diharapkan menjadi agen perubahan moral di tengah masyarakat.

Itulah sebabnya, Nabi saw selalu menolak semua bentuk ketidakadilan, kezaliman, kekerasan, pemaksaan, perilaku diskriminatif, dan Nabi sungguh saw tidak pernah melakukannya. Nabi saw menegaskan misi non-kekerasan tersebut sebagai berikut: “Aku tidak diutus sebagai pemarah dan pengutuk, melainkan sebagai penebar kasih sayang bagi semesta alam.”

Islam datang untuk membebaskan manusia dari semua sistem tiranik, despotik, dan totaliter. Islam datang untuk membangun masyarakat sipil yang berkeadaban (civic and civilized society), masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti keadilan, kejujuran, kebenaran, kemaslahatan, kesetaraan, dan kebersihan. Itulah tugas kenabian (prophetic task) yang diemban oleh Nabi Muhammad saw.

Tugas kenabian tersebut tidak berakhir dengan wafatnya Nabi saw, melainkan dibebankan ke pundak kita semua sebagai orang beriman, baik perempuan dan laki-laki. Untuk dapat melaksanakan tugas kenabian tersebut secara optimal, semua Muslim: laki-laki dan perempuan, perlu dibekali pengetahuan, ketrampilan dan kekuatan spiritual, dan untuk itulah agama Islam diturunkan. Islam adalah pedoman dasar yang harus menjadi acuan bagi setiap Muslim (perempuan dan laki-laki) dalam melaksanakan tugas-tugas kenabian tersebut.

 

  1. Beriman dan Berislam sesuai Alqur’an

Islam mengajarkan rukun iman terdiri dari 6 kewajiban: kewajiban beriman kepada Allah swt sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah,  kewajiban beriman kepada para Nabi saw-Nya, kewajiban beriman kepada semua kitab-Nya, kewajiban beriman kepada para malaikat-Nya, kewajiban beriman kepada hari akhirat dan terakhir, kewajiban beriman kepada semua takdir Tuhan, baik dan buruk. Seseorang yang melaksanakan enam kewajiban tersebut berhak disebut Mukmin (laki-laki) dan Mukminah (perempuan).

Selain rukun iman, dikenal juga rukun Islam, yaitu 5 kewajiban: kewajiban mengucapkan syahadat atau testimoni bahwa tiada tuhan selain Allah swt, dan Muhammad saw sebagai nabi dan Nabi saw Allah swt, kewajiban mendirikan shalat lima waktu, kewajiban melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, kewajiban membayar zakat sesuai ukuran yang ditetapkan, dan terakhir, kewajiban menunaikan haji kalau sudah mampu. Seseorang yang melaksanakan kewajiban tersebut berhak disebut Muslim (laki-laki) dan Muslimah (perempuan).

Semua orang (perempuan dan laki-laki) yang mengaku berislam dan beriman harus konsisten pada rukun iman dan rukun Islam tersebut. Walau demikian, tetap harus diingat bahwa manusia tidak berhak melakukan penilaian. Hanya Allah semata yang dapat menilai kualitas keimanan dan keislaman seseorang. Jadi, jangan pernah menilai tingkat kesalehan dan ketakwaan seseorang.

Dengan ungkapan lain, dalam pergaulan dengan sesama di masyarakat, jangan pernah mengambil posisi sebagai Tuhan. Jangan menghakimi sesama manusia. Jangan mencederai sesama manusia. Sebab, sebagai manusia ciptaan Tuhan, kita semua setara dan sederajat. Tidak ada yang tahu, siapa di antara kita yang diterima atau ditolak amal dan ibadahnya.

Kita semua hanya diminta berupaya seoptimal mungkin, berdoa dan berharap agar hidup kita selamat, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hal penting yang perlu kita lakukan adalah berfastabiqul khairat, artinya berlomba dan berkompetisi berbuat amal sebanyak-banyaknya, dan dengan cara yang sebaik-baiknya, lalu berpasrah sepenuhnya hanya kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Menilai.

Sebagai manusia, kewajiban kita hanyalah berupaya melakukan amal dan perbuatan yang terbaik sebanyak-banyaknya. Terbaik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan alam semesta.  Demikian juga selalu berbaik sangka (positif thinking), beribadah secara optimal sesuai kemampuan, lalu berpasrah diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata. Itulah yang disebut ihsan, yaitu  merasakan kehadiran Tuhan di setiap waktu dan tempat. Semoga Allah swt meridhai kita semua menuju kehidupan bahagia, baik  di dunia maupun  di akhirat kelak, amin.

 

  1. Alquran Mengangkat Derajat Perempuan

 

Fakta-fakta sejarah mengungkapkan, beribu tahun sebelum Islam datang, khususnya di wilayah Arab pada zaman Jahiliyah, perempuan dipandang tidak memiliki kemanusiaan yang utuh dan oleh karenanya perempuan tidak berhak bersuara, tidak berhak berkarya, dan tidak berhak memiliki harta.

