Oleh: Musdah Mulia

 

Penghargaan Terhadap Manusia

Semua agama mengajarkan pemeluknya keharusan menghormati sesama manusia, serta pentingnya hidup damai dan harmonis di antara sesama. Jika demikian halnya, segala bentuk konflik, kekerasan, dan teror yang mengatasnamakan agama hendaknya diyakini sebagai bentuk ketidakmampuan manusia memahami ajaran agamanya secara utuh.

Dalam realitas sosiologis di masyarakat seringkali semangat keberagamaan yang tinggi tidak dibarengi dengan pemahaman yang dalam dari dimensi esoterik agama. Hal inilah yang membawa kepada sikap fanatik sempit dan fundamentalisme.

Islam memiliki ajaran yang menekankan pada dua aspek sekaligus; aspek vertikal dan horisontal. Aspek vertikal berisi seperangkat kewajiban manusia kepada Tuhan, sementara aspek horisontal berisi seperangkat tuntunan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan juga hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Puasa merupakan ibadah yang mengandung dua aspek sekaligus. Aspek vertikal puasa membawa seseorang menjadi lebih dekat kepada Tuhannya, dan refleksi kedekatan itu terbangun dalam aspek horisontal berupa rasa empati kepada sesama, khususnya para mustadh'afin (kelompok tertindas) dan juga memiliki kepedulian untuk melestarikan lingkungan hidup. Sayangnya, aspek horisontal ini banyak diabaikan dalam beragama.

Akibatnya, dimensi kemanusiaan yang merupakan refleksi aspek vertikal dari ibadah puasa kurang mendapat perhatian di kalangan umat Islam. Kondisi inilah, antara lain  yang kemudian membawa kepada penampilan wajah Islam yang sangar dan tidak humanis, juga tidak ramah terhadap perempuan.

 

Mengatasi konflik dengan dialog agama

Pada era globalisasi ini persoalan terbesar yang dihadapi umat beragama adalah konflik agama, baik dalam intern pemeluk agama maupun antaragama, karena umat beragama tidak lagi hidup dalam sekat-sekat yang terisolasi dari pengaruh dunia luar. Konflik antaragama merupakan fenomena yang memprihatikan, baik yang terjadi di luar maupun di dalam negeri. Di Bosnia, terlihat betapa menggenaskannya pertikaian antara penganut agama Katolik dan Islam. Konflik serupa, meskipun memiliki nuansa yang lain,  terjadi di Azerbaijan, Sudan, Kashmir, dan Sri Lanka. Sementara di dalam negeri sendiri hal yang sama mulai merisaukan, seperti terjadi di beberapa tempat sebelumnya.

Mencegah timbulnya berbagai konflik seperti di atas, sejumlah solusi ditawarkan, dan yang paling menjanjikan tampaknya adalah bagaimana menciptakan kondisi dan suasana yang memungkinkan terjadinya dialog di antara umat yang berbeda agama. Melalui dialog mereka diharapkan dapat saling mengenal dan memahami agama mitra dialog mereka masing-masing yang pada gilirannya nanti akan mencari sisi-sisi yang sama di antara ajaran agama yang berbeda itu untuk dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat. Untuk itu, perlu ada semacam gentleman agreement, yakni bahwa di antara pihak-pihak yang terlibat dalam dialog tersebut tidak akan saling mengintervensi atau saling mempengaruhi keyakinan masing-masing.

 

Perlunya membangun kesadaran pluralisme

Agar dialog agama dapat berjalan efektif dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh semua pihak, maka para pelaku dialog harus memiliki komitmen untuk menerima pluralisme. Inti pluralisme adalah toleransi, yaitu  kemampuan menahan diri agar potensi konflik dapat ditekan. Pluralisme adalah kesediaan menerima kemajemukan untuk kemudian terlibat secara aktif dalam mempertahankan kemajemukan tersebut sebagai sesuatu yang harus diterima.

Dalam konteks agama, pluralisme berarti setiap pemeluk agama harus berani mengakui eksistensi dan hak agama lain. Bukan hanya itu, juga bersedia aktif dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan berbagai agama menuju terciptanya suatu kerukunan dalam kemajemukan agama.

