Manusia sebagai makhluk biologis memiliki berbagai kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan seksual. Terkhusus dalam perihal seksualitas, manusia memiliki dorongan syahwat yang muncul bersamaan dengan masa baligh dan bersifat instinktif (alamiah/sunnatullah). Gejolak itu semestinya dirawat dan diarahkan sesuai dengan aturan-aturan syari’at. Sebab, salah satu kelemahan terbesar manusia adalah persoalan seksual. Maksud dari kelemahan di sini ialah problem dalam mengendalikan naluri seksual yang kemudian membawa pada pelampiasan secara tidak sah, brutal, dan biadab serta penyimpangan seksual yang tak beraturan. Maka wajar apabila Al-Qur’an memberikan aturan-aturan yang sesuai dengan martabat kemuliaan manusia.

Berkaitan dengan seks, permasalahan yang banyak didiskusikan akhirakhir ini yaitu tentang homoseksualitas. Beberapa kalangan memandang homoseksualitas merupakan perbuatan sangat rendah dan dianggap melampui batas, yang dalam Al-Qur’an termsuk dalam katagori fahisyah (perbuatan keji). Demikian juga disebut dengan tindakan yang melampui batas (israf)2. Bahkan pengutukan atau pelaknatan yang dilakukan Tuhan sangatlah keras kepada para pelaku homoseksualitas (liwat) yang layak diberikan hukum yang amat mengerikan untuknya.3 Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, “Allah melaknat siapa saja yang melakukan perbatan kaum Luth, (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali).” (HR. Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra).

Selengkapnya unduh dokumen di sini