Cerita tentang penguburuan anak-anak perempuan secara hidup-hidup karena orang tuanya khawatir menanggung malu adalah lembaran hitam yang menghiasi zaman jahiliyah. Ringkasnya, budaya jahiliyah sangat merendahkan perempuan dan memandangnya sebagai makhluk hina. Budaya itulah yang sekarang dikenal dengan nama budaya patriarki. Budaya yang mentolerir adanya penindasan, kekerasan,  perlakuan tidak adil, dan tidak manusiawi terhadap sesama manusia, khususnya terhadap perempuan.

Lalu, Islam datang memproklamirkan kemanusiaan perempuan sebagai manusia utuh. Perempuan adalah makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang setara dengan laki-laki.

Alqur’an menegaskan kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai berikut.

Pertama, Alqur’an menyebutkan bahwa unsur penciptaan perempuan dan laki-laki adalah sama, yaitu keduanya sama-sama diciptakan dari unsur yang satu (nafs wahidah).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا 

 Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari species yang satu (nafs wahidah), dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu (al-Nisa, 4:1).

Kedua, Alqur’an menegaskan bahwa perempuan adalah mitra sejajar laki-laki.

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ سَيَرۡحَمُهُمُ ٱللَّهُۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong (mitra sejajar) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Nabi saw-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (at-Taubah, 9:71).

 

Ketiga, Alqur’an menegaskan bahwa prinsip tauhid, yakni keyakinan bahwa hanya Allah yang patut dipertuhankan dan tidak ada siapa pun dan apa pun yang setara dengan Allah, meniscayakan kesetaraan semua manusia di hadapan Allah. Manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kewajiban yang sama, yakni menyembah hanya kepada Allah swt.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(al-Dzâriyât, 51: 56.)

 

Keempat, Alqur’an menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama mendapatkan pahala atas perbuatan baik mereka.

 

Maka Tuhan memperkenankan permohonannya: "Sesungguh-nya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) kamu adalah turunan dari sebagian yang lain (Ali Imran, 3:195).

 

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (an-Nahl, 16:97).

Kelima, Alqur’an menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki yang melakukan amal shaleh akan dimasukkan ke dalam surga dan tidak akan dizalimi sedikit pun.

 

وَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ وَلَا يُظۡلَمُونَ نَقِيرٗا 

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (an-Nisa, 4:124).

Keenam, Alqur’an menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan untuk saling ta’aruf. Artinya, saling mengenal satu sama lain agar dapat bekerja sama dengan bijak, dan yang terbaik di antara semua manusia adalah yang paling bertakwa.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ketujuh, Alqur’an menegaskan bahwa perempuan beriman dan laki-laki beriman hendaknya saling membantu dalam upaya-upaya amar makruf nahy munkar (mengusahakan kebaikan dan mencegah kejahatan).

Barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh, baik perempuan maupun laki-laki, dan sungguh-sungguh beriman, mereka pasti masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Nabi saw-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (at-Taubah, 9:71).

Nabi Muhammad saw sangat gigih mengikis budaya jahiliyah yang tidak manusiawi dan melecehkan perempuan. Beliau memperjuangkan terwujudnya ajaran Islam yang akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan, ajaran yang  mengusung kesetaraan dan keadilan gender. Beliau  secara bertahap mengembalikan hak-hak asasi perempuan sebagai manusia utuh dan merdeka.

Dapat disimpulkan, Islam menentang budaya jahiliyah yang merendahkan perempuan. Islam lalu memperkenalkan kepada masyarakat Arab dan juga masyarakat dunia tentang pentingnya memanusiakan perempuan, wajib mengangkat harkat dan martabat (dignity) perempuan sebagai manusia merdeka yang posisinya setara dengan saudara mereka para laki-laki, baik dalam keluarga maupun dalam kehidupan luas di masyarakat.

Tentu saja ada fungsi-fungsi yang berbeda di antara perempuan dan laki-laki akibat perbedaan fisik-biologis, namun perbedaan tersebut tidak harus menjadikan salah satu pihak, terutama perempuan mengalami ketimpangan dan ketidakadilan gender.

Sebagai orang beriman, kita semua hendaknya berupaya melawan dan mengurangi semua bentuk diskriminasi terhadap perempuan akibat pandangan stereotip, subordinasi, marjinalisasi, kekerasan, dan beban yang berat dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja kita melakukannya dengan cara-cara santun dan beradab.

 

  1. Tiga Alasan Munculnya Misinterpretasi Alqur’an

 

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa Alqur’an secara tegas mengangkat harkat dan martabat perempuan sebagai manusia utuh yang setara dengan saudara mereka para laki-laki. Lalu mengapa di masyarakat muncul pemahaman yang bias? Pemahaman yang memandang perempuan hanyalah obyek atau makhluk hina yang tidak setara posisinya dengan laki-laki? Pemahaman bias atau misinterpretasi terhadap Alqur’an muncul di masyarakat, antara lain karena tiga alasan berikut.