Hanya saja perlu diwaspadai agar pluralisme yang dicita-citakan itu tidak menjelma menjadi sinkretisme, kosmopolitanisme, dan relativisme. Untuk menghindari ketiga hal tersebut, maka pluralisme yang akan diwujudkan hendaknya beranjak dari komitmen yang kuat dari setiap pemeluk agama terhadap ajaran agama masing-masing.

Pluralisme yang berlandaskan loyalitas dan komitmen yang kuat terhadap ajaran agama masing-masing inilah sesungguhnya yang diajarkan Islam, seperti dilansir dalam Al-Qur`an surah Saba`, 34:24-26: Katakanlah wahai Muhammad: Siapakah yang memberimu rezki dari langit dan dari bumi? Katakanlah "Allah", dan sesungguhnya kami atau kamu (non-Muslim) pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata. Katakanlah kamu (non-Muslim) tidak akan bertanggung jawab tentang dosa yang kami perbuat, dan sebaliknya kami pun tidak akan ditanya tentang apa yang kamu perbuat. Katakanlah Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar dan Dialah Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui.

Tentu saja menciptakan suasana dialog yang diwarnai dengan toleransi dan pluralisme bukanlah perkara mudah, mengingat setiap agama memiliki klaim bahwa ajarannyalah yang paling benar dan paling selamat, namun justru itulah tantangannya. Terserah kepada umat beragama itu sendiri apakah mereka akan memilih hidup berdampingan secara harmonis ataukah membiarkan diri mereka tercabik-cabik oleh konflik yang sebenarnya dapat mereka elakkan.

 

Pluralisme mengajarkan penghormatan terhadap agama lain

Setiap agama memiliki dasar teologisnya sendiri untuk mengklaim kebenaran dirinya. Akan tetapi, dalam waktu yang sama semua agama juga mempunyai dasar teologis untuk menyatakan bahwa hanya Tuhan dan wahyulah yang merupakan kebenaran absolut.

Tugas manusia hanyalah menyampaikan kebenaran dan membuat interpretasi atas kebenaran yang diyakininya itu. Karena itu, interpretasi manusia atas wahyu menjadi kebenaran yang tidak mutlak atau nisbi belaka sejalan dengan keterbatasannya sebagai manusia. Setiap agama diyakini mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan untuk keselamatan manusia, bukan hanya di dunia ini melainkan juga di hari kemudian. Ironisnya dalam fakta empirik agama ternyata tidak selamanya membawa manusia kepada keselamatan, melainkan manusialah yang senantiasa menjaga keselamatan agama yang dipeluknya itu.

Seharusnya klaim seseorang atas kebenaran agamanya tidaklah harus membuat orang bersangkutan kehilangan respeknya pada realitas yang ada di sekelilingnya. Adalah suatu fakta yang tidak dapat dibantah bahwa di sekeliling kita hidup beragam agama dan kepercayan. Keberagamaan kita hendaknya mengantarkan kita menjadi orang yang respek pada penganut agama lain atau kepercayaan lain dan selanjutnya memandang keragaman agama dan kepercayaan itu sebagai asset bangsa yang sangat berharga.

Sejarah agama menuturkan bahwa agama selalu berkaitan dengan masalah sosial. Karena itu, agama dapat dilihat sebagai suatu sarana perubahan sosial. Konflik-konflik agama lebih sering merupakan manifestasi dari konflik sosial dengan simbol-simbol keagamaan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam hal nilai kemanusiaan dan sosial umumnya, banyak alasan bagi agama-agama untuk tidak saja hidup rukun dan bertoleransi positif, melainkan juga lebih jauh dari itu, yakni bekerjasama secara akrab dalam reformasi sosial, perubahan sosial atau transformasi sosial.

Sesungguhnya yang menjadikan masalah dalam setiap agama adalah bahwa di setiap agama sebagian besar penganutnya adalah awam dan hanya sedikit yang alim. Karena itu, peningkatan wawasan keagamaan di kalangan awam menjadi sangat relevan. Peningkatan wawasan umat yang awam itu bisa menjadikan iman dan takwanya berfungsi dengan baik yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas dan prestasi takwa mereka.

