Oleh: Musdah Mulia

 

اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دار السلام تباركت ربنا وتعاليت يا ذا الجلال والإكرام.

Allahumma anta as-salam wa minka as-salam wa ilayka ya`udu as-salam fa hayyina rabbana bi as-salam wa adkhilna jannata daara as-salam, tabarakta rabbana wa ta`alayta yaa zal Jalaali wa al-ikraam.

Kedamaian adalah nilai yang paling esensial dalam ajaran Islam. Ironisnya nilai ini tidak banyak disosialisasikan dalam kehidupan umat Islam sehingga wajah Islam yang banyak dikenal adalah sisi yang keras dan penuh amarah, bukan sisi yang sejuk menentramkan atau sisi yang ramah terhadap semua makhluk seperti istilah dalam ayat: rahmatan lil alamin.

Sesungguhnya ajaran Islam  penuh sarat dengan pesan-pesan moral untuk kedamaian menuju terwujudnya baldatun thayyibah wa rabbun ghafur  (tatanan kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan ampunan ilahi). Nilai kedamaian secara gamblang disimbolkan dari nama agama ini sendiri, yakni Islam.

Dari segi penamaan, Islam berbeda dari agama samawi lain yang namanya dinisbatkan kepada nabi sang penerima wahyu. Nama Islam terambil dari akar kata  salam yang makna dasarnya adalah kedamaian. Kemudian dari makna dasar itu muncul makna-makna yang searah, seperti keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela. Salah satu sifat Allah yang terpuji adalah as-salam. Disebut demikian karena Dia Maha Sempurna, terhindar dari segala aib, kekurangan, ketidakadilan, kekerasan, dan kepunahan.

Beranjak dari makna Islam tersebut, maka tolok ukur seorang Muslim sangat jelas, yakni seseorang yang mendatangkan kedamaian bagi orang lain. Hal itu sesuai dengan hadis Nabi yang berbunyi: “Orang Muslim adalah orang yang ucapan dan perilakunya tidak mengganggu orang lain.” (al-muslimu man salima al-muslimuna min lisanih wa yadih).

Jadi, jika ada seseorang yang mengaku Muslim, tetapi, ucapan dan tindakannya selalu menyusahkan orang lain atau menimbulkan kegelisahan dan ketakutan, apalagi bencana bagi orang lain tentu saja tidak layak untuk digolongkan sebagai Muslim. Dengan ungkapan lain, mengaku sebagai Muslim sejati, bukan Muslim KTP,  ternyata tidaklah mudah. Sebab, pengakuan tersebut harus diikuti dengan ucapan dan perilaku yang selalu mendatangkan kedamaian, ketenangan dan ketenteraman bagi orang lain.

Islam secara teologis merupakan rahmat bagi seluruh alam. Ajarannya mengandung nilai-nilai universal yang meliputi semua aspek kehidupan manusia. Dari aspek kehidupan, ajarannya meliputi persoalan manusia sejak sebelum dilahirkan sampai ke saat kematian. Dari aspek hukum, meliputi berbagai persoalan manusia, baik dalam kapasitasnya sebagai individu maupun anggota masyarakat. Dari aspek psychologis, ajarannya memberikan ketenteraman lahir batin; dan dari aspek antropologi ajarannya ditujukan kepada semua bangsa dan masyarakat.

Kata salam dalam Al-Qur`an disebut 42 kali. Kata ini dipakai untuk menggambarkan sejumlah makna sebagai berikut. Pertama, untuk menyatakan makna ucapan salam yang bertujuan mendoakan orang lain agar mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan, seperti terlihat dalam QS. az-Zariat, 51:25. Kedua, bermakna nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya, seperti as-Saffat, 37: 79, 120, dan 130. Ketiga memberikan makna jalan yang dilalui oleh orang-orang beriman (QS. al-Maidah, 5:16) atau negeri yang penuh diliputi ketenteraman dan kedamaian (QS. al-An`am, 6:127); Keempat, menjelaskan salah satu dari sifat Allah swt (QS. al-Hasyr, 59:23); dan kelima, menggambarkan sikap ingin perdamaian atau meninggalkan pertengkaran. Allah swt memuji hamba-hamba-Nya yang selalu mencari kedamaian, walaupun berada bersama orang-orang jahil (QS. al-Furqan, 25:63).