Pertama, pada umumnya umat Islam lebih banyak memahami agama secara dogmatis, bukan berdasarkan penalaran kritis dan rasional, khususnya pengetahuan agama yang menjelaskan peranan dan kedudukan perempuan. Tidak heran pemahaman sebagian umat Islam bersifat ahistoris, pemahaman Islam yang tidak berdasarkan fakta-fakta sejarah.

Kedua, pada umumnya masyarakat Islam memperoleh pengetahuan keagamaan hanya melalui ceramah verbal dan monolog dari para muballigh dan muballighah yang umumnya bias gender dan bias nilai-nilai patriarkhal.Tidak banyak masyarakat yang memperoleh pengetahuan keislaman berdasarkan kajian kritis, mendalam dan pemahaman holistik terhadap Alqur`an dan Sunnah.

Ketiga, interpretasi keislaman tentang relasi laki-laki dan perempuan di masyarakat lebih banyak mengacu kepada pemahaman tekstual teks-teks suci (Alqur’an dan Hadis). Pemahaman demikian sering mengabaikan nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti nilai keadilan, kesederajatan, kemaslahatan dan kasih-sayang.

Kondisi keterpurukan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan harus segera diakhiri. Bagaimana caranya? Paling tidak kita mulai dengan memaparkan kembali perjuangan Nabi saw membangun masyarakat madani (masyarakat yang berkeadaban) di Madinah.

Sejarah Islam menunjukkan secara konkret betapa Nabi saw melakukan perubahan radikal terhadap posisi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat Arab jahiliyah. Beliau dengan tegas mengubah posisi perempuan dari obyek yang dihinakan menjadi subyek yang dimuliakan. Nabi saw mengubah posisi perempuan yang subordinat, marjinal dan inferior menjadi manusia yang dihormati, setara dan sederajat dengan saudara mereka, kaum laki-laki.

Kita semua sepakat bahwa praktik kehidupan pada masa Nabi saw adalah implementasi dari ajaran tauhid yang merupakan esensi Islam. Oleh karena itu, keadilan bagi perempuan dan kelompok rentan lainnya sungguh-sungguh diwujudkan Nabi saw dalam realitas masyarakat Madinah. Dengan tauhid itu pula perempuan dimanusiakan dan diberikan hak-haknya secara adil.

Kehidupan masyarakat berbasis tauhid yang sarat dengan semangat penghormatan, persamaan dan persaudaraan pada akhirnya mendorong semua anggota masyarakat untuk bersatu dalam membangun masyarakat yang kuat. Semua anggota masyarakat: perempuan dan laki-laki, tanpa ada pembedaan sedikit pun, bekerjasama bahu-membahu menciptakan tatanan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur dalam ridha Allah. Itulah masyarakat Islami yang menjadi impian bagi kita umat Islam di masa sekarang dan akan datang.

Melalui ajaran tauhid inilah kita semua (laki-laki dan perempuan) berjuang sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk menegakkan ajaran Islam yang hakiki. Tujuannya tiada lain, demi mewujudkan kesejahteraan dan kemashlahatan seluruh masyarakat, bahkan juga seluruh makhluk di alam semesta, serta mengakhiri semua bentuk keterpurukan dan ketidak-adilan terhadap perempuan dan kelompok tertindas lainnya.

Alqur’an dengan jelas menggambarkan bahwa tujuan penciptaan manusia yang begitu beragam, beragam jenis kelamin, beragam suku, agama, kepercayaan dan bangsa adalah agar manusia saling mengenal untuk saling memahami (ta’aruf).

 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (al-Hujurat, 49:13).

 

Kita hendaknya memahami keragaman dan perbedaan masing-masing dan kunci untuk dapat saling memahami satu sama lain adalah respek atau rasa hormat terhadap manusia sebagai makhluk bermartabat. Yang kita hormati adalah kemanusiaaannya. Penghormatan terhadap manusia, apa pun suku, bangsa, dan jenis gendernya (perempuan dan laki-laki), esensinya adalah penghormatan kepada pencipta manusia yaitu Allah swt sang Mahapencipta.

Sikap saling menghormati dan saling menghargai dalam kehidupan bersama mengantarkan kita untuk hidup saling tolong-menolong dengan semangat gotong-royong. Sikap saling menghormati mendorong kita untuk selalu menebarkan cinta dan kasih sayang sehingga tercipta masyarakat yang damai, harmoni dan sejahtera atau dalam terminologi Alqur’an disebut baldatun thayyibah wa rabbun ghafur (negeri yang makmur dan Tuhan meridhainya). Sangat penting dicatat bahwa istilah itu dalam Alqur’an dinyatakan dalam kisah kerajaan Saba’ yang dipimpin seorang perempuan bernama Ratu Bulqis. Artinya, Alqur’an pun mengapresiasi kemampuan dan kesuksesan perempuan memimpin negara.

Sebaliknya, sikap tidak menghargai sesama melahirkan perilaku diskriminatif (pembedaan yang merugikan), prejudice (memandang dengan penuh curiga) dan stigma atau memandang rendah orang lain atas dasar identitas etnis, ras, agama, jenis kelamin, jenis gender dan lainnya adalah bertentangan dengan ajaran Islam yang hakiki.

