Oleh: Musdah Mulia

Perintah wajib puasa pada bulan Ramadhan ditetapkan  di Madinah pada tanggal 10 Sya`ban tahun kedua Hijrah dengan turunnya ayat-ayat 183, 184, 185, dan 187 surat al-Baqarah. Puasa bulan Ramadhan merupakan rukun Islam ketiga. Mengapa Allah memilih Ramadhan sebagai pelaksanaan dari kewajiban puasa?

Salah satunya karena pada bulan itu Al-Qur`an diturunkan untuk pertama kali. Selain itu, pada bulan ini Allah swt. menjadikan satu malam di antaranya sebagai "lailat al-qadar", malam di mana ibadah manusia diberi ganjaran 1000 kali lipat dari biasanya. Bahkan, pada bulan itu dibukakan semua pintu surga (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Ada banyak tujuan yang dapat digapai melalui puasa, di antaranya menjaga kesehatan, mengurangi berat badan, memperlambat proses penuaan, menambah kecantikan, mengendalikan diri dan emosi dan sebagainya. Namun, Al-Qur`an menggarisbawahi bahwa tujuan hakiki puasa adalah menjadi orang yang bertakwa (Q.S. al-Baqarah, 2:183).

Persoalannya, apa kriteria orang bertakwa? Secara etimologis takwa berarti "menjaga diri". Para ulama sering menjelaskan takwa sebagai upaya menjaga diri dari segala perbuatan dosa, termasuk meninggalkan segala bentuk perilaku kekerasan, khususnya terhadap anak dan perempuan, serta kelompok rentan lainnya. Karena itu, yang patut disebut bertakwa hanyalah mereka yang memiliki kepribadian utuh dan integral (Q.S. al-Hujurat, 49:13).

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Al-Qur`an juga menjelaskan sejumlah kualifikasi orang-orang bertakwa, diantaranya adalah: 1) beriman kepada yang gaib, seperti Allah swt, para malaikat, dan hari akhirat; 2) mendirikan salat; 3) menginfakkan sebagian dari rezeki yang diperolehnya, dan 4) beriman kepada Al-Qur`an dan kitab-kitab suci lain yang diturunkan sebelumnya (Q.S. al-Baqarah, 2:2-4). Wujud Orang bertakwa dalam kehidupan nyata di masyarakat adalah mereka yang kehadirannya dirasakan bermanfaat bagi orang lain. Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling berguna bagi sesamanya (Hadis).

Orang-orang yang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah swt., tidak hanya ketika di akhirat nanti, tetapi juga ketika mereka masih berada di dunia ini. Al-Qur`an menyebutkan sejumlah kelebihan mereka, di antaranya lima keutamaan: Pertama, diberikan solusi pada setiap problema yang dihadapinya (Q.S.at-Talaq, 65:2). Kedua, dipermudah segala urusannya (Q.S. at- Talaq, 65: 4). Ketiga, dianugerahi berkah dari langit dan bumi (Q.S. al- A'raf, 7:96. Keempat,  diberikan kemampuan untuk dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil (Q.S. al-Anfal, 8:29; dan kelima, diampuni segala dosa dan kesalahannya (Q.S. al-Hadid, 57:28)

Selanjutnya, agar puasa dapat mengantarkan pelakunya menjadi orang bertakwa, perlu dipahami terlebih dahulu apa makna puasa. Puasa pada hakikatnya adalah upaya pengendalian diri (self control) dari segala bentuk pikiran, keinginan, ucapan, dan tindakan yang tidak terpuji. Puasa yang sebenarnya adalah puasa yang mampu mencegah seseorang dari ucapan dusta dan tindakan yang tercela (HR. Bukhari).

Di hadis lain dinyatakan puasa itu hendaknya mampu mengekang seseorang dari berkata yang tidak senonoh dan kasar, bahkan jika ada orang lain yang memaki atau menyakiti dirinya, hendaknya ia berkata: "aku ini sedang puasa" (HR. Bukhari).

Puasa menghendaki pelakunya mampu menahan diri dari berbagai perangai kasar dan tercela, sampai-sampai meskipun seseorang itu dimaki  misalnya, sebaiknya ia mengalah, dan tidak perlu memberikan reaksi serupa. Hal itu tidak mudah karena jika sistem pengendalian pada diri seseorang terganggu, akan timbul berbagai reaksi patologik (kelainan) dalam seluruh aspek dirinya, pada pikiran, perasaan, dan perilakunya. Reaksi kelainan tersebut bukan hanya mengganggu diri yang bersangkutan, melainkan juga mengganggu ketenteraman orang lain.

Sebagai contoh, seseorang yang tidak mampu mengendalikan diri dari makan-minum yang berlebihan akan menimbulkan gangguan, baik pada dirinya sendiri, antara lain berupa obesitas, darah tinggi, dan sebagainya, maupun pada diri orang lain disekitarnya, misalnya orang lain tidak kebagian makan karenanya. Atau jika dia sakit karena kelebihan makan, maka orang lain akan susah merawatnya. Tidak salah jika disimpulkan bahwa pengendalian diri merupakan salah satu indikasi jiwa yang sehat. Semakin sehat jiwa seseorang, semakin kuat pula kemampuannya untuk mengendalikan diri.

Puasa sebagaimana ibadah lainnya memiliki dua dimensi, hablun min Allah (hubungan vertikal dengan Allah swt.) dan hablun min an-nas (hubungan horisontal antar-manusia). Karena itu, seseorang yang melaksanakan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh beriman dan ikhlas (imanan wa ihtisaban) secara tidak langsung dalam pengabdiannya terhadap Allah itu juga akan termanifestasi pengabdiannya kepada kemanusiaan.

Bentuk perwujudan hablun minannas di antaranya menumbuhkan solidaritas sosial kepada fakir-miskin yang lapar. Puasa menumbuhkan dalam diri seseorang keinginan untuk mengorbankan atau mendermakan sebagian dari hartanya untuk membantu fakir-miskin kapan saja, bukan hanya pada bulan Ramadhan. Puasa juga menumbuhkan rasa senasib dan sependeritaan. Dia tidak akan melakukan korupsi karena berdampak buruk bagi orang lain. Dia tentu tidak ingin mencelakan sesama manusia sebagaimana dia tidak ingin mencelakan dirinya sendiri.

Intinya, dengan berpuasa seseorang dapat mengendalikan dirinya dari berbagai perilaku keji dan tercela sehingga masyarakat di sekitarnya merasakan kedamaian dan ketenteraman. Jika semua orang mampu berbuat demikian, pasti akan terwujud masyarakat yang aman dan tenteram.