Berkenaan dengan point kelima tadi, fakta-fakta sejarah Islam pada masa-masa awal membuktikan betapa Nabi Muhammad saw. telah memberikan teladan yang amat signifikan. Kita telah maklum betapa besar resistensi kaum musyrikin Makkah terhadap ajaran Islam, namun menghadapi sikap resistensi yang melampaui batas itu, Nabi saw. memilih  sikap mencari kedamaian, bukan  melawan dengan kekerasan dan pedang. Nabi cukup membacakan kepada mereka firman Allah yang berbunyi:

 

…وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ(24) قُلْ لاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلاَ نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ(25)قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ(26)

 

"...Sesungguhnya kami atau kamu pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.. Katakanlah: Kamu tidak akan diminta mempertangung-jawabkan pelanggaran-pelangaran kami, sebagai-mana kami pun tidak akan diminta mempertanggung-jawabkan perbuatan-perbuatan kamu. Katakanlah: Tuhan kelak akan menghimpun kita semua kemudian Dia memberi keputusan di antara kita dengan benar, sesungguhnya Dia Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui" (QS, 34: 24-26).

Ayat di atas menyiratkan perlunya menjaga emosi agar tidak mudah meledak. Nabi tidak diperintahkan menyatakan absolusitas kebenaran ajaran yang dibawanya, tetapi justru sebaliknya. Kandungan ayat itu menjelasan agar Nabi mengatakan: "mungkin kami yang benar, mungkin pula kamu, mungkin kami yang salah, mungkin pula kamu, karena di antara kita tidak pasti mana yang benar dan mana yang salah, maka kita serahkan saja pada Tuhan untuk memutuskannya karena Dialah yang Maha Benar."

Damai adalah sifat utama dari “masyarakat beradab” dan sifat damai dari masyarakat tersebut dapat dilihat dari kesadaran bersama dari para anggota masyarakatnya. Dalam bentuknya yang paling murni, kedamaian adalah keheningan batin yang dipenuhi dengan kekuatan dan kebenaran. Kedamaian terdiri dari buah pikiran yang suci, perasaan yang suci, dan keinginan yang suci. Manakala kekuatan dari buah pikiran, perkataan, dan perbuatan seimbang, mantap dan konsisten, maka manusia berada dalam keadaan damai dengan dirinya, dengan sesamanya manusia, dan bahkan dengan makhluk lainnya di alam semesta.

Nilai-nilai kedamaian hanya dapat ditumbuhkan dalam diri manusia jika ia yakin bahwa manusia itu pada dasarnya baik, hanya faktor-faktor eksternal yang datang dari luar diri manusialah yang menyebabkan manusia berubah menjadi jahat. Jika kita yakin bahwa pada dasarnya manusia itu baik, selalu ada optimisme dalam diri kita untuk membangun damai. Damai dengan diri sendiri, damai dengan orang lain, dan damai dengan makhluk lain di alam semesta.

Kedamaian adalah enerji yang memancar terus-menerus dari sumber yang abadi, itulah Allah swt, Tuhan pencipta alam semesta. Dia adalah sumber kekuatan yang secara alami mengembalikan segala sesuatu, termasuk manusia pada tempatnya yang seimbang. Karena itu dalam salah satu hadis Nabi, kita diajarkan untuk berdoa dengan menggunakan nama-Nya, sang sumber kedamaian untuk memohon damai bagi diri sendiri.

Al-Ghazali, ulama dan sufi terkemuka (w. 111 M)  menjelaskan bahwa sifat as-salam bagi Allah mengandung makna bahwa Allah swt.  sangat jauh dari segala kekurangan. Allah mustahil berbuat kejahatan dan keburukan, karena itu jika seseorang yakin akan kesempurnaan Allah dan bahwa segala yang dilakukan-Nya adalah baik dan terpuji, maka seharusnya ia percaya bahwa tidak sedikit pun kejahatan dan keburukan yang bersumber daripada-Nya. Tentu saja keyakinan demikian akan menimbulkan rasa damai dalam batin manusia. Semakin kuat keyakinan tersebut bersemayam dalam batin kita semakin damai pula hati kita. Sebab, kita selalu yakin bahwa Allah selalu menuntun kita menuju kebaikan dan kebajikan, dan menghindarkan kita dari segala keburukan dan kejahatan.

Agar supaya kita selalu berada dalam tuntunan Allah menuju kebaikan dan kebajikan, kita hendaknya senantiasa melakukan muhasabah an-nafs (introspeksi diri). Introspeksi diri yang dilakukan secara rutin pada gilirannya akan menyadarkan kita betapa seringnya kita melenceng dari tuntunan Allah swt.

Kesadaran itu sangat penting untuk mengikat batin kita agar selalu waspada dalam langkah-langkah kita. Setiap langkah yang kita lalui harus dijalani dengan kesadaran bahwa itu menuju kebajikan, bukan menuju keburukan dan kejahatan. Hanya dengan cara itu kita dapat menikmati hidup pemberian Allah ini dengan penuh kedamaian.

Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak konsisten dalam perbuatannya. Dalam satu tarikan nafas seseorang berkata bahwa ia menginginkan kedamaian pikiran, kedamaian perasaan, dan kedamaian jiwa, namun pada tarikan nafas berikutnya ia sudah mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, ia sudah mengumbar emosi kemarahan. Lalu yang muncul, pasti bukan kedamaian, melainkan ketidakdamaian. Ketidakdamaian selalu berawal dari pikiran marah dan keras yang selanjutnya diekspresikan lewat kata dan perbuatan, lalu dalam waktu sekejap berkembang menjadi kekerasan yang tak terkendali.

Dalam kehidupan individu, ketidakdamaian dalam bentuknya yang paling umum mengambil bentuk depressi, stress dan berbagai tekanan hidup lainnya yang disebabkan oleh keluarga, pekerjaan, dan hubungan sosial. Ketidakdamaian dapat berkembang lebih serius dalam bentuk stress berat, kecanduan, penyelewengan, kejahatan, ketidakseimbangan emosi, dan bahkan penyakit jiwa.

Meskipun ilmu kedokteran telah membantu menghilangkan tanda-tanda stress, dan ilmu psychologi telah membantu untuk lebih mengerti jiwa, tetapi pencarian sesungguhnya atas spiritualitas yang berfungsi dan menguatkan yang dapat menghasilkan keadaan tenang dan rileks dalam diri seseorang terus berlanjut. Sumber-sumber spiritual diperlukan untuk memperkuat keahlian menanggulangi berbagai kemelut, khususnya menyangkut kemelut dalam hubungan antar pribadi.

Al-Ghazali (w. 1111 M) lebih jauh menjelaskan bahwa barangsiapa yang meneladani Allah dalam sifat as-Salam, ia dituntut untuk menghindarkan hatinya dari segala aib dan kekurangan, dengki dan hasad, serta menghindarkan hatinya dari semua keinginan untuk berbuat jahat.  Dengan ungkapan lain, barangsiapa yang hatinya selamat dari segala hal yang membawa kepada kejahatan dan keburukan, maka akan selamat pula seluruh anggota badannya.

Hal itu terjadi karena hati merupakan sentral dari semua perilaku manusia. Hati adalah cerminan diri manusia yang sesungguhnya. Jika hati itu baik, maka baik pulalah seluruh anggota tubuh lainnya. Demikian pula sebaliknya. Jika hati seseorang itu jahat,  maka jahat pulalah orang itu. Pandangan ini merujuk pada hadis Nabi saw: “Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal daging, bila ia baik maka baik pula seluruh anggota tubuhnya, tetapi jika ia jahat, jahat pulalah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwa gumpalan daging dimaksud adalah hati (Riwayat Bukhari dan Muslim).”

Berkenaan dengan kerja hati ini menarik dijelaskan bahwa begitu rahmannya Allah pada manusia, sehingga jika manusia berniat melakukan kebaikan segera dituliskan satu pahala untuknya, dan jika niat itu direalisasikan dalam bentuk perbuatan maka dituliskan sepuluh pahala baginya. Tetapi, jika manusia baru berniat jahat, Allah belum menuliskan dosa untuknya,  setelah niat itu dinyatakan dalam bentuk tindakan atau perbuatan, barulah satu dosa dituliskan untuknya.

Agaknya, langkah pertama untuk membanguan kedamaian di dunia harus dimulai dengan membangun kedamaian hati atau kedamaian dalam diri sendiri. Kedamaian dalam diri sendiri tidak bisa tidak harus bermula dari upaya yang sungguh-sungguh untuk mengenali diri sendiri. Tentu saja pengenalan diri sendiri selalu dimulai dengan langkah awal, yang tiada lain adalah mengenali gerak-gerik hati kita. Karena itu, berhentilah mencari kedamaian di luar diri. Kedamaian yang abadi bersemayam dalam relung hati yang paling dalam. Ia datang dari sumber kedamaian yang abadi dan itulah Allah swt, sang pencipta.

Untuk itulah Nabi saw. mengajarkan kita agar selalu melafazkan doa berikut:

اللهم أنت السلام ومنك السلام وإليك يعود السلام فحينا ربنا بالسلام وأدخلنا الجنة دار السلام تباركت ربنا وتعاليت يا ذا الجلال والإكرام.

(Ya Allah Engkaulah Yang Maha Damai, Engkaulah sumber kedamaian, kepada-Mu lah kembali kedamaian, hidupkanlah kami di dunia ini dengan penuh kedamaian, dan masukkanlah kami kelak ke surga-Mu, negeri yang penuh kedamaian.Engkau lah Yang Maha Suci, Maha Mulia, Maha Sempurna, dan Maha Pemurah).