Alqur’an  mengingatkan kita semua bahwa perilaku diskriminatif, stereotif, merendahkan orang lain, dan melakukan kekerasan adalah sebuah kezaliman dan kejahatan kemanusiaan yang dikecam dalam Islam, seperti terbaca dalam ayat berikut.

يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيرا منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيرا منهن ولا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب بئس الاسم الفسوق بعد الإيمان ومن لم يتب فأولئك هم الظالمون

Hai orang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan); dan jangan pula perempuan (merendahkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang direndahkan) lebih baik dari perempuan (yang merendahkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan panggilan pelecehan. Seburuk-buruk panggilan ialah melecehkan orang beriman, dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah kelompok yang dzalim” (al-Hujurât, 49:11).

 

Disebutkan pula dalam hadis:

بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَاياَ بَنِي إِسْراَئِيْلَ فَنَزَعَتْ مُوْقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ) رواه البخاري(

Suatu ketika ada seekor anjing berputar-putar di sekitar sumur. Anjing tersebut terlihat sangat kehausan dan hampir mati. Saat itu seorang perempuan pelacur dari Bani Israil melihat anjing kehausan itu. Lalu ia melepas sepatunya untuk dipakai mengambil air dari dalam sumur dan memberi  minum anjing tersebut. Disebabkan perbuatan ini, Allah mengampuni dosa-dosanya.”(Hadis Bukhari, nomor 3298).

 

  1. Tugas Manusia (Perempuan dan Laki-laki) Sebagai Khalifah

 

Alqur’an secara terang-benderang menjelaskan bahwa visi penciptaan manusia (perempuan dan laki-laki) adalah menjadi khalifah fil ardh. Dengan demikian, semua manusia tanpa kecuali memiliki posisi dan tugas sangat spesifik dan terhormat, yaitu menjadi khalifah (al-Baqarah, 2:30):

Ingatlah ketika Allah berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan manusia (perempuan dan laki-laki) sebagai khalifah di bumi."  Malaikat berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan manusia sebagai khalifah, padahal mereka nantinya hanya akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah, sementara kami senantiasa bertasbih, memuji dan mensucikan Engkau?" Allah berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ayat tersebut menjelaskan, tujuan utama penciptaan manusia (perempuan dan laki-laki) adalah menjadi khalifah (pemimpin, pengelola, menejer) di bumi. Artinya, semua manusia diharapkan mampu menjadi agen moral melakukan upaya-upaya perbaikan moral, memimpin, mengelola dan membina diri sendiri untuk meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Setelah diri sendiri, kita beralih mengelola dan membina anggota keluarga, selanjutnya menjadi agen moral di masyarakat. Semua itu kita lakukan sesuai kapasitas dan kemampuan masing-masing.

Dalam tata bahasa Arab, kata khalîfah tidak merujuk pada jenis kelamin atau kelompok tertentu. Dengan demikian, semua manusia dari suku apa pun, perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi sebagai khalifah dan akan mempertanggung-jawabkan tugas kekhalifahan itu kelak di hadapan Allah swt.

Dalam konteks individual, tugas utama khalifah, baik laki-laki maupun perempuan, antara lain mampu mengelola dan menata pikiran, hati dan syahwat.

Pertama, mengelola dan menata pikiran agar selalu berfikir positif, tidak berfikir negatif sehingga terhindar dari perilaku buruk sangka, stigma dan prejudice, dan terjauhkan dari semua perbuatan zalim yang mencederai sesama.

Kedua, mengelola dan menata hati atau qalbu agar selalu peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain, serta memiliki solidaritas kemanusiaan, punya rasa empati kemanusiaan sehingga ringan tangan menolong dan membela kelompok tertindas dan marjinal.

Ketiga, mengelola dan menata syahwat agar mampu menghindarkan diri dari semua perbuatan tercela, seperti perkosaan, perzinahan, incest, pedofili, pelecehan seksual, serta semua bentuk perselingkuhan dan hubungan seksual yang tidak terpuji.

Dalam konteks sosial, tugas khalifah yang utama adalah amar ma’ruf nahy munkar, yaitu melakukan upaya-upaya perbaikan moral masyarakat dengan aksi-aksi konkret dalam bentuk upaya-upaya transformasi dan humanisasi.

Upaya transformasi mencakup semua upaya untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, seperti pelatihan, pendidikan, seminar, workshop dan berbagai kegiatan sosial dan ilmiah yang mengarah kepada perbaikan dan peningkatan kualitas diri manusia menjadi lebih baik, lebih positif, produktif, dan konstruktif.

Adapun upaya humanisasi mencakup semua kegiatan untuk memanusiakan manusia. Termasuk pula di dalamnya upaya penyebaran informasi dan publikasi, serta advokasi untuk mencerahkan masyarakat atau membela kelompok-kelompok yang mengalami penindasan dan perlakukan tidak adil, seperti kelompok miskin, minoritas, perempuan dan anak, khususnya anak terlantar, difabel (kelompok cacat) dan Odha (penderita HIV/Aids) dan sebagainya.