Dalam beragama diperlukan adanya suatu sikap hidup keagamaan yang relatif atau nisbi sebagai jalan keluar dari kemelut perpecahan dan pertentangan agama yang pasti merusak kesatuan dan persatuan bangsa. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa jika semua agama mengambil sikap yang sama maka dapatlah dijamin bahwa agama bukan lagi merupakan faktor pemecah belah yang akan membawa malapetaka bagi kehidupan manusia, melainkan sebagai faktor perekat yang akan menebarkan rahmat bagi semua manusia, bahkan bagi alam semesta.

Sikap hidup yang relatif seperti inilah  yang sangat dibutuhkan oleh setiap umat beragama di Indonesia sehingga mereka dapat berpartisipasi secara aktif dan bertangungjawab dalam usaha kesatuan dan persatuan bangsa dalam negara dan masyarakat Indonesia yang pluralistik berdasarkan Pancasila.  Karenanya, kebangkitan agama-agama jangan dilihat sebagai hal yang meresahkan selama kebangkitan tersebut dimaksudkan sebagai kebangkitan dari sikap absolutisme yang mematikan menuju sikap relativitas yang menghidupkan.

Kebenaran agama tidak hanya satu, melainkan banyak. Yang dimaksudkan  kebenaran agama di sini adalah apa yang ditemukan manusia dari pemahaman kitab sucinya sehingga kebenaran agama dapat beragam dan bahwa Tuhan merestui perbedaan cara keberagamaan umatnya yang dalam terminologi Islam disebut tanawu`al ibadah. Jika seluruh penganut agama telah memiliki kedewasaan sikap beragama seperti ini, yaitu sampai kepada pemahaman bahwa kebenaran agama tidak hanya satu, tentu saja tidak akan ditemukan kelompok-kelompok yang saling kafir-mengkafirkan yang berujung pada munculnya berbagai bentuk konflik dan diskriminasi agama di tanah air.

Dalam konteks Islam jelas sekali diajarkan bahwa keselamatan itu tidak hanya monopoli orang-orang Islam, melainkan juga milik orang lain. Surah al-Baqarah,2:62 secara tegas menyatakan: Sesungguhnya orang-orang Yahudi, orang-orang Nashrani, dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, serta beramal saleh, maka semua akan mendapatkan pahala dari Tuhan mereka dan tidak akan kuatir, tidak pula akan bersedih.

Sayangnya, manusia seringkali terlalu bersemangat untuk menyelamatkan sesamanya manusia dan lupa akan keterbatasan dan kelemahan dirinya  sehingga di antara mereka ada yang bersikap melebihi Tuhan, menginginkan agar seluruh manusia masuk ke dalam satu agama, bahkan satu aliran. Semangat yang menggebu-gebu itulah yang sering mengantarkan mereka memaksakan pandangannya dan keyakinannya pada orang lain, serta menganggap orang lain yang tidak sependapat dengan mereka sebagai kafir dan harus masuk neraka. Padahal Tuhan sendiri memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalannya sendiri. Siapa yang ingin percaya, silahkan dan siapa yang menolak, terserah juga baginya (Al-Qur`an).

Setiap agama menjanjikan kemaslahatan bagi manusia. Setiap penganut agama meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama itu adalah Tuhan Yang Maha Sempurna, Tuhan  yang tidak membutuhkan pengabdian manusia. Ketaatan dan kedurhakaan manusia tidak menambah atau mengurangi kesempurnaan-Nya. Tuhan sedemikian besar sehingga rahmat-Nya pasti menyentuh  seluruh makhluk-Nya.

Sedemikian agungnya Tuhan sehingga manusia tetap diberi kebebasan untuk menerima atau menolak petunjuk agama, dan karena itu pula Dia menuntut ketulusan beragama dan tidak membenarkan paksaan dalam bentuk apapun, baik nyata maupun terselubung.

Wallahu a`lam bi al-shawab.