Alqur’an menegaskan bahwa manusia memiliki tempat yang sangat sentral dalam ajaran Islam, yakni sebagai khalifah fi al-ardh, sebagai agen perubahan moral. Hanya satu kata kunci yang memungkinkan manusia (perempuan dan laki-laki) mampu menjalankan fungsinya sebagai khalîfah, yaitu ketakwaan, bukan keutamaan keturunan (nasab), bukan jenis kelamin, bukan jenis gender, bukan pula kemuliaan suku dan seterusnya.

Tugas berat dan penting tersebut tidak mungkin dilakukan oleh satu jenis manusia, sementara satu jenis yang lain melakukan hal sebaliknya. Sebagai manusia yang diberi amanah tugas kekhalifahan yang sama, laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk saling bekerja sama, bahu-membahu dan saling mendukung dalam melakukan amar ma’rûf nahy munkar.

Alqur’an menyatakan secara indah dalam ayat berikut.

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong bagi sebahagian lain. Mereka menyuruh mengerjakan hal-hal yang ma'ruf (transformasi), mencegah dari yang munkar (humanisasi), mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Nabi-Nya. Mereka semua akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ( al-Taubah, 9: 71).

 

Alqur’an sama sekali tidak memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu. Tidak ada keistimewaan khusus bagi laki-laki atau perempuan, semua setara dan sederajat di hadapan Tuhan, yakni sama-sama sebagai hamba Allah dan sama-sama berfungsi sebagai khalifah Allah.

 

Alqur’an menggambarkan dengan jernihnya, bahwa setiap orang (perempuan dan laki-laki) akan diberi pahala sesuai amal kebaikan masing-masing.

 Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepada mereka kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (al-Nahl, 16:97).

 

  1. Ciri-ciri Perempuan Ideal Menurut Alqur’an

 

Alqur’an menggambarkan ciri-ciri ideal seorang perempuan muslimah sebagai berikut:

Pertama, perempuan yang memiliki keteguhan iman dan tidak berbuat syirik, terjaga kemuliaan akhlaknya dengan tidak berdusta, tidak mencuri, tidak berzina dan tidak menelantarkan anak-anak.

 

Hai Nabi saw, apabila datang kepadamu perempuan beriman untuk mengadakan janji setia (baiat), bahwa mereka tidak menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik. Maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (al-Mumtahanah, 60:12).

 

Kedua, perempuan yang adil dan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan dan memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah) seperti figur Ratu Bulqis, Ratu Kerajaan Saba’, sebuah kerajaan super power  ('arsyun 'azhim).

 

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan Dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar (al-Naml, 27:23).

 

Ketiga, perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi) seperti figur perempuan pengelola peternakan dalam kisah Nabi Musa as di wilayah Madyan.

 

Dan tatkala Musa sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai sekumpulan orang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang  perempuan sedang menunggu dengan penuh kesabaran. Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuatat begitu)?" keduanya menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum para pengembala laki-laki itu pergi, sedang bapak kami sudah uzur" (al-Qashash, 28:23).

 

Keempat, perempuan yang memiliki kemandirian dan integritas yang kokoh, terutama dalam menentukan pilihan pribadi (al-istiqlal al-syakhshi) yang diyakini kebenarannya. Hal ini dapat dilihat pada figur istri Fir’aun bernama 'Asiyah binti Muzahim. Beliau adalah perempuan yang mandiri dan sangat tegar menolak kedzaliman.

 

Dan Allah membuat istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Allah, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan kezalimannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim  (al-Tahrim, 66:11).

 

Kelima, perempuan yang menjaga kesucian diri, berani mengambil sikap oposisi atau menentang pendapat orang banyak (public opinion) karena meyakini pendapatnya benar, seperti  ibunda Nabi Isa as, Maryam binti Imran.

 

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang menjaga kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia kemudian membenarkan kalimat  Tuhan  dan kitab-kitab-Nya, dan dia termasuk para perempuan yang taat (al-Tahrim, 66:12).

 

  1. Alqur’an Tentang Prinsip Dasar Perkawinan

 

Pertama, prinsip mitsaqan galiza. Istilah mitsaqan galiza disebutkan dalam surah an-Nisa ayat 21 artinya komitmen suci yang sangat kuat. Mitsaqan galiza digunakan dalam Alqur’an untuk menggambarkan perjanjian tauhid antara Allah swt dan para nabi serta para wali.

Alqur’an menggambarkan ikatan perkawinan dengan istilah mitsaqan ghalidzan karena perkawinan sejatinya adalah perjanjian suci atau komitmen kuat di antara dua pihak yang setara dan penuh diliputi cinta dan kasih sayang. Oleh karena itu, para pihak (suami-istri)  berkewajiban menjaga kesucian dan kelanggengan perjanjian tersebut.

 

وَكَيۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظٗا 

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (an-Nisa, 4:21).

 

Kedua, prinsip mawaddah wa rahmah. Istilah ini berarti cinta dan kasih-sayang yang tak bertepi. Suami-istri hendaknya saling mencintai satu sama lain secara tulus tanpa syarat.

 

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (ar-Rum, 30: 21).

 

Pasangan suami istri sangat dianjurkan memperbanyak doa dan tak lupa berikhtiar agar dianugerahi mawaddah wa rahmah sehingga keduanya dapat saling mengasihi dan saling mencintai secara tulus dan ikhlas tanpa pamrih. Semua sikap dan perilaku suami istri dalam kehidupan bersama semata-mata bermuara pada rasa kasih-sayang dan cinta yang tulus yang tak ada habisnya. Saling mengasihi dan mencintai sampai di akhir hayat.

 

Ketiga, prinsip mu’asyarah bil ma’ruf. Istilah ini bermakna saling menghormati, sopan santun dan penuh kelembutan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَحِلُّ لَكُمۡ أَن تَرِثُواْ ٱلنِّسَآءَ كَرۡهٗاۖ وَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ لِتَذۡهَبُواْ بِبَعۡضِ مَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا 

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan perlakukan istrimu dengan penuh sopan-santun. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (an-Nisa 19).

 

Selain Alqur’an, diitemukan pula sejumlah tuntunan hadis agar suami memperlakukan istrinya dengan penuh sopan santun, di antaranya berikut ini.

 

اتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ

"Bertakwalah kalian kepada Allah swt. berkaitan dengan urusan perempuan. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanat Allah, dan kalian juga telah memperoleh (dari Tuhan) kehalalan atas kehormatan mereka dengan kalimat Allah" (HR. Bukhari).

 

Keempat, prinsip kesetaraan (musawah).

Alqur’an mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri. Sebaliknya, istri pun adalah pakaian bagi suami. Mengapa Alqur’an menggunakan istilah pakaian untuk melukiskan hubungan suami-istri? Secara sosiologis, pakaian sangat berguna bagi manusia, di samping sebagai pelindung tubuh dari udara panas dan dingin, pakaian juga membuat manusia menjadi percaya diri dan merasa nyaman.

 

Seharusnya dalam kehidupan perkawinan, masing-masing pihak (suami-istri) berusaha berfungsi sebagai pakaian, yaitu membuat pasangannya terlindungi dan sekaligus membuatnya konfiden dan merasa nyaman. Luar biasa indahnya Alqur’an mengilustrasikan pasangan dengan pakaian. Pakaian hanya akan dipakai jika seseorang merasa cocok dan nyaman dengan pakaian tersebut. Intinya, diperlukan hubungan yang setara dan timbal-balik antara suami-istri. Keduanya harus saling melindungi dan saling mengasihi satu sama lain selamanya.

 

 … أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمۡۚ هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنكُمۡۖ فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ 

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka para istri adalah pakaian bagimu wahai suami, dan sebaliknya, kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu (al-Baqarah, 2:187).

 

Ayat tersebut mengisyaratkan perlunya suami istri saling membantu dan saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal, sebaliknya tidak ada pula yang serba tidak sempurna. Suami istri pasti saling membutuhkan. Suami-istri harus dapat berfungsi memenuhi atau menutupi kebutuhan pasangannya, ibarat pakaian menutupi tubuh.

 

Kelima, prinsip musyawarah. Alqur’an mengajarkan kepada suami-istri agar selalu bermusyawarah, terutama dalam mengambil keputusan penting dalam hidup berkeluarga. Salah satu kunci kebahagiaan dalam keluarga, adanya musyawarah dalam bentuk interaksi dan komunikasi yang hangat dan  intensif di antara suami-istri.

 

 أَسۡكِنُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ سَكَنتُم مِّن وُجۡدِكُمۡ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُواْ عَلَيۡهِنَّۚ وَإِن كُنَّ أُوْلَٰتِ حَمۡلٖ فَأَنفِقُواْ عَلَيۡهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ فَإِنۡ أَرۡضَعۡنَ لَكُمۡ فَ‍َٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأۡتَمِرُواْ بَيۡنَكُم بِمَعۡرُوفٖۖ وَإِن تَعَاسَرۡتُمۡ فَسَتُرۡضِعُ لَهُۥٓ أُخۡرَىٰ 

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya (at-Thalaq, 65:6).

 

Keenam, prinsip monogami. Alqur’an tegas menyatakan, monogami adalah bentuk perkawinan yang paling adil. 

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) anak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya  (an-Nisa, 4:3).

Sepintas ayat 3 tersebut mengandung perintah untuk beristri lebih dari satu (poligami). Akan tetapi, jika membacanya sampai akhir ayat, akan terasa ketegasan perintah Allah swt agar menikah dengan seorang istri saja (monogami). Sebab, hanya dengan monogami itulah seorang suami dapat terjaga dari perilaku ketidakadilan dan aniaya.

Selain itu, dalam surah yang sama ayat 129, Allah swt semakin mempertegas perintahnya untuk melakukan monogami.

 

وَلَن تَسۡتَطِيعُوٓاْ أَن تَعۡدِلُواْ بَيۡنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوۡ حَرَصۡتُمۡۖ فَلَا تَمِيلُواْ كُلَّ ٱلۡمَيۡلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ وَإِن تُصۡلِحُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا رَّحِيمٗا 

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Perlu dicatat bahwa Alqur’an turun pada abad ke-7 M dimana masyarakat waktu itu dikenal dengan masyarakat Jahiliyah yang mempraktekkan poligami tanpa batasan sedikit pun. Lalu, Islam datang memperkenalkan ajaran yang lebih manusiawi dan mengedepankan nilai-nilai moralitas, di antaranya dengan mengatur perkawinan dengan prinsip keadilan.

Alqur`an mewajibkan para suami memperlakukan istri secara adil, demikian sebaliknya. Keduanya harus saling  mengedepankan rasa hormat, lembut, sopan, dan tanggung jawab. Suami atau istri tidak boleh melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun dan untuk alasan apa pun, tidak boleh ada perilaku diskriminatif dan eksploitatif sedikit pun dalam kehidupan bersama dalam kehidupan keluarga.

 

  1. Alqur’an Tentang Berbagai Posisi Perempuan

 

  1. Posisi perempuan sebagai anak

 

Alqur’an memanusiakan perempuan seutuhnya seperti laki-laki. Untuk itu, Islam melarang semua bentuk pembunuhan bayi perempuan sebagaimana terjadi di masa jahiliyah.

Jika pada masa jahiliyah, akikah (perayaan kelahiran anak) hanya ditujukan pada anak laki-laki. Maka di masa Islam, Nabi saw merayakan kelahiran anak perempuan dengan menyembelih kambing untuk acara akikah seperti merayakan kelahiran anak laki-laki.

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan,  maka hitamlah mukanya karena sangat marah. Lalu ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena malu. Apakah ia akan memelihara anak tersebu dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu (an-Nahl, 16:58-59).

Nabi Muhammad saw mengajarkan para orang tua agar bertindak adil terhadap anak perempuan, tidak mendominasi dan mendiskriminasikan mereka, dan tidak melakukan tindak kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence). Orang tua selayaknya memberikan pendidikan seluas-luasnya kepada mereka, tidak memaksakan kehendak, terutama dalam pernikahan dan pemilihan jodoh. 

Terlebih terhadap anak-anak yatim perempuan. Alqur’an memberikan perhatian yang sangat khusus, dan sama sekali tidak membenarkan praktik ketidakadil­an terhadap mereka, misalnya menahan mereka agar tidak dikawini orang lain atau mengawini mereka tanpa mem­berikan hak-haknya.

Alqur’an dengan tandas menyatakan bahwa mereka, anak-anak yatim perempuan, perempuan-perempuan dewasa lainnya dan mereka yang ter­lemahkan oleh struktur sosial, harus mendapatkan perlindungan dan  perlakuan yang adil.

 

  1. Posisi perempuan sebagai istri

 

Alqur’an mengajarkan bahwa perkawinan bukanlah semata ucapan ijab-qabul, melainkan suatu akad (komitmen) yang sangat kuat antara dua orang manusia yang bertujuan membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah (keluarga yang tenteram, penuh cinta, dan  kasih-sayang).

Itulah sebabnya, dalam perkawinan Islam tidak dibenarkan adanya perilaku dominasi, diskriminasi, eksploitasi, dan segala bentuk poligami, selingkuh dan kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Pada setiap akad nikah, Nabi saw biasanya membacakan ayat al-Ahzab, 33:70-71:

Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan benar, niscaya Allah memperbaiki  amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. dan barangsiapa mentaati Allah dan Nabi saw-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

Alqur’an menjelaskan bahwa kunci utama dalam kehidupan bersama, termasuk dalam kehidupan keluarga adalah menjaga tutur kata yang sopan dan santun. Jangan berdusta dan berkata kasar atau keji. Kejujuran dan kelembutan menyelamatkan banyak orang dari bencana fitnah dan juga berbagai musibah.

Hubungan suami-istri pun akan langgeng dan abadi manakala kedua suami-istri selalu menjaga ucapan dan tindakan masing-masing sehingga tidak mencederai pasangan. Selain itu, suami-istri pun harus berupaya menjadi orang yang selalu menebar kasih-sayang kepada sesama.

 

  1. Posisi perempuan sebagai ibu

 

Posisi perempuan sebagai ibu adalah sangat mulia dan terhormat. Surga terletak di bawah kaki ibu, artinya keridhaan ibu amat menentukan keselamatan dan kebahagiaan seorang anak. Karena itu, ibu berhak mendapatkan penghormatan tiga kali lebih besar dari penghormatan anak kepada ayahnya. Hadis berikut menjelaskan secara indah.

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ شُبْرُمَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ. (رواه البخارى ومسلم)

 

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi sawullah Saw., ia berkata: Ya Rasulullah, siapakah di antara para manusia yang paling patut saya hormati? Jawab Rasulullah saw: Ibumu, kemudian siapa? Ibumu, kemudian siapa? Ibumu, kemudian siapa? Ayahmu. (Bukhari dan Muslim)

Tugas berat sebagai ibu sangat diapresiasi Islam. Islam menghargai hak-hak reproduksi ibu sebagai manusia merdeka. Karena itu, perempuan memiliki hak penuh atas rahimnya, dia dapat menentukan kapan akan menikah, dan kapan akan hamil. Tubuh perempuan bukan mesin reproduksi. Seorang perempuan tidak boleh mengalami kesengsaraan dan penderitaan, apalagi kematian karena melakukan fungsi-fungsi reproduksi yang sangat mulia itu. Suami, masyarakat dan negara hendaknya menyediakan fasilitas yang memungkinkan para ibu menunaikan tugas reproduksinya dengan mudah, nyaman dan aman. Misalnya, menyediakan rumah bersalin yang mudah dijangkau oleh semua golongan, demikian juga pelayanan pre-natal dan post-natal yang nyaman dan menyenangkan.

Ketika seorang ibu menjalani tugas-tugas reproduksi: haid, hamil, melahirkan dan menyusui anak, maka suami wajib menyediakan makanan bergizi, pakaian yang layak, dan tempat tinggal yang memadai untuk melindungi ibu dari panas dan dingin. Bahkan, juga menjaga jiwa dan emosi ibu dari segala gangguan yang menyebabkan dia merasa tidak aman dan nyaman. Kesimpulannya, Alqur’an menempatkan ibu sebagai figur yang diagungkan dan dimuliakan dalam keluarga dan masyarakat.

 

  1. Sebagai warga masyarakat

Alqur’an menempatkan posisi perempuan dalam masyarakat dan negara sangat jelas, yakni sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan laki-laki. Dalam konteks ini, posisi perempuan dan laki-laki dijelaskan secara indah dalam ayat 33 surah al-Ahzab berikut:

 

 

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا 

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Perhatikan dengan seksama, ayat tersebut menyebut secara jelas bahwa laki-laki dan perempuan yang muslim, mukmin, taat, benar, sabar, khusyu’, bersedekah, berpuasa dan menjaga kehormatannya serta rajin berzikir keduanya mendapatkan posisi yang sederajat di mata Allah swt. Keduanya sama-sama dijanjikan ampunan dan pahala yang besar. Subhanallah!!

Selain itu, perintah Allah swt untuk berbuat adil dalam seluruh bidang kehidupan, baik dalam ranah domestik maupun ranah publik sangat tegas dan tandas. Keadilan mesti ditegakkan. Demikianlah, keadilan merupakan prinsip ajaran Islam yang sangat mendasar dalam menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Prinsip itu harus selalu ada dalam setiap norma, tata nilai dan perilaku umat di mana pun dan kapan pun.

Keadilan yang diajarkan Islam selalu memuat prinsip membela yang benar, melindungi yang tertindas, menolong yang kesulitan, dan menghentikan kezaliman dan kesewenang-wenangan. De­ngan keadilan, yang benar akan dibela meskipun merupakan kelompok minoritas dan tertindas.

Kehadiran Islam dengan nilai-nilai keadilan telah membuat kaum tertindas dan marjinal (mustadh’afin) memiliki harapan. Di antara kelompok mustadh’afin yang pa­ling beruntung dengan kehadiran Islam adalah kaum perem­puan.

Posisi perempuan sebagai warga masyarakat dan warga negara adalah setara dengan laki-laki. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama, keduanya pun bertanggung jawab penuh membentuk masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera (baldatun thayyibah wa rabbun ghafur).

Perempuan harus mampu membagi waktunya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kepentingan masyarakat. Perempuan tidak boleh egois, hanya mementingkan diri sendiri, apalagi bersifat apatis atau masa bodoh dengan persoalan masyarakat. Sebagai warga masyarakat, perempuan dan laki-laki hendaknya bekerja sama memajukan dan menyejahterakan masyarakat.

Perempuan harus selalu ingat bahwa tugas utamanya diciptakan Allah swt adalah menjadi khalifah, menjadi pemimpin, pengelola dan menejer. Tugas itu dimulai dari memimpin, mengelola dan menata diri sendiri, lalu anggota keluarga dan selanjutnya masyarakat luas. Dengan demikian, hidup perempuan akan bermakna sepenuhnya dan insya Allah mendapatkan ridha Allah swt sebagaimana dijanjikan dalam Alqur’an.

Akhirnya, Alqur’an menyimpulkan bahwa tujuan Islam adalah rahmatan lil alamin, yaitu menebarkan kasih-sayang bagi semua makhluk di alam semesta sebagai bentuk ibadah manusia kepada Sang Pencipta.  Semua makhluk ciptaan Tuhan seharusnya menjadi damai dengan kehadiran Islam, termasuk kaum perempuan.

Karena itu, sangatlah jelas bahwa kemuliaan perempuan dalam Islam menjadi sebuah keniscayaan. Semoga Tuhan Yang Mahapenyayang dan Mahapengasih merahmati kita semua. Amin ya rabbal alamin.   Wa Allah a`lam bi as-